Rabu, 09 April 2008

Pelan, Halus, Samar Namun Tepat Sasaran



Teknik danrmodalnya sangat luar biasa. Tanpa memperhitungkan berapa rupiah yang harus mengucur. Secara perlahan-lahan dekat, lalu mulai masuk, di dekati, lalu dijebak, dijaring,......ya’.... maka masuklah mereka

Jika di lihat letak geografisnya, kabupaten Malang berada di tengah-tengah basis kaum tradisional, maka tidak heran jika pengaruh Islam sangat kuat dan mengakar. Tetapi siapa yang menyangka, dibalik kebesaran bendera kaum tradisional itu, tersusupi “duri-duri” salibis.

Berkedok KKN
Kejadian ini bermula ketika para mahasiswa teologis Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) KKN di desa-desa terpencil yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Salah satu sasarannya adalah desa yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri Pait, Kesamben Kabupaten Malang. Sebenarnya desa ini lebih dulu didatangi mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang untuk menggarap bidang sosial, agama dan pendidikan. Namun dari UKWK mengambil alih bidang pendidikan dengan memasuki beberapa madrasah Ibtida’iyah dan menghapus lafadz Bismillah di papan tulis salah satu kelas. Bentrokanpun tidak bisa dihindarkan meski akhirnya dapat didamaikan dan UKWK pergi. Tapi dua bulan kemudian datanglah mahasiswa dari Institut Injil Indonesia dari kota Batu, Malang untuk penelitian di peternakan milik Yohanes Sukirno seorang pendeta di ujung bukit desa tersebut.

Modal yang Besar
Dari sinilah skenario dimulai. Mereka aktif mendatangi rumah-rumah warga untuk menawarkan program dasa wisma,pengarahan dan bimbingan belajar untuk putra-putrinya yang kebanyakan bersekolah di Madrasah Ibtida’iyah. Sedangkan aksi Sukirno lain lagi. Dengan dibantu para mahasiswa, ia sering meminjamkan sapi betina dan pejantan kepada warga yang mau ikut sekolah minggu. Ketika sapi tersebut beranak, maka anak hewan itu menjadi hak warga yang memeliharanya, berapapun jumlahnya. Ia pun juga menawarkan jenis sapi perah untuk dimanfaatkan susunya untuk dijual Koperasi Unit Desa (KUD). Semakin lama rumah Sukirno ramai dan dijadikan tempat kebaktian. Ia juga tak segan - segan mendatangkan para jemaat dari luar kota untuk meramaikan kebaktian, bahkan sekarang sudah ada penginjil asli putra daerah desa itu yang sebelumnya muslim.

Mendatangkan ‘Pasukan’
Untuk merapatkan barisannya, Sukirno mendatangkan misionaris muda berdarah Ambon alumnus sebuah sekolah teologi di Karanglo, Malang yaitu Pendeta Richard. Selain mendekati para peternak, para pelayan salib ini juga mengincar jalur pendidikan. Mereka sangat giat menebar pesona dan misi di Sekolah Dasar Pait I, mendekati para guru dan menawarkan bantuan bimbingan belajar privat komputer, bahasa inggris dan pelajaran lainnya secara gratis kepada para siswa.

Aparat yang Apatis
Namun, anehnya aparat desa seakan tak peduli dengan apa yang terjadi. Modin desa pun juga ikut-ikutan menutupi dengan dalih hanya pengin kenal, silaturrahmi, demi kemajuan rakyatnya, iktikad baik, menambah persaudaraan dan ini....dan itu........ pokoknya ada saja alasannya. Di satu sisi aparat seakan tak peduli, tutup mata dengan bahaya kristenisasi yang mengancam kaum Muslimin di wilayah itu. Mereka melupakan suara-suara warga yang mulai resah dengan kehadiran para salibis itu. Apalagi jika Kristenisasi itu semakin menggunakan cara-cara yang halus dan penuh tipu daya. Keresahan masyarakat ini rupanya kurang disikapi oleh aparat dengan tegas.


Tidak ada komentar: