Minggu, 23 Desember 2007

Mencari Keridhoan Allah Dari Amal dan Sedekah



Sudahkan kita menyadari amal atau sedekah yang selama ini kita keluarkan hanya semata-mata ikhlas untuk mencari ridho Allah ?

Sebenarnya di kehidupan sehari-hari, manusia memberi amal atau sedekah mempunyai niat atau arti yang beraneka ragam. Dari mulai yang kecil, dengan memberi makan tetangga, uang kepada pengemis dijalan hingga sampai yang menyumbang bahkan mendirikan masjid atau madrasah. Sebenarnya perbuatan ini mulia dan Allah akan memberi balasan yang berlipat jika semua dilandasi dengan rasa ikhlas. Apalagi jika hasilnya dipakai secara terus-menerus, maka pahalanya akan semakin bertambah.Tapi, diluar dari semua ini mereka banyak yang tidak menyadari bahwa semua yang dikerjakan tersebut mengandung resiko godaan yang akan menghapus pahala dari perbuatan itu sendiri. Niat yang semula ikhlas dan ridho hanya untuk Allah sudah melenceng tanpa kita rasa.

Misalnya niat hati menyumbang untuk pembangunan masjid dengan ikhlas untuk kemaslahatan umat. Tapi ketika disitu hadir seorang tokoh yang disegani atau pembesar hadir, tanpa disengaja dalam hati kita sedikit saja merasa bangga jika sumbangannya diketahui mereka yang berujung dengan harapan mendapat perhatian atau sanjungan. Kemudian contoh yang lain misalnya. Kita memberi sedekah seorang pengemis dengan jumlah yang banyak dengan niat hati yang ikhlas karena hanya mengharap pahala dari Allah. Tanpa sengaja kita ceritakan kepada orang lain tentang perbuatannya tadi.

Dari sinilah setan membuat jebakan godaan halus melalui sifat yang dinamakan ‘pamer’ yang berujung riya dan berakibat hangusnya pahala amalan. Berapapun amalan seseorang, jika sudah terkontaminasi penyakit yang dinamakan riya maka akan sia-sialah mereka. Setelah kita mengetahui semua ini, lalu apa yang harusa kita lakukan ?

Sebenarnya mudah dan gampang yaitu, ilmu dan ikhlas dalam hal ibadah yang harus seimbang dan jangan sampai dipisahkan. Ilmulah yang menjadi pegangan dan pembimbing manusia untuk mengetahui kebenaran. Bagaimanapun tekunnya seseorang melaksanakan ibadah jika tidak dilandasi dengan ilmu yang benar, maka ia akan tersesat. Berbeda dengan ilmu yang benar sudah dimiliki, maka seseorang dalam menjalankan ibadah sesuai dengan tinggal bagaimana kita menjalankan ibadah yang benar hingga akhirnya timbullah rasa keikhlasan dari dalam hatinya. Dari sini seseorang akan menyadari dan tahu bagaimana sikap ikhlas yang menuntun jiwa kita hanya untuk melakukan sesuatu karena Allah, bukan karena ingin disanjung atau dipuji.

Tidak ada komentar: