Jumat, 02 Mei 2008

Istri yang Kurang Bersyukur



Hanya karena mengikuti nafsu di dunia saja, ia lupa akan tugas dan fungsi sebagai istri. Maka akan menyesallah mereka nantinya diakherat

Di dalam Islam, kewajiban suami adalah memberi nafkah cukup, rumah yang layak, bertanggung jawab hampir semua urusan rumah tangga, serta melindungi seluruh keluarga. Begitu juga dengan seorang istri, ia mempunyai tugas sepenuhnya melayani kebutuhan suami, menghormati dan menjadikan “perhiasan dunia” bagi seorang suami.
Tapi ada juga istri yang mau membantu pekerjaan rumah tangga sehari-hari setelah ada kesepakatan bersama, karena “mungkin” suami belum atau tidak sanggup mencarikan pembantu, mengerjakan sendiri dalam melakukan pekerjaan sehari-hari seperti urusan anak, dapur dan lainnya, karena hasil yang pas-pasan. Bagi istri yang rela dan ikhlas ikut membantu mengerjakan urusan rumah tangga ini adalah suatu pahala tersendiri dari Allah SWT.

Kurang Bersyukur
Namun masih banyak kita jumpai ada istri yang tidak pernah merasa bersyukur atas pemberian suami, dia tidak pernah mau menyatakan ucapan-ucapan terimakasih kepada suami, yang dilontarkan hanyalah kekurangan bahwa suaminya tidak pernah mencukupi apa yang ia inginkan. Dari beberapa sikap ini akhirnya dapat menjadikan suasana rumah tangga yang kurang kondusif, tidak tenteram dan sering timbul percekcokan. Biasanya istri-istri yang seperti ini berasal dari golongan keluarga mampu. Mereka sejak kecil sudah terbiasa dengan kehidupan yang manja, segala fasilitas seperti kendaraan, uang jajan, aneka hiburan, semua keinginan serba terpenuhi dan suasana kehidupan yang serba mewah. Ketika ia mulai mengarungi bahtera rumah tangga maka babak barupun segera berubah. Ternyata suaminya tidak mampu memberikan apa yang ia dapatkan seperti dulu. Akhirnya dirinya tidak siap dengan keadaan, hatinya akan “kaget”, sulit beradaptasi, apalagi jika sang istri mampu mencari nafkah sendiri yang jauh lebih besar dari suami, atau kedudukan istri lebih tinggi baik pekerjaan, pendidikan atau kedudukan.

Jika ini dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan kerugian-kerugian dalam rumah tangga seperti, ketegangan hubungan antara suami-istri, suami merasa jengkel karena merasa diremehkan, istri selalu dibayangi rasa kekurang puasan. Akibatnya keretakan rumah tangga mulai timbul, anak-anak ikut terhanyut didalamnya karena merasakan suasana tidak harmonis, tentram dirumah sehingga kemungkinan lebih senang mengikuti pola hidup liar di luar rumah, broken home.

Sabda Nabi SAWhalAllohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: "Diperlihatkan kepadaku neraka, maka sebagian besar penghuninya adalah para wanita yang kufur. Dikatakan :'' Apakah mereka kufur kepada Allah Rasullah menjawab : Mereka kufur terhadap suami mereka dan mereka mengingkari kebaikan suami mereka. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia (wanita tersebut) melihat sesuatu (yang tidak disukainya), ia akan berkata : Aku sama sekali belum pernah melihat mu." (HR: Bukhari dan Muslim)

Bom Waktu yang Siap Meledak
Yang lebih fatal lagi, ketika suami bingung kepada siapa ia akan ‘curhat’, ia akan berpaling kepada wanita lain yang dapat memberikan solusi, pujian, kesejukan, bahkan “penawar” hatinya. Akhirnya suami akan terjerat pada wanita lain, menjauhi istri dan mungkin keluarganya. Karena bagi suami, istri merupakan suatu kehangatan, penawar, sekaligus teman sepenanggungan untuk mencari dan memecahkan solusi terbaik setiap permasalahan sekaligus pengobat stres dan kepenatan. Kalau sudah begini ibarat bom waktu yang bisa meledak kapanpun juga.

Ikhlas
Mengetahui dampak-dampak seperti ini alangkah baiknya dengan kerendahan hati, keikhlasan semua karena Allah, ibarat orang Jawa “lilo-legowo” secepatnya mencari solusi berupaya untuk menghilangkan perilaku tersebut.

Bersyukurlah dengan apa yang sudah diberikan suami. Dekatlah dengan orang-orang yang alim, bijaksana, mengerti agama agar dapat memahami tuntunan mengenai perilaku istri yang baik dan benar menurut syari’at Islam, mengetahui apa, bagaimana hak dan kewajiban istri.Kemudian mengamati dan memperhatikan kehidupan keluarga-keluarga lain yang nasibnya lebih tidak beruntung dari pada dirinya dengan berdialog, curhat dengan para istri mereka dalam batas-batas tertentu. Karena sangat diharamkan jika istri membuka aib suaminya sendiri didepan orang lain.

Karena itu hendaknya seorang isteri tidak mengurangi ketaatan kepada suaminya, sedangkan asal ketaatan adalah dalam hal-hal yang ma''ruf (sesuai syar''i). Hal ini sesuai dengan sabda Rasul ShalAllohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya kurang lebih: "Tidaklah ketaatan itu kecuali yang ma''ruf''
Selanjutnya istri memberikan pelayanan kepada suami dirumahnya, dan membantunya untuk mendapatkan rasa hidup yang indah, maka sesungguhnya hal itu mebantunya (suami) untuk bisa mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiranya untuk melaksanakan kewajibannya. Begi juga dengan suami, tidak boleh membebani apa yang diluar batas kemampuannya. sementara jika suami bisa melakukannya.

Diancam Bidadari
Hendaknya isteri bersyukur (berterima kasih) atas segala kebaikan suami kepadanya dan janganlah isteri mengingkari kebaikan suaminya, maka sesunguhnya yang demikian itu akan mendatangkan kebencian dari Allah, karena Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: "Alloh tidak mau melihat wanita yang tidak tahu terima kasih kepada suaminya sedang ia (wanita) tidak merasa cukup kepadanya (suaminya). Penghuni surga yang paling sedikit adalah dari kalangan wanita" (HR: Muslim dan Akhmad)
Tidak pantas seorang wanita yang mencari keselamatan kemudian menyelisihi suami kepada yang selain diberikan suami dengan kufur atau mengingkari kebaikan suaminya atau banyak mengeluh karena sebab-sebab yang sangat sepele. Dan wanita mana yang saja yang menyakiti suaminya akan dilaknat para bidadari (wanita-wanita surga yang disediakan sebagai istri-istri pria beriman) maka ia (wanita) akan berada dijurang kehancuran jika terus menerus melakukan perkara yang dilarang itu.

Sesuai dengan sabda Rasululloh ShalAllohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: "Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, kecuali berkata istrinya yang dari bidadari : Janganlah kau sakiti dia (suami) - semoga Allah mencelakakanmu - maka tidak lain dia (suami) disisimu hanya seorang asing yang sebentar lagi akan meningalkanmu menuju kami." (HR: AT- Tirmizi, Ibnumajah, dan Akhmad).

Hadits ini merupakan peringatan penting bagi para wanita yang beriman kepada Allah dan bagi wanita yang mengaharapkan kehidupan mulia di akherat, maka sadarlah...segeralah bertobat.










.

4 komentar:

Cyber News mengatakan...

bagus....bagus......
kayaknya koq perhatian banget ama istri, apa pengen istri dua.....

buka blog baru kami Semarang Extreme Cyber Community :
Snexcommunty.blogspot.com

Unknown mengatakan...

wah hebat ya anda ternyata pemerhati istri.
Oya ngomong - ngomong saya kayaknya tertarik dengan tulisan2 anda. gimana kalo anda saya ajak kerja sama dalam sebuah penerbitan.
ini email saya : diantamara2008@yahoo.com. silakan anda kontak saya kalo anda berminat.

putri mengatakan...

trimaksih byk ya semua menngingatkan sya akannanti kwajibban saya mengurus suami saya nanti insya Allah,o iya mampir ke blog putri ya http;//maribangkitbersamaodrm.blogspot.com

Unknown mengatakan...

Pak sy bisa konsultasi g? Shazuke74@gmail.com