Rabu, 09 April 2008

Insaf Ketika “Tumbal” di Dapat



Sejak kecil ia tidak pernah kenal agama. Prinsipnya “Asal berbuat baik dengan sesama orang pasti dapat kehidupan layak setelah mati”. Itulah yang membuatnya suka menolong kepada orang yang membutuhkan. Di sisi lain, orang tuanya yang berprofesi sebagai “orang pintar”, mempengaruhi hidupnya, maka tak heran jika Sumarno sangat getol ‘menelisik’ tempat-tempat yang di anggap wingit. Sejak SLTP, ia sudah sampai ke Bukit Bumi Arum, Majasto, Sukoharjo mencari wangsit. Hingga tamat SMA, setiap Selasa Kliwon rajin sekali melakukan ‘topo broto’ di makam eyang Sutowijoyo tersebut.
Semangat yang tak kenal lelah akhirnya membuahkan hasil. Menurut pengakuannya, ketika pada suatu malam saat ia duduk semedi di pusara eyang Suto, muncullah cahaya putih dari langit, jatuh persis di depannya di susul bisikan halus yang menyuruhnya untuk pergi ke Gunung Jabalkat, Tembayat, Klaten (makam Ki Ageng Pandanarang) saat itu juga. Di situlah ia mendapatkan pusaka sakti berupa sebilah keris tua karatan, selanjutnya di bawa pulang dengan berjalan kaki dari Klaten hingga Semarang yang kemudian di laksanakan ritual khusus.
Sumarno baru mengetahui keampuhan benda tersebut ketika bayi tetangganya menangis terus-menerus pada malam hari. Dengan memberanikan diri untuk menolong, maka dicelupkanlah keris tersebut kedalam air putih sambil memberinya mantra. Ketika Qonsis menanyakan mantra apa yang dibaca, dengan tersenyum ia menjawa, ‘Ya khayyu,ya qowiyyu matek aji ing papating angin, sedulur bayu kembar, brojo kasebat ratu songo, munjuk dateng eyang Ismoyo.......” , dan cep-klakep si bayi diam dan tidur.
Sejak saat itu nama Sumarno mulai ‘naik daun’. Dari mulut kemulut masyarakat semakin berdatangan untuk minta ‘tolong’. Mulai dari pengobatan, mengusir jin, menanyakan hari, pasaran, weton jodoh “sebehan” (ilmu kanuragan). Pasiennyapun bukan hanya rakyat biasa. Para pejabat, lurah, pengusaha himgga preman datang minta dibuatkan sabuk “pagar keselamatan” atau mencari “nomor jitu”. Bahkan pada tahun 1995 lalu, penulis (ketika itu belum insaf) pernah datang untuk meminta tolong keselamatan istrinya yang sedang mengandung. Rumahnya yang berada ditengah hutan jati kawasan Singorojopun kian ramai dikunjungi orang. Ekonomi keluarga Sumarnopun kian menanjak, rumah bertingkat dan L-300 keluaran kini dimilikinya.
Namun di balik kesuksesan Sumarno, Allah berkehendak lain. Ditengah pamornya yang kian membumbung anak keduanya meninggal karena kecerlakaan di jalan raya Semarang-Boja. Setahun kemudian ganti anak ketiganya mati terserempet kereta api di lintasan Randugarut, Mangkang. Setahun kemudian disusul istrinya terkena strooke hingga meninggal, lengkaplah penderitaan Sumarno. Di balik kesuksesan karirnya ternyata ia harus menanggung kerugian yang tidak seimbang. Batinnya terpukul, tidak menentu, hari-hari dilaluinya dengan melamun dan bersedih. Istri dan anaknya seolah menjadi tumbal ilmunya. Kamar praktek yang dulunya dipuja kini ditutup rapat-rapat, puluhan bahkan ratusan pasien gigit jari setiap kali datang.

Pada suatu hari ketika melihat dan mendengar ceramah di televisi, tiba-tiba tertarik dan hatinya mulai tergugah. Salah satu acara yang sebelumnya kurang menarik bagi dirinya, kini pelan-pelan sudah masuk kehatinya sehingga setiap harinya selalu mengikuti ceramah-ceramah Islam. Akhirnya pada suatu hari untuk yang pertama kali sepanjang hidupnya ia memasuki masjid, menunaikan sholat Jum’at meski belum tahu apa yang harus di baca. Dua hari kemudian ia mengikuti sholat Idul Fitri. Di sinilah air matanya mengalir deras, menangis sesenggukan, di samping teringat anak istrinya, juga sadar bahwa selama ini ia telah melakukan dosa yang sangat-sangat besar yaitu syirik.
Pak Asrowi, salah satu tetangganya mendekati dan menasehati, lalu diajaklah ia ke mbah kyai Dimyati Kaliwungu. Dari situlah pelan-pelan ilmu agama dan tauhid mulai dipahami. Belum genap setahun pemahamannya sudah berubah, kini Sumarno rajin kemasjid, mengikuti ceramah-ceramah. Di sisi lain harta benda yang dulu diperoleh dari prakterk perdukunan kini sudah habis entah kemana. Hidupnya sederhana, mencari penghasilan halal sebagai sopir angkutan sayur dari Sumowono-Bandungan hingga Semarang (pasar Kanjengan) tanpa meninggalkan ibadahnya. Ketika Qonsis menemuinya di parkiran pasar, ia terharu, menangis namun gembira telah sadar.





Tidak ada komentar: