Hanya karena mengikuti nafsu di dunia saja, ia lupa akan tugas dan fungsi sebagai istri. Maka akan menyesallah mereka nantinya diakherat Di dalam Islam, kewajiban suami adalah memberi nafkah cukup, rumah yang layak, bertanggung jawab hampir semua urusan rumah tangga, serta melindungi seluruh keluarga. Begitu juga dengan seorang istri, ia mempunyai tugas sepenuhnya melayani kebutuhan suami, menghormati dan menjadikan “perhiasan dunia” bagi seorang suami. Tapi ada juga istri yang mau membantu pekerjaan rumah tangga sehari-hari setelah ada kesepakatan bersama, karena “mungkin” suami belum atau tidak sanggup mencarikan pembantu, mengerjakan sendiri dalam melakukan pekerjaan sehari-hari seperti urusan anak, dapur dan lainnya, karena hasil yang pas-pasan. Bagi istri yang rela dan ikhlas ikut membantu mengerjakan urusan rumah tangga ini adalah suatu pahala tersendiri dari Allah SWT. Kurang Bersyukur Namun masih banyak kita jumpai ada istri yang tidak pernah merasa bersyukur atas pemberian suami, dia tidak pernah mau menyatakan ucapan-ucapan terimakasih kepada suami, yang dilontarkan hanyalah kekurangan bahwa suaminya tidak pernah mencukupi apa yang ia inginkan. Dari beberapa sikap ini akhirnya dapat menjadikan suasana rumah tangga yang kurang kondusif, tidak tenteram dan sering timbul percekcokan. Biasanya istri-istri yang seperti ini berasal dari golongan keluarga mampu. Mereka sejak kecil sudah terbiasa dengan kehidupan yang manja, segala fasilitas seperti kendaraan, uang jajan, aneka hiburan, semua keinginan serba terpenuhi dan suasana kehidupan yang serba mewah. Ketika ia mulai mengarungi bahtera rumah tangga maka babak barupun segera berubah. Ternyata suaminya tidak mampu memberikan apa yang ia dapatkan seperti dulu. Akhirnya dirinya tidak siap dengan keadaan, hatinya akan “kaget”, sulit beradaptasi, apalagi jika sang istri mampu mencari nafkah sendiri yang jauh lebih besar dari suami, atau kedudukan istri lebih tinggi baik pekerjaan, pendidikan atau kedudukan. Jika ini dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan kerugian-kerugian dalam rumah tangga seperti, ketegangan hubungan antara suami-istri, suami merasa jengkel karena merasa diremehkan, istri selalu dibayangi rasa kekurang puasan. Akibatnya keretakan rumah tangga mulai timbul, anak-anak ikut terhanyut didalamnya karena merasakan suasana tidak harmonis, tentram dirumah sehingga kemungkinan lebih senang mengikuti pola hidup liar di luar rumah, broken home. Sabda Nabi SAWhalAllohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: "Diperlihatkan kepadaku neraka, maka sebagian besar penghuninya adalah para wanita yang kufur. Dikatakan :'' Apakah mereka kufur kepada Allah Rasullah menjawab : Mereka kufur terhadap suami mereka dan mereka mengingkari kebaikan suami mereka. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia (wanita tersebut) melihat sesuatu (yang tidak disukainya), ia akan berkata : Aku sama sekali belum pernah melihat mu." (HR: Bukhari dan Muslim) Bom Waktu yang Siap Meledak Yang lebih fatal lagi, ketika suami bingung kepada siapa ia akan ‘curhat’, ia akan berpaling kepada wanita lain yang dapat memberikan solusi, pujian, kesejukan, bahkan “penawar” hatinya. Akhirnya suami akan terjerat pada wanita lain, menjauhi istri dan mungkin keluarganya. Karena bagi suami, istri merupakan suatu kehangatan, penawar, sekaligus teman sepenanggungan untuk mencari dan memecahkan solusi terbaik setiap permasalahan sekaligus pengobat stres dan kepenatan. Kalau sudah begini ibarat bom waktu yang bisa meledak kapanpun juga. Ikhlas Mengetahui dampak-dampak seperti ini alangkah baiknya dengan kerendahan hati, keikhlasan semua karena Allah, ibarat orang Jawa “lilo-legowo” secepatnya mencari solusi berupaya untuk menghilangkan perilaku tersebut. Bersyukurlah dengan apa yang sudah diberikan suami. Dekatlah dengan orang-orang yang alim, bijaksana, mengerti agama agar dapat memahami tuntunan mengenai perilaku istri yang baik dan benar menurut syari’at Islam, mengetahui apa, bagaimana hak dan kewajiban istri.Kemudian mengamati dan memperhatikan kehidupan keluarga-keluarga lain yang nasibnya lebih tidak beruntung dari pada dirinya dengan berdialog, curhat dengan para istri mereka dalam batas-batas tertentu. Karena sangat diharamkan jika istri membuka aib suaminya sendiri didepan orang lain. Karena itu hendaknya seorang isteri tidak mengurangi ketaatan kepada suaminya, sedangkan asal ketaatan adalah dalam hal-hal yang ma''ruf (sesuai syar''i). Hal ini sesuai dengan sabda Rasul ShalAllohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya kurang lebih: "Tidaklah ketaatan itu kecuali yang ma''ruf'' Selanjutnya istri memberikan pelayanan kepada suami dirumahnya, dan membantunya untuk mendapatkan rasa hidup yang indah, maka sesungguhnya hal itu mebantunya (suami) untuk bisa mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiranya untuk melaksanakan kewajibannya. Begi juga dengan suami, tidak boleh membebani apa yang diluar batas kemampuannya. sementara jika suami bisa melakukannya. Diancam Bidadari Hendaknya isteri bersyukur (berterima kasih) atas segala kebaikan suami kepadanya dan janganlah isteri mengingkari kebaikan suaminya, maka sesunguhnya yang demikian itu akan mendatangkan kebencian dari Allah, karena Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: "Alloh tidak mau melihat wanita yang tidak tahu terima kasih kepada suaminya sedang ia (wanita) tidak merasa cukup kepadanya (suaminya). Penghuni surga yang paling sedikit adalah dari kalangan wanita" (HR: Muslim dan Akhmad) Tidak pantas seorang wanita yang mencari keselamatan kemudian menyelisihi suami kepada yang selain diberikan suami dengan kufur atau mengingkari kebaikan suaminya atau banyak mengeluh karena sebab-sebab yang sangat sepele. Dan wanita mana yang saja yang menyakiti suaminya akan dilaknat para bidadari (wanita-wanita surga yang disediakan sebagai istri-istri pria beriman) maka ia (wanita) akan berada dijurang kehancuran jika terus menerus melakukan perkara yang dilarang itu. Sesuai dengan sabda Rasululloh ShalAllohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: "Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, kecuali berkata istrinya yang dari bidadari : Janganlah kau sakiti dia (suami) - semoga Allah mencelakakanmu - maka tidak lain dia (suami) disisimu hanya seorang asing yang sebentar lagi akan meningalkanmu menuju kami." (HR: AT- Tirmizi, Ibnumajah, dan Akhmad). Hadits ini merupakan peringatan penting bagi para wanita yang beriman kepada Allah dan bagi wanita yang mengaharapkan kehidupan mulia di akherat, maka sadarlah...segeralah bertobat. . |
Tampilkan postingan dengan label jendela keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jendela keluarga. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 Mei 2008
Istri yang Kurang Bersyukur
Kembali ke ASI
Saat bangsa-bangsa lain sudah kembali ke ASI, bangsa ini masih bingung oleh urusan susu formula. Indonesia bisa terbilang lambat dengan program kembali menyusui anak-anak. Hal itu terjadi karena di negara lain, ruang gerak susu formula sangat dibatasi agar bayi-bayi generasi penerus bisa mendapatkan makanan terbaik, yaitu air susu ibu (ASI). Tapi, di Indonesia, justru susu formula sangat gencar dipromosikan bahkan di sejumlah rumah sakit atau panti-panti bersalin. Promosi dan pemasaran besar-besaran susu formula dengan AA , DHA, vitamin ini-itu, yang katanya bisa menjadikan anaknya cerdas seolah menenggelamkan kampanye ASI yang memunculkan image di masyarakat bahwa, susu formula lebih baik dibanding ASI. Dampaknya, banyak kaum ibu menaruh harapan pada susu formula. Mereka berlomba-lomba memberikan yang terbaik, terbagus bahkan termahal demi putranya. Di sana-sini selalu terdengar dengan bangga cerita-cerita bagaimana anaknya bisa menghabiskan susu sekaleng dalam 3 hari dibandingkan dia menceritakan nikmatnya menyusui sang buah hati Mereka telah lupa dengan kodrat seorang ibu yang harus memberikan kasih sayang penuh anaknya, khususnya pemberian ASI. Anak yang seharusnya mendapatkan sumber makanan sehat, bergizi dan penuh nutrisi sebelum dua tahun harus menerima susu binatang bercampur kimia pabrik. Masyarakat tidak sadar, bukankah susu kaleng itu adalah susu sapi, binatang yang memakan rumput. Kalau manusia adalah makhluk sempurna dengan akal yang tinggi, cerdas, makan nasi, telur, daging, sayur, buah dan lainya yang tentu saja lebih komplit kenapa harus lebih bangga dengan putranya meminum susu binatang. Rahasia di Balik ASI Tahukah, bawa Allah menciptakan ASI merupakan suatu spesifik spesies yang khusus dibuat hanya untuk bayi manusia, hanya untuk bayi sang Ibu, bahkan lebih jauh lagi, ASI yang keluar setiap tetesnya memiliki kandungan berbeda yang khas, persis sempurna sesuai dengan kebutuhan bayi seorang ibu pada saat itu jauh lebih baik dari susu formula. Seorang wanita akan merasakan sebagai ibuyang sempurna setelah dapat memberikan ASI pada bayinya. Di sisi lain banyak kaum wanita yang akan merasakan sendiri secara langsung ketika pertama kali si bayi menemukan puting payudara ibunya lalu menghisap ASI. Dari sini akan muncul suatu hubungan atau ikatan batin yang sangat dekat dan kuat antara ibu dengan si buah hati. Secara tidak sadar ini juga akan menumbuhkan kembali tenaga si ibu yang telah habis usai proses persalinan. Sedangkan di tinjau dari sisi ekonomis, ASI jauh dari segalanya di banding susu formula meskipun yang paling mahal. Komposisi yang paling lengkap, tidak terkontaminasi bakteri, praktis, tidak repot menyiapkan air panas dan sterilkan botol. Karena itu selama masih bisa memberikan ASI, kenapa harus dengan susu formula? * * * ASI di Atas Segalanya Susu Formula Allah menciptakan ASI dengan berbagai kandungan di dalamnya yang akan membuat anak lebih cerdas, dan membentuk suatu imunisasi atau kekebalan berbagai penyakit. Hasil penelitian para pakar kesehatan semakin lama bayi diberikan ASI (2 tahun) makin kecil pula kemungkinan masuknya beberapa jenis penyakit, seperti leukimia dan limfoma pada anak, diabetes, gangguan pencernaan dan diare, infeksi telinga, infeksi pernafasan, pneumonia, asma, eksim, meningitis, rematik, osteoporosis, kanker payudara dan indung telur, kolesterol yang lebih rendah, dan obesitas pada bayi itu sendiri hingga masa kanak-kanak dan remaja dengan catatan si ibu sehat dengan gizi penuh. ASI sangat kaya akan kandungan, seperti lemak atau AA (arachidonic acid/asam arakidonat) , DHA(docosahexaenoic acid)), karbohidrat, protein, vitamin, mineral, enzim, hormon dan zat antibodi. Semua ini sangat dibutuhkan pada otak bayi yang sudah terbentuk 90 persen saat lahir untuk proses mielinisasi (pembentukan selaput mielin atau selimut serabut saraf yang membutuhkan laktosa atau zat gula dari susu) dan sinaptogenesis (pembentukan susunan sistem saraf pusat yang membutuhkan DHA dan AA) pada dua tahun pertama perkembangannya. Namun semua itu baru aktif bila ada beberapa enzim laktase dan lipase dari ASI. Sedangkan enzim-enzim tersebut tidak pernah di temukan pada susu formula jenis dan semahal apa pun, meski dibuat semirip mungkin dengan ASI. Sebaliknya, bermacam-macam kandungan yang di miliki susu formula, semuanya sudah ada di dalam ASI. Di sisi lain susu formula yang berasal dari susu sapi kandungan komposisinya tidak pernah berubah. Semuanya di samaratakan bagi setiap bayi dan pada tingkatan umur yang sama. Sedangkan kebutuhan bayi satu dengan yang lainnya tidak sama. Perbandingan IQ Anak ASI dan Non-ASI - Pada usia 18 bulan, anak yang diberi ASI memiliki IQ 4,3 poin lebih tinggi dibanding anak yang tidak diberi ASI - Pada usia tiga tahun, anak yang diberi ASI memiliki IQ 4-6 poin lebih tinggi dibanding anak yang tidak diberi ASI Pada usia delapan setengah tahun, anak yang diberi ASI memiliki IQ 8,3 poin lebih tinggi dibanding anak yang tidak diberi ASI. Maka tdak heran jika Dokter maupun ahli gizi anak manapun akan mengatakan bahwa satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi berusia 0 hingga 6 bulan adalah ASI Mereka selalu menyarankan agar para ibu memberikan ASI eksklusif atau tak memberi makanan apa pun kepada bayi kecuali ASI selama enam bulan pertama sejak bayi lahir. Namun sayang banyak kaum ibu khususnya para wanita karir, pekerja dan ibu lainnya yang waktunya tersita untuk aktivitas lebih mempercayakan susu formula. Mereka beralasan tidak memberikan ASI eksklusif karena tidak sempat menyusui bayi secara teratur, bayinya sulit gemuk, padahal bayi sehat tidak harus gemuk, atau body tubuhnya berubah jelek tidak seksi dan bermacam-macam alasan. (Sumber dr Ayu PratiwiS SpA,MARS, Satgas ASI IDAI Jaya, DHA -Imm -) * * * * * Jangan Tinggalkan ASI Sebenarnya jika pembuatan susu formula sesuai dengan standar kesehatan, baku, sudah bisa untuk menyambung ASI. Namun semua itu belum bisa dikatakan susu bagus dan sehat karena beberapa faktor. Yaitu, makanan dan gizi yang di berikan sapi kurang, akibatnya susu yang dihasilkan akan encer dengan kandungan protein rendah. Apalagi jika sapinya tidak sehat, terinfeksi, akan berbahaya jika dikonsumsi bayi. Meskipun ternak sudah di budidayakan, di jaga kebersihan dan kesehatannya, namun jika tidak di dukung dengan pengolahan yang baik, teliti, steril hingga kemasannya, belum lagi masuknya beberapa berbagai macam formula tambahan. Masih ingat, kasus merebaknya Enterobacter sakazakii yang terdapat di susu formula?. Meskipun keputusannya masih kontroversial, namun semua itu salah satu contoh betapa mudahnya industr-industri susu formula “kecolongan” pada batch tertentu dalam taraf produksi. Karena itu selagi si ibu masih sehat, tidak ada penyakit menular, mampu dan ada waktu untuk memberikan ASI pada bayinya, stop ! jangan gunakan susu formula. “Anak bukan bahan percobaan pabrik”. ASI adalah anugerah Allah yang paling baik, paling sehat dan paling segala-galanya. # # # |
Rabu, 09 April 2008
Invasi “Situs Porno” Memasuki Keluarga
Maju danberkembangnya teknologi Cyber memudahkan pornografi masuk ke rumah tangga, merusak kehidupan masa depan anak-anak. Generasi muda yang tidak lagi menghargai etika, hakikat seksual, perkawinan, karena mengeksploitasi seksualitas yang seharusnya kita hargai dan muliakan sebagai anugerah Illahi. Meski masih kelas dua SD, tapi Febry sangat pandai dan serba ingin tahu (Gathekan, istilah orang Jawa) termasuk mengoprasikan komputer dengan intrnetnya. Kedua orang tuanyapun bangga melihat putranya sangat cerdas. Namun akhir-akhir ini Febry memiliki kebiasaan baru. Sepulang sekolah, dia langsung masuk kekamarnya hingga sore, berjam-jam diam didalam tanpa membuat keributan sedikitpun. Padahal, biasanya dia tak pernah diam lincah kesana-kemari, apapun dipegangnya. Melihat perubahan yang sangat drastis ini Yani, si ibu penasaran. Akhirnya, ketika putranya sekolah, masuklah ia ke dalam kamar anaknya, tapi tidak ditemukan sesuatu benda apapun yang dia anggap tidak layak atau mencurigakan berada di kamar maupun almari anaknya, seluruh mainannya masih tersusun rapi seperti tak pernah tersentuh. Namun, saat Yani menyalakan komputer yang ada di kamar itu, .....betapa terkejutnya sewaktu melihat dari history Google,... ternyata situs-situs porno yang menampilkan berbagai gambar yang tidak senonoh !. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, seluruh tubuh Yani lemas, terduduk lesu, hatinya menangis. Apa yang ia banggakan selama ini ternyata membawa dampak kerugian yang jauh-jauh lebih besar. Ironisnya, kasus seperti ini tidak hanya menimpa Febry, tapi juga para remaja, bahkan orang tuapun ikut jatuh terjerat dalam kecanduan pornografi, berjam-jam duduk didepan komputer, tidak tidur dan tanpa peduli keluarganya, otaknya telah terbalut, terbuai dalam imajinasi yang kotor dan menjijikkan, terjebak dalam situs porno. Ancaman Bagi Anak Mereka tidak sadar bahwa “Anak-anak dilahirkan dalam kondisi suci”. Orang tualah yang nantinya membentuk anak, akan seperti apa. Baik dan buruknya anak, tergantung orang tuanya. Kenyataannya, peran orang tua dewasa ini semakin berat. Betapa tidak. Hantaman era globalisasi telah menafikan aturan yang melarang anak untuk tidak secepatnya mengenal yang namanya pornografi atau pornoaksi. Sementara di berbagai media, baik itu elektronik maupun cetak, tayangan dan gambar yang mengandung unsur pornografi 'bergentayangan' tak kenal lelah menghantui anak-anak. Karena itu jika kasus-kasus ini tidak segera di tangkal, kerugian yang besar dan luas, baik psikologis, sosial, etis maupun teologis sudah di depan mata. Merusak Generasi Penerus Dampaknya, secara psikologis pornografi dapat menimbulkan sikap dan perilaku antisosial. Mereka akan lebih agresif, dan terobsesi dengan imajinasi-imajinasi “jijik” terhadap teman, istri, suami, atau orang lain sebagai bagian dari seks yang berujung dengan kemerosotan kultural, akhirnya akan runtuh dan chaos khususnya dalam rumah tangga itu sendiri. Dampak lain ketika pornografi sudah memasuki keluarga, akan membawa pengaruh besar bagi masyarakat umum. Meningkatnya tindak kriminal di bidang seksual, baik kuantitas maupun jenisnya. Misalnya, hamil di luar nikah, maraknya kasus pencabulan, perkosaan, dan sodomi yang jelas-jelas bertentangan dengan agama, etika dan moral. Akhirnya, banyak virus-virus patologi sosial seperti penyakit kelamin dan HIV/AIDS masuk dengan korban utama adalah anak-anaknya sendiri. Secara kesimpulan, dampak dari pornografi kedalam keluarga akan merusak fisik, jiwa dan rohani kehidupan masa depan anak-anak, generasi muda yang tidak lagi menghargai etika, hakikat seksual, perkawinan dan rumah tangga, karena mengeksploitasi seksualitas yang seharusnya kita hargai dan muliakan sebagai anugerah dari sang Pencipta. Di sisi lain pornografi merusak perkembangan kepribadian yang alami. Jika stimulus (pendorong) awal adalah foto-foto porno, anak-anak dan remaja akan terkondisikan untuk terangsang dengan foto-foto, kemudian menjadi kecanduan. Akibatnya, mereka akan tumbuh menjadi orang yang susah membangun hubungan normal dengan lawan jenis, tanpa pengaruh foto-foto porno. Jika sudah begini, yang terjadi dengan generasi kita mendatang ? Mereka lahir dan besar dari tengah-tengah keluarga yang sudah teracuni Pemberantasan, pencegahan, rasanya kecil sekali untuk di harapkan, karena bagaimanapun juga pornografi akan sulit terbendung. Maka pertahanan yang utama adalah ilmu agama. Karena dengan ilmu ini seseorang akan terbentuk iman yang kuat, akhlak yang mulia untuk membentengi wabah-wabah pornografi. "Back to basic, cintai anak-anak, beri perhatian yang cukup, dan penuhi kebutuhan psikologisnya. Pola asuh yang positif akan membentuk anak-anak menjadi lebih tangguh. Lalu, perlunya memberikan pendidikan atau pengarahan seks yang benar menurut tuntunan Islam kedalam keluarga, komunitas-komunitas remaja yang dikemas dengan bahasa halus dan sopan. Campur Tangan Pemerintah Bersama-sama mengupayakan serta mendukung rencana Pemerintah untuk menutup semua situs porno, pihak-pihak terkait harus menertibkan, menindak tegas (pemberian sanki) pada media dan pelaku pornografi melalui konstitusi, tidak mendukung arus pornografi dan mengesahkan undang-undang anti pornografi-pornoaksi. Melalui lembaga, melakukan sosialisasi, dan pengarahan untuk mengajak para orang tua, tokoh-tokoh agama maupun masyarakat agar tak henti-hentinya melawan pornografi agar tidak semakin jauh menjerumuskan kita kepada pengingkaran akan hakikat manusia sebagai insan yang dikaruniai segala sesuatu oleh sang Pencipta, termasuk seksualitas untuk tugas dan tujuan mulia, yaitu menciptakan generasi manusia secara berkelanjutan dengan keadaan sehat jasmani dan rohani, jiwa dan raga. (Imm). Nara sumberada di redaksi. * * * Agar Anak tidak Leluasa Menjelajahi Dunia Maya Lebih dari 20.000 gambar pornografi diluncurkan ke internet dan sebanyak 4,7 juta (hits) dikunjungi anak setiap minggunya. Kita tidak dapat membayangkan apa jadinya jika situs itu mewabahi anak-anak kita yang mampu memasuki ruang-ruang maya setiap hari atau minggunya. Karena itu yang perlu kita lakukan anak-anak ketika membuka situs antara lain : - Selalu mengawasi anak saat menggunakan Internet, jangan biarkan mereka terjebak untuk masuk kesitus-situs “sesat” yang berkedok nama ilmiah. - Usahakan agar pintu ruang atau kamar komputer tidak dipasang pengunci dan layar menghadap keluar, sehingga monitor dapat terlihat jelas dari luar. - Beri ketegasan dan sanki (yang mendidik), bilamana ada beberapa situs pornografi yang langsung keluar di layar. - Usahakan selalu mendampingi setiap anak mengoprasikan komputer-internet. - Tanamkan prinsip-prinsip kebenaran dalam hidup anak sebagai fondasi bagi mereka untuk tidak terpengaruh hal-hal buruk - Berikan aturan bagi anak-anak yang memasuki ruang chat room, untuk tidak pernah memberitahukan identitas pada lawan bicaranya dan bertemu tanpa didampingi oleh orang tua mereka. Dengan cara-cara ini Insya Allah mereka mampu bertanggung jawab pada dirinya sendiridari pengaruh-pengaruh negatif teknologi sementara anak tetap bisa mengikuti perkembangannya. * * * Enyahlah Kau Situs Porno ! Setelah Pemerintah Cina melarang semua iklan yang mengandung kesan-kesan sekual dan menutup 44.000 situs porno di internet serta menangkapi 1.911 para pelakunya, Presiden Hu Jintao menutup atau delete men- lebih dari 440.000 situs dan pesan pornografik. Sedangkan Pemerintah Indonesia sendiri baru mulai April 2008 ini akan menutup situs-situs porno di internet. Gebrakan ini lalu disambut gembira oleh berbagai kalangan termasuk para ulama yang sudah lama ‘gerah’ dengan aksi pornografi dan pornoaksi karena jelas sangat berbahaya bagi perkembangan generasi bangsa Indonesia. |
Menyikapi Istri yang Kurang Bersyukur
Istri-istri itu akan selalu merasa kurang jika menerima pemberian dari suami, meskipun sang suami sudah bersusah payah untuk mendapatkan demi istri dan anak-anaknya. Rasulullah bersabda :“Allah Maha Besar berkah-Nya lagi Maha tinggi tidakakan mau melihat seorang yang tidak bersyukur kepada suaminya, padahal ia tetap memerlukannya” (HR Nasa’i) Yang dimaksud dengan istri yang tidak mau mengakui segala yang diberikan suami kepadanya walau sebesar apapun. Segala yang diterima dari suaminya dianggap remeh. Dan tidak pernah mau menyatakan ucapan-ucapan yang menunjukkan rasa terimakasih kepada suami. Yang selalu dilontarkan bahwa dirinya selalu berkekurangan dan suaminya tidak pernah mau mencukupi apa yang menjadi keinginannya. Terbiasa Manja Sikap istri semacam ini barangkali karena adanya perlakuan dari orang tuanya pada masa lalu yang selalu memanjakan dengan kemewahan dan kecukupan. Keadaan tersebut selalu membayanginya sampai ia berumah tangga. Pada saat harus berdiri sendiri dan lepas dari orang tuanya, ternyata ia mendapatkan seorang suami yang tidak dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhannya dan memanjakannya. Apalagi jika perkawinannya tidak disetujui oleh orang tuanya, maka segala fasilitas yang didapat sebeleum pernikahan tidak lagi diperolehnya. Jerih Payah Suami Selalu Sia-sia Ketika suami tidak mampu memberikan apa yang diinginkannya, istri menganggap segala pemberian suami tidak ada artinya walaupun suami telah berjuang untuk dapat memberikan yang terbaiuk.Misalnya contoh-contoh berikut dapat memudahkan menggambarkan perbedaan fasilitas ketika masih berada dibawah naungan orang tua dan setelah berdiri sendiri dengan suaminya : - Selama dengan orang tuanya biasa hidup mewah, sering berekreasi dengan mobil pribadi yang nyaman. Tapi setelah berumah tangga hanya bisa menggunakan angkutan umum. Walau suami sudah berupaya agar dia dapat berwisata, ia sering membanding-bandingkan keadaan sekarang dengankeadaan semasa dengan orang tuanya yang memang tidak berarti sama sekali. - Segala peralatan rumah tangga seperti kompor gas, mesin cuci, oven dan lainnya tersedia semasa dengan orang tuanya. Tapi ketika ia sudah berkeluarga sendiri semua itu tidak didapatkan, yang ada hanya kompor minyak tanah dengan suasana kesederhanaan. Hal ini membuat dirinya sering ia banding-bandingkan dengan keadaan semasa bersama orang tuanya yang sudah tentu tidak berarti pa sama sekali bagi dirinya. - Karena persaingan antara saudara-saudara yang telah berkeluarga dan kecukupan, ia sering menyampaikan perkataan yang meremehkan suami di hadapan saudara-saudaranya, misalnya “Suami saya tidak pernah dapat memberikan barang-barang yang berharga ata dapat saya banggakan”. Pernyataan semacam ini menunjukkkan pengingkaran terhadap jerih payah suami yang berusaha membahagiakan kehidupan rumah tangga sesuai dengan tingkat kemampuan. Perbedaan level Selain itu, faktor pendorong istri meremehkan suami barangkali karena pendidikan istri lebih tinggi dan pendapatan yang jauh lebih besar dari pada suami. Hal-hal semacam inilah yang membuat dirinya memandang remeh kalau diberi uang belanja dari suaminya yang hanya berjumlah lebih rendah dari penghasilannya. Jerih payah suaminya kurang dipandang hanya dengan sebelah mata, bahkan mungkin diacuhkan sama sekali. Istri tipe pengingkar kebaikan ini akan menimbulkan kerugian-kerugian dalam rumah tangga suaminya seperti : - Timbul ketegangan hubungan antara suami-istri, karena suami kesal dan jengkel atas sikap yang meremehkan segala upaya dirinya untuk kesejahteraan keluarga. - Akibat ketegangan semacam ini anak-anak pun ikut merasakan suasana tidak harmonis dan tentram dirumah sehingga kemungkinan mereka lebih senang mengikuti pola hidup liar diluar rumah. - Istri dibayangi rasa oleh stres dan mengalami gangguan mental karena sering melihat suami menunjukkan kejengkelan dan kemarahan yang mungkin tidak dipahami sebab-sebabnya. Suasana seperti ini dirasakan oleh istri sebagai suatu permusuhan yang mengganggu ketenangan dirinya. - Suami mungkin akan berpaling kepada wanita lain yang dapat memberikan keteduhan dan ketenangan disamping memberikan penghargaan dan pujian sehngga harga dirinya menjadi terangkat. Hal semacam ini bisa merenggangkan hubungan dan jika berkelanjutan, suami dapat terjerat pada wanita lain dan menjauhi istri dan keluarganya. Solusi Mengetahui dampak-dampak seperti ini istri yang merasa dirinya sering mengingkari kebaikan suaminya seharusnya berupaya untuk menghilangkan perilaku tersebut dengan cara-cara : - Mendekati orang-orang yang dapat memberi nasehat dan bimbingan agama agar ia dapat memahami tuntunan agama mengenai perilaku istri yang baik. - Memperhatikan dan mengamati kehidupan keluarga-keluarga yang senasib lebih baik atau beruntung dari pada dirinya dan berdialog dengan para istri mereka, sehingga mendapatkan pelajaran dan pengalaman dari para istri yang hidup dalam kekurangan tetapi menghargai dan memuji jerih payah suami. - Berkonsultasi dengan para ahli agar mendapatkan jalan bagaimana menghargai upaya-upaya suami yang selama ini selalu diremehkan. Sebaliknya bagi suami yang mempunyai istri tipe pengingkar ini dapaet melakukan berbagai upaya untuk menghadapi dan menyadarkannya agar perilakunya yang tidak terpuji dapat dihilangkan. Suami memberi peringatan kepada istri bahwa perilaku semacam ini bisa menyebabkan kelak masuk neraka seperti apa yang telah disabdakan Rasulullah SAW : “Aku pernah melihat neraka. Tiba-tiba kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita, yaitu karena mereka tidak tahu berterimakasih kepada suami. Andaikan engkau (suami) berbuat baik kepada seseorang di antara mereka setahun, kemudian ia melihat cela padamu, ia akan mengatakan :’ Saya tak pernah sama sekali melihat kebaikan dati dirinya..”(HR Bukhari) Suami juga mengingatkan bahwa perbuatan tersebut sangat menyakitkan hatinya, merusak prestasi dan kredibilitas kerja. Sikapnya membuat anak-anak juga bisa tidak menghormati ayahnya yang berakibat gangguan mental dan menimbulkan beban stres. Oleh karena itu, istri dianjurkan agar senantiasa menerima kenyataan dan menyadari realita agar hidupnya penuh dengan ketenangan dan ketentraman, sehingga suami dan anak-anak dapat merasakan adanya keharmonisan dalam rumah tangga. Istri juga dinasehati agar mau berlatih menghargai kebaikan suami dengan melihat nasib orang yang lebih bawah dan tidak melihat orang-orang yang diatasnya. Dengan usaha- usaha ini, insya Allah ia kelak menjadi sadar bahwa ternyata ia masih lebih beruntung dari pada orang-orang lain yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Dengan kesungguhannya mau melihat perbandingan antara dirinya dengan orang-orang yang lebih bawah, kemungkinan besar hatinya akan tersentuh untuk mengakui dan mensyukuri jerih payah suaminya dalam memberikan banyak kebaikan kepada dirinya. |
Jumat, 07 Maret 2008
Dilematis Istri Mengatasi Perselingkuhan Suami
“Assalamu’alaikum……” Ucap Firman saat memasuki halaman rumahnya setiap kali pulang kantor. “Wa alaikum salaam……itu ayah datang, ayo adik salim..” jawab Heni dengan senyum manis, ia bangkit dari kursi teras dengan putranya untuk menyambut. Begitulah yang dilakukan ibu muda tersebut setiap sore saat menanti kedatangan suaminya. Ia selalu berpenampilan rapi, dandanan menarik dan cantik, seolah bagaikan mau menyambut suaminya diatas ranjang. Suasana rumah tangga Heni dan Firman dengan putra satu-satunya Jefri selama hampir lima tahun selalu harmonis. Mereka membangun mahligai cinta dengan rasa ikhlas dan penuh keterbukaan sehingga keduanya saling mengerti, mengisi menghormati dan selalu romantis.
Namun suasana tersebut kini telah terusik dengan beredarnya gosip perselingkuhan antara Firman dengan teman sekantornya. Heni yang semula hanya diam lama-lama tak kuasa menahan kesabaran atas sikap suaminya yang dianggap mengkianati cintanya. Sikap yang dulu manja kini lebih banyak diam, sering murung dan pemarah. Suasana romantis dan mesra dalam menyambut suaminya saat pulang kerja kini sudah tidak dijumpai lagi. Sikapnya lebih banyak acuh tak acuh, selalu menghindar dihadapan suami. Keributan-keributan kecil yang berubah menjadi pertengkaran sering terjadi, bahkan Heni sampai pulang keorang tuanya selama berhari-hari. Rumah tangganya yang dulu tentram damai, kini terancam rusak dan hancur akibat kasus yang bernama “perselingkuhan”.
Kejadian yang menimpa pasangan Firman-Heni ini salah salah satu contoh dari jumlah-jumlah kasus perselingkuhan yang sering kita jumpai. Meskipun ketika akad nikah, semua pasangan suami-istri selalu mengucap janji-janji “ Akan saling mencintai, membangun, menjaga bahtera rumah tangga....dan lain-lain-dan lain-lain” , namun fakta dimasyarakat berbicara lain. Lihatlah, dimana-mana, betapa banyaknya, betapa mudahnya kasus-kasus perselingkuhan Mereka dengan enaknya mengatakan “selingkuh itu indah, selingkuh itu...bla-bla-bla....pokoknya banyak istilahnya”, seolah menjadikan perselingkuhan sesuatu yang trend serta populer dimasyarakat. Disisi lain istri yang semula percaya, sepenuhnya tawadhu pada suami, harus menanggung luka, sakit hati, derita dimadu cinta, dan cemburu berkepanjangan. Akhirnya jalan pintas yang mereka tempuh, broken home, perceraian, bahkan ada yang jatuh korban, sementara sang suami terus berkubang dalam jurang perzinahan. Jika sudah begini apa dan siapa yang salah ?
Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kedengarannya "biasa". Namun kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini. Dimanapun juga yang namanya selingkuh, dengan atau tanpa hubungan seks jelas-jelas haram hukumnya. Bahkan dinegara-negara Barat yang terkenal dengan sekulerisme dan hidonismepun juga tidak membenarkan. Pernikahan dianggap “wadah” yang steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak seratus persen bagi suami-istri, tak peduli berapapun umur dan pernikahan. Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga akan berdampak buruk dan negatif bagi siapa saja.
Namun kita juga harus bisa melihat, menilai secara objektif dan proporsional apa "latar belakang” dan “penyebab" kasus ini. Kita tak bisa memberi cap suami "peselingkuh" tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit "peselingkuh" tersebut termasuk tipe suami yang baik, dan bukan tipe orang yang "gatel", brengsek, dugem, senang kelayapan dan paly boy.
Faktor utama suami berselingkuh, jelas.... yang utama karena menipisnya keimanan, kurangnya pengetahuan tentang agama. Namun ada lagi yang tak kalah pentingnya penyebab para suami mencari “rasa lain”. Yakni "ketidakberesan" di dalam rumah tangga, meski sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk serta bervariasi baik dari masalah ekonomi, anak, psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial, pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, "terjebak" pada rutinitas, kejenuhan, dan seksual, semua itu jika dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak kapanpun.
Kehadiran WIL (wanita idaman lain) memang banyak dituding sebagai biang kerok. Bagi “sikorban” istri yang jiwanya lemah, hanya kepasrahan dan linangan air mata yang berharap suaminya kembali seperti dulu lagi. Namun, bagi istri yang tegas, galak, suasana panas akan selalu menghiasi rumah tangga dengan pertengkaran-pertengkaran yang berujung penceraian, broken home dan kehancuran. Tapi benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada sang suami atau WIL ? Kalau rumah tangga mereka “baik-baik”, kenapa sampai terjadi “drama cinta segitiga” didalam keluarga ?
Karena itulah bagi istri-istri yang menjadi korban dimadu cinta, sudah saatnya untuk membuang jauh-jauh “cemburu buta”, arogan, kekanak-kanakan dan egoistis. Tapi sebaliknya mari berpikir lebih dewasa, bijak, jernih, bermartabat dan kembali pada aturan Allah. Ingat ! Islam mengharamkan selingkuh, tapi menghalalkan berpoligami, meski sangat berat dan rumit saratnya. Disisi lain, diri sendiri, masih adakah sesuatu yang “kurang” dalam diri maupun rumah tangga sehingga suami mulai berubah? Jika benar, cepatlah “perbaiki” apa maunya, dengan saling terbuka, dan jujur bersama suami.
Janganlah kasus yang merupakan masalah "besar" dalam rumah tangga ini menjadi semakin "besar" dan "melebar" ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya terjerumus kedalam “lembah perzinahan”, aib yang terekspos kepada umum. Tapi juga masalah "inti"-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, duka dan air mata (Maulana)
Spoot
Poligami Menurut Syariat Islam
Apabila seorang suami yang ingin berpoligami, ada beberapa ketentuan yang telah diatur oleh Islam. Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut :
- Memiliki kemampuan untuk adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, yaitu dengan memberikan, menyamakan hak dan nafkah kepada masing-masing istrinya.
- Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Firman Allah berbunyi :”Allah berfirman, “Menetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian.......(QS Al Ahzab 33)”. Dalam ayat ini Allah menyebutkan rumah Nabi SAW dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.
- Memberikan hak para istri dengna seadil-adilnya. Dari Anas bin Malik, Kebiasaan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru behenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu.(HR Muslim).
- Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan. Dari Anas bin Malik bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain. (HR Bukhari)
- Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri, namun wajib memberi giliran diantara kedua istrinya secara adil. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’
Karena itu bagi suami yang akan berpoligami hendaknya melihat kemampuannya, janganlah pahala yang dinginkan, malah berbalik dengan dosa dan kerugian. “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.”(HR Muslim).
Namun suasana tersebut kini telah terusik dengan beredarnya gosip perselingkuhan antara Firman dengan teman sekantornya. Heni yang semula hanya diam lama-lama tak kuasa menahan kesabaran atas sikap suaminya yang dianggap mengkianati cintanya. Sikap yang dulu manja kini lebih banyak diam, sering murung dan pemarah. Suasana romantis dan mesra dalam menyambut suaminya saat pulang kerja kini sudah tidak dijumpai lagi. Sikapnya lebih banyak acuh tak acuh, selalu menghindar dihadapan suami. Keributan-keributan kecil yang berubah menjadi pertengkaran sering terjadi, bahkan Heni sampai pulang keorang tuanya selama berhari-hari. Rumah tangganya yang dulu tentram damai, kini terancam rusak dan hancur akibat kasus yang bernama “perselingkuhan”.
Kejadian yang menimpa pasangan Firman-Heni ini salah salah satu contoh dari jumlah-jumlah kasus perselingkuhan yang sering kita jumpai. Meskipun ketika akad nikah, semua pasangan suami-istri selalu mengucap janji-janji “ Akan saling mencintai, membangun, menjaga bahtera rumah tangga....dan lain-lain-dan lain-lain” , namun fakta dimasyarakat berbicara lain. Lihatlah, dimana-mana, betapa banyaknya, betapa mudahnya kasus-kasus perselingkuhan Mereka dengan enaknya mengatakan “selingkuh itu indah, selingkuh itu...bla-bla-bla....pokoknya banyak istilahnya”, seolah menjadikan perselingkuhan sesuatu yang trend serta populer dimasyarakat. Disisi lain istri yang semula percaya, sepenuhnya tawadhu pada suami, harus menanggung luka, sakit hati, derita dimadu cinta, dan cemburu berkepanjangan. Akhirnya jalan pintas yang mereka tempuh, broken home, perceraian, bahkan ada yang jatuh korban, sementara sang suami terus berkubang dalam jurang perzinahan. Jika sudah begini apa dan siapa yang salah ?
Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kedengarannya "biasa". Namun kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini. Dimanapun juga yang namanya selingkuh, dengan atau tanpa hubungan seks jelas-jelas haram hukumnya. Bahkan dinegara-negara Barat yang terkenal dengan sekulerisme dan hidonismepun juga tidak membenarkan. Pernikahan dianggap “wadah” yang steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak seratus persen bagi suami-istri, tak peduli berapapun umur dan pernikahan. Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga akan berdampak buruk dan negatif bagi siapa saja.
Namun kita juga harus bisa melihat, menilai secara objektif dan proporsional apa "latar belakang” dan “penyebab" kasus ini. Kita tak bisa memberi cap suami "peselingkuh" tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit "peselingkuh" tersebut termasuk tipe suami yang baik, dan bukan tipe orang yang "gatel", brengsek, dugem, senang kelayapan dan paly boy.
Faktor utama suami berselingkuh, jelas.... yang utama karena menipisnya keimanan, kurangnya pengetahuan tentang agama. Namun ada lagi yang tak kalah pentingnya penyebab para suami mencari “rasa lain”. Yakni "ketidakberesan" di dalam rumah tangga, meski sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk serta bervariasi baik dari masalah ekonomi, anak, psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial, pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, "terjebak" pada rutinitas, kejenuhan, dan seksual, semua itu jika dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak kapanpun.
Kehadiran WIL (wanita idaman lain) memang banyak dituding sebagai biang kerok. Bagi “sikorban” istri yang jiwanya lemah, hanya kepasrahan dan linangan air mata yang berharap suaminya kembali seperti dulu lagi. Namun, bagi istri yang tegas, galak, suasana panas akan selalu menghiasi rumah tangga dengan pertengkaran-pertengkaran yang berujung penceraian, broken home dan kehancuran. Tapi benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada sang suami atau WIL ? Kalau rumah tangga mereka “baik-baik”, kenapa sampai terjadi “drama cinta segitiga” didalam keluarga ?
Karena itulah bagi istri-istri yang menjadi korban dimadu cinta, sudah saatnya untuk membuang jauh-jauh “cemburu buta”, arogan, kekanak-kanakan dan egoistis. Tapi sebaliknya mari berpikir lebih dewasa, bijak, jernih, bermartabat dan kembali pada aturan Allah. Ingat ! Islam mengharamkan selingkuh, tapi menghalalkan berpoligami, meski sangat berat dan rumit saratnya. Disisi lain, diri sendiri, masih adakah sesuatu yang “kurang” dalam diri maupun rumah tangga sehingga suami mulai berubah? Jika benar, cepatlah “perbaiki” apa maunya, dengan saling terbuka, dan jujur bersama suami.
Janganlah kasus yang merupakan masalah "besar" dalam rumah tangga ini menjadi semakin "besar" dan "melebar" ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya terjerumus kedalam “lembah perzinahan”, aib yang terekspos kepada umum. Tapi juga masalah "inti"-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, duka dan air mata (Maulana)
Spoot
Poligami Menurut Syariat Islam
Apabila seorang suami yang ingin berpoligami, ada beberapa ketentuan yang telah diatur oleh Islam. Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut :
- Memiliki kemampuan untuk adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, yaitu dengan memberikan, menyamakan hak dan nafkah kepada masing-masing istrinya.
- Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Firman Allah berbunyi :”Allah berfirman, “Menetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian.......(QS Al Ahzab 33)”. Dalam ayat ini Allah menyebutkan rumah Nabi SAW dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.
- Memberikan hak para istri dengna seadil-adilnya. Dari Anas bin Malik, Kebiasaan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru behenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu.(HR Muslim).
- Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan. Dari Anas bin Malik bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain. (HR Bukhari)
- Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri, namun wajib memberi giliran diantara kedua istrinya secara adil. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’
Karena itu bagi suami yang akan berpoligami hendaknya melihat kemampuannya, janganlah pahala yang dinginkan, malah berbalik dengan dosa dan kerugian. “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.”(HR Muslim).
Senin, 03 Maret 2008
Bukan Waktu Untuk Televisi
Maraknya stasiun-satasiun televisi swasta menjadikan kebutuhan informasi dan hiburan semakin bertambah maju, cepat dan akurat. Namun dibalik semua itu juga dapat berpengeruh pada pola asuh orang tua dan perkembangan pendidikan anak, dimana menurut mereka acara yang lagi bagus-bagusnya tepat dimana saat jam belajar anak.
Tak ada seorangpun dari orangtua yang sehat ingin melahirkan anak dengan tujuan menciptakan anak yang bodoh dan tidak berguna. Beberapa pendapat mengatakan bahwa kemampuan anak dalam intelektual, emosi, dan kepribadiannya sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan (termasuk di dalamnya pola asuh, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi). Maka tida heran jika pada jaman dahulu, banyak orang tua sangat bangga melihat putra-putranya yang masih kecil sudah memahami fikih dasar, tauhid, tarikh Islam dan rajin membaca Al-Qur’an, serta diimbangi dengan prestasi belajar di sekolahnya. Karena sudah menjadi kebiasaan pola asuh para orang tua, setiap terdengar adzan Maghrib, mereka segera berangkat kemasjid atau mushalla untuk sholat lalu berkumpul, belajar dan mendengarkan fatwa para ustadz hingga menjelang Isya’ tanpa mengesampingkan pelajaran sekolahnya.
Terbuai Tayangan TV
Namun, sekarang sudah berbeda jauh. Seiring dengan perkembangan jaman, makin majunya teknologi dan mambanjirnya industri pertelevisian di negeri ini, budaya tersebut pelan-pelan hilang karena tergeser oleh tradisi nonton televisi. Orang tua banyak yang lupa akan tugas dan tanggung jawabnya terhadap anak. Mereka sibuk menabung untuk “menyaksikan mimpi-mimpi” yang tak terbeli, mimpi-mimpi yang mereka jejalkan setiap hari kepada diri sendiri maupun putranya-putrinya. Di depan pesawat tv, terbuai hiburan membuatnya lupa dengan tradisi mengaji. Mereka lebih mencintai tayangan telenovela, mamamia atau sinetron yang jauh dari agama, mengalahkan suara adzan berkumandang, dengan alasan waktu sholat masih panjang.
Tidak Mendidik
Di sisi lain, ada juga orang tua yang menyuruh anaknya pergi ke masjid, sementara dirinya tetap duduk, tidak beranjak dari kursi di depan TV seolah-olah pantatnya sudah lengket pada kursi dan beralasan akan mengganggu konsentrasi sholat jika acara belum tuntas, lebih-lebih tayangan langsung sepak bola,... final lagi, jadi lebih baik diselesaikan dulu nontonnya, barulah sholatny agar bisa khusuk
Tipe orang tua macam inilah yang sebenarnya bukan mendidik justru malah merusak. Mereka sudah lupa bahwa habis Maghrib adalah waktu yang sangat efektif, bermanfaat dan berguna untuk belajar, mengaji dan ibadah, bukan untuk duduk santai di depan tv. Akibatnya, akan menjadi kebiasaan setiap selepas Maghrib, anak hanya menonton dan terbius oleh tayangan TV, kewajiban beribadah terkalahkan, jarang belajar, motivasi menurun sehingga masa-masa emas mereka terlewatkan begitu saja, sia-sia tanpa belajar pengetahuan tentang agama.
Ketergantungan TV
Sudah saatnya para orang tua sadar untuk tidak merusak perkembangan anak-anak mereka, dan mau menanamkan pola asuh, disiplin dari diri sendiri, berjuang melahirkan anak-anak bangsa yang pandai, mandiri, kreatif, sehat secara fisik, mental dan spiritual. Jangan biarkan siaran TV menjadikan generasi penerus kita pasif, ketergantungan siaran TV, hidup di awang-awang, penuh khayalan yang dapat melahirkan berbagai tindakan di luar kontrol karena pengaruh tayangan- tayangan yang dilihatnya. (Imm)
* * * * *
Menanamkan Disiplin Perlahan-lahan
Bagaimana agar anak-anak tidak terpengaruh tayangan tv sehingga belajar tetap tenang dan disiplin.
- Tontonlah siaran tv yang dianggap perlu, jangan buat diri senidiri maupun anak-anak tergantung pada siaran tv.
- Temukan cara menghindari entertaiment syndrome dari ketergantungan tv dengan membuat aktivitas di rumah seperti belajar yang diselingi dengan permainan agar tidak merasa jenuh.
- Aktifkan komunikasi di dalam rumah tangga.
Dari semua cara-cara ini barulah kita sebagai orang tua mulai menanamkan disiplin dan memberikan doktrin, “Matikan pesawat tv disaat menjelang adzan Maghrib hingga kegiatan belajar selesai (jam 20.30)’”, tutup pintu depan, janganlan keluar jika memang tidak ada kepentingan. Dan yang tak kalah pentingnya jangan biasakan anak keluar (kelayapan-Jawa) malam kecuali ada kepentingan atau kegiatan yang bersifat positif atau pada malam menjelang liburan (waktu nya juga dibatasi).
* * * *
.
Program Wajib Belajar Jam 18:30-20:30
Sebagai orang tua kita wajib mendukung apa yang dicanangkan Wali Kota Solo Slamet Suryanto pada tahun 2003 lalu tentang Program Wajib Belajar Jam 18.30 WIB hingga 20.30 WIB untuk masyarakat Solo kecuali hari Sabtu, Minggu dan malam hari Besar. Karena sangat berdampak positif bagi anak, diantaranya :
- Di harapkan para siswa dapat rajin belajar dengan pengawasan dan bimbingan mengenai kapan saatnya belajar dari orang tua.
- Membudayakan anak untuk belajar dan mematikan televisi antara pukul 18.00 WIB sampai pukul 20.30 WIB. Kebiasaan yang teratur ini dapat dibentuk sejak dini sehingga sangat berpengaruh bagi kegiatan belajar, disiplin membagi waktu dan prestasi para siswa.
- Memanfaatkan antara jam 18.30 (ba’dal Maghrib)- 20.30 WIB menjadi waktu yang sangat baik untuk belajar atau mengaji bukan untuk nonton tv atau bermain-main
Seandainya semua pemimpin mempunyai program seperti itu, sementara semua orang tua juga mendukung untuk diterapkan pada putra-putranya, insya Allah masa depan generasi kita akan lebih berkualitas, terdidik, maju dan beriman.
* * * *
Selasa, 05 Februari 2008
Dilematis Istri Mengatasi Perselingkuhan Suami
“Assalamu’alaikum……” Ucap Firman saat memasuki halaman rumahnya setiap kali pulang kantor. “Wa alaikum salaam……itu ayah datang, ayo adik salim..” jawab Heni dengan senyum manis, ia bangkit dari kursi teras dengan putranya untuk menyambut. Begitulah yang dilakukan ibu muda tersebut setiap sore saat menanti kedatangan suaminya. Ia selalu berpenampilan rapi, dandanan menarik dan cantik, seolah bagaikan mau menyambut suaminya diatas ranjang. Suasana rumah tangga Heni dan Firman dengan putra satu-satunya Jefri selama hampir lima tahun selalu harmonis. Mereka membangun mahligai cinta dengan rasa ikhlas dan penuh keterbukaan sehingga keduanya saling mengerti, mengisi menghormati dan selalu romantis.
Namun suasana tersebut kini telah terusik dengan beredarnya gosip perselingkuhan antara Firman dengan teman sekantornya. Heni yang semula hanya diam lama-lama tak kuasa menahan kesabaran atas sikap suaminya yang dianggap mengkianati cintanya. Sikap yang dulu manja kini lebih banyak diam, sering murung dan pemarah. Suasana romantis dan mesra dalam menyambut suaminya saat pulang kerja kini sudah tidak dijumpai lagi. Sikapnya lebih banyak acuh tak acuh, selalu menghindar dihadapan suami. Keributan-keributan kecil yang berubah menjadi pertengkaran sering terjadi, bahkan Heni sampai pulang keorang tuanya selama berhari-hari. Rumah tangganya yang dulu tentram damai, kini terancam rusak dan hancur akibat kasus yang bernama “perselingkuhan”.
Kejadian yang menimpa pasangan Firman-Heni ini salah salah satu contoh dari jumlah-jumlah kasus perselingkuhan yang sering kita jumpai. Meskipun ketika akad nikah, semua pasangan suami-istri selalu mengucap janji-janji “ Akan saling mencintai, membangun, menjaga bahtera rumah tangga....dan lain-lain-dan lain-lain” , namun fakta dimasyarakat berbicara lain. Lihatlah, dimana-mana, betapa banyaknya, betapa mudahnya kasus-kasus perselingkuhan Mereka dengan enaknya mengatakan “selingkuh itu indah, selingkuh itu...bla-bla-bla....pokoknya banyak istilahnya”, seolah menjadikan perselingkuhan sesuatu yang trend serta populer dimasyarakat. Disisi lain istri yang semula percaya, sepenuhnya tawadhu pada suami, harus menanggung luka, sakit hati, derita dimadu cinta, dan cemburu berkepanjangan. Akhirnya jalan pintas yang mereka tempuh, broken home, perceraian, bahkan ada yang jatuh korban, sementara sang suami terus berkubang dalam jurang perzinahan. Jika sudah begini apa dan siapa yang salah ?
Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kedengarannya "biasa". Namun kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini. Dimanapun juga yang namanya selingkuh, dengan atau tanpa hubungan seks jelas-jelas haram hukumnya. Bahkan dinegara-negara Barat yang terkenal dengan sekulerisme dan hidonismepun juga tidak membenarkan. Pernikahan dianggap “wadah” yang steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak seratus persen bagi suami-istri, tak peduli berapapun umur dan pernikahan. Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga akan berdampak buruk dan negatif bagi siapa saja.
Namun kita juga harus bisa melihat, menilai secara objektif dan proporsional apa "latar belakang” dan “penyebab" kasus ini. Kita tak bisa memberi cap suami "peselingkuh" tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit "peselingkuh" tersebut termasuk tipe suami yang baik, dan bukan tipe orang yang "gatel", brengsek, dugem, senang kelayapan dan paly boy.
Faktor utama suami berselingkuh, jelas.... yang utama karena menipisnya keimanan, kurangnya pengetahuan tentang agama. Namun ada lagi yang tak kalah pentingnya penyebab para suami mencari “rasa lain”. Yakni "ketidakberesan" di dalam rumah tangga, meski sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk serta bervariasi baik dari masalah ekonomi, anak, psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial, pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, "terjebak" pada rutinitas, kejenuhan, dan seksual, semua itu jika dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak kapanpun.
Kehadiran WIL (wanita idaman lain) memang banyak dituding sebagai biang kerok. Bagi “sikorban” istri yang jiwanya lemah, hanya kepasrahan dan linangan air mata yang berharap suaminya kembali seperti dulu lagi. Namun, bagi istri yang tegas, galak, suasana panas akan selalu menghiasi rumah tangga dengan pertengkaran-pertengkaran yang berujung penceraian, broken home dan kehancuran. Tapi benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada sang suami atau WIL ? Kalau rumah tangga mereka “baik-baik”, kenapa sampai terjadi “drama cinta segitiga” didalam keluarga ?
Karena itulah bagi istri-istri yang menjadi korban dimadu cinta, sudah saatnya untuk membuang jauh-jauh “cemburu buta”, arogan, kekanak-kanakan dan egoistis. Tapi sebaliknya mari berpikir lebih dewasa, bijak, jernih, bermartabat dan kembali pada aturan Allah. Ingat ! Islam mengharamkan selingkuh, tapi menghalalkan berpoligami, meski sangat berat dan rumit saratnya. Disisi lain, diri sendiri, masih adakah sesuatu yang “kurang” dalam diri maupun rumah tangga sehingga suami mulai berubah? Jika benar, cepatlah “perbaiki” apa maunya, dengan saling terbuka, dan jujur bersama suami.
Janganlah kasus yang merupakan masalah "besar" dalam rumah tangga ini menjadi semakin "besar" dan "melebar" ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya terjerumus kedalam “lembah perzinahan”, aib yang terekspos kepada umum. Tapi juga masalah "inti"-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, duka dan air mata (Maulana)
Poligami Menurut Syariat Islam
Apabila seorang suami yang ingin berpoligami, ada beberapa ketentuan yang telah diatur oleh Islam. Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut :
- Memiliki kemampuan untuk adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, yaitu dengan memberikan, menyamakan hak dan nafkah kepada masing-masing istrinya.
- Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Firman Allah berbunyi :”Allah berfirman, “Menetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian.......(QS Al Ahzab 33)”. Dalam ayat ini Allah menyebutkan rumah Nabi SAW dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.
- Memberikan hak para istri dengna seadil-adilnya. Dari Anas bin Malik, Kebiasaan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru behenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu.(HR Muslim).
- Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan. Dari Anas bin Malik bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain. (HR Bukhari)
- Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri, namun wajib memberi giliran diantara kedua istrinya secara adil. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’
Karena itu bagi suami yang akan berpoligami hendaknya melihat kemampuannya, janganlah pahala yang dinginkan, malah berbalik dengan dosa dan kerugian. “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.”(HR Muslim).
Namun suasana tersebut kini telah terusik dengan beredarnya gosip perselingkuhan antara Firman dengan teman sekantornya. Heni yang semula hanya diam lama-lama tak kuasa menahan kesabaran atas sikap suaminya yang dianggap mengkianati cintanya. Sikap yang dulu manja kini lebih banyak diam, sering murung dan pemarah. Suasana romantis dan mesra dalam menyambut suaminya saat pulang kerja kini sudah tidak dijumpai lagi. Sikapnya lebih banyak acuh tak acuh, selalu menghindar dihadapan suami. Keributan-keributan kecil yang berubah menjadi pertengkaran sering terjadi, bahkan Heni sampai pulang keorang tuanya selama berhari-hari. Rumah tangganya yang dulu tentram damai, kini terancam rusak dan hancur akibat kasus yang bernama “perselingkuhan”.
Kejadian yang menimpa pasangan Firman-Heni ini salah salah satu contoh dari jumlah-jumlah kasus perselingkuhan yang sering kita jumpai. Meskipun ketika akad nikah, semua pasangan suami-istri selalu mengucap janji-janji “ Akan saling mencintai, membangun, menjaga bahtera rumah tangga....dan lain-lain-dan lain-lain” , namun fakta dimasyarakat berbicara lain. Lihatlah, dimana-mana, betapa banyaknya, betapa mudahnya kasus-kasus perselingkuhan Mereka dengan enaknya mengatakan “selingkuh itu indah, selingkuh itu...bla-bla-bla....pokoknya banyak istilahnya”, seolah menjadikan perselingkuhan sesuatu yang trend serta populer dimasyarakat. Disisi lain istri yang semula percaya, sepenuhnya tawadhu pada suami, harus menanggung luka, sakit hati, derita dimadu cinta, dan cemburu berkepanjangan. Akhirnya jalan pintas yang mereka tempuh, broken home, perceraian, bahkan ada yang jatuh korban, sementara sang suami terus berkubang dalam jurang perzinahan. Jika sudah begini apa dan siapa yang salah ?
Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kedengarannya "biasa". Namun kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini. Dimanapun juga yang namanya selingkuh, dengan atau tanpa hubungan seks jelas-jelas haram hukumnya. Bahkan dinegara-negara Barat yang terkenal dengan sekulerisme dan hidonismepun juga tidak membenarkan. Pernikahan dianggap “wadah” yang steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak seratus persen bagi suami-istri, tak peduli berapapun umur dan pernikahan. Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga akan berdampak buruk dan negatif bagi siapa saja.
Namun kita juga harus bisa melihat, menilai secara objektif dan proporsional apa "latar belakang” dan “penyebab" kasus ini. Kita tak bisa memberi cap suami "peselingkuh" tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit "peselingkuh" tersebut termasuk tipe suami yang baik, dan bukan tipe orang yang "gatel", brengsek, dugem, senang kelayapan dan paly boy.
Faktor utama suami berselingkuh, jelas.... yang utama karena menipisnya keimanan, kurangnya pengetahuan tentang agama. Namun ada lagi yang tak kalah pentingnya penyebab para suami mencari “rasa lain”. Yakni "ketidakberesan" di dalam rumah tangga, meski sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk serta bervariasi baik dari masalah ekonomi, anak, psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial, pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, "terjebak" pada rutinitas, kejenuhan, dan seksual, semua itu jika dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak kapanpun.
Kehadiran WIL (wanita idaman lain) memang banyak dituding sebagai biang kerok. Bagi “sikorban” istri yang jiwanya lemah, hanya kepasrahan dan linangan air mata yang berharap suaminya kembali seperti dulu lagi. Namun, bagi istri yang tegas, galak, suasana panas akan selalu menghiasi rumah tangga dengan pertengkaran-pertengkaran yang berujung penceraian, broken home dan kehancuran. Tapi benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada sang suami atau WIL ? Kalau rumah tangga mereka “baik-baik”, kenapa sampai terjadi “drama cinta segitiga” didalam keluarga ?
Karena itulah bagi istri-istri yang menjadi korban dimadu cinta, sudah saatnya untuk membuang jauh-jauh “cemburu buta”, arogan, kekanak-kanakan dan egoistis. Tapi sebaliknya mari berpikir lebih dewasa, bijak, jernih, bermartabat dan kembali pada aturan Allah. Ingat ! Islam mengharamkan selingkuh, tapi menghalalkan berpoligami, meski sangat berat dan rumit saratnya. Disisi lain, diri sendiri, masih adakah sesuatu yang “kurang” dalam diri maupun rumah tangga sehingga suami mulai berubah? Jika benar, cepatlah “perbaiki” apa maunya, dengan saling terbuka, dan jujur bersama suami.
Janganlah kasus yang merupakan masalah "besar" dalam rumah tangga ini menjadi semakin "besar" dan "melebar" ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya terjerumus kedalam “lembah perzinahan”, aib yang terekspos kepada umum. Tapi juga masalah "inti"-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, duka dan air mata (Maulana)
Poligami Menurut Syariat Islam
Apabila seorang suami yang ingin berpoligami, ada beberapa ketentuan yang telah diatur oleh Islam. Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut :
- Memiliki kemampuan untuk adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, yaitu dengan memberikan, menyamakan hak dan nafkah kepada masing-masing istrinya.
- Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Firman Allah berbunyi :”Allah berfirman, “Menetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian.......(QS Al Ahzab 33)”. Dalam ayat ini Allah menyebutkan rumah Nabi SAW dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.
- Memberikan hak para istri dengna seadil-adilnya. Dari Anas bin Malik, Kebiasaan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru behenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu.(HR Muslim).
- Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan. Dari Anas bin Malik bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain. (HR Bukhari)
- Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri, namun wajib memberi giliran diantara kedua istrinya secara adil. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’
Karena itu bagi suami yang akan berpoligami hendaknya melihat kemampuannya, janganlah pahala yang dinginkan, malah berbalik dengan dosa dan kerugian. “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.”(HR Muslim).
Senin, 21 Januari 2008
Dilematis Istri Mengatasi Perselingkuhan Suami
“Assalamu’alaikum……” Ucap Firman saat memasuki halaman rumahnya setiap kali pulang kantor. “Wa alaikum salaam……itu ayah datang, ayo adik salim..” jawab Heni dengan senyum manis, ia bangkit dari kursi teras dengan putranya untuk menyambut. Begitulah yang dilakukan ibu muda tersebut setiap sore saat menanti kedatangan suaminya. Ia selalu berpenampilan rapi, dandanan menarik dan cantik, seolah bagaikan mau menyambut suaminya diatas ranjang. Suasana rumah tangga Heni dan Firman dengan putra satu-satunya Jefri selama hampir lima tahun selalu harmonis. Mereka membangun mahligai cinta dengan rasa ikhlas dan penuh keterbukaan sehingga keduanya saling mengerti, mengisi menghormati dan selalu romantis.
Namun suasana tersebut kini telah terusik dengan beredarnya gosip perselingkuhan antara Firman dengan teman sekantornya. Heni yang semula hanya diam lama-lama tak kuasa menahan kesabaran atas sikap suaminya yang dianggap mengkianati cintanya. Sikap yang dulu manja kini lebih banyak diam, sering murung dan pemarah. Suasana romantis dan mesra dalam menyambut suaminya saat pulang kerja kini sudah tidak dijumpai lagi. Sikapnya lebih banyak acuh tak acuh, selalu menghindar dihadapan suami. Keributan-keributan kecil yang berubah menjadi pertengkaran sering terjadi, bahkan Heni sampai pulang keorang tuanya selama berhari-hari. Rumah tangganya yang dulu tentram damai, kini terancam rusak dan hancur akibat kasus yang bernama “perselingkuhan”.
Kejadian yang menimpa pasangan Firman-Heni ini salah salah satu contoh dari jumlah-jumlah kasus perselingkuhan yang sering kita jumpai. Meskipun ketika akad nikah, semua pasangan suami-istri selalu mengucap janji-janji “ Akan saling mencintai, membangun, menjaga bahtera rumah tangga....dan lain-lain-dan lain-lain” , namun fakta dimasyarakat berbicara lain. Lihatlah, dimana-mana, betapa banyaknya, betapa mudahnya kasus-kasus perselingkuhan Mereka dengan enaknya mengatakan “selingkuh itu indah, selingkuh itu...bla-bla-bla....pokoknya banyak istilahnya”, seolah menjadikan perselingkuhan sesuatu yang trend serta populer dimasyarakat. Disisi lain istri yang semula percaya, sepenuhnya tawadhu pada suami, harus menanggung luka, sakit hati, derita dimadu cinta, dan cemburu berkepanjangan. Akhirnya jalan pintas yang mereka tempuh, broken home, perceraian, bahkan ada yang jatuh korban, sementara sang suami terus berkubang dalam jurang perzinahan. Jika sudah begini apa dan siapa yang salah ?
Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kedengarannya "biasa". Namun kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini. Dimanapun juga yang namanya selingkuh, dengan atau tanpa hubungan seks jelas-jelas haram hukumnya. Bahkan dinegara-negara Barat yang terkenal dengan sekulerisme dan hidonismepun juga tidak membenarkan. Pernikahan dianggap “wadah” yang steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak seratus persen bagi suami-istri, tak peduli berapapun umur dan pernikahan. Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga akan berdampak buruk dan negatif bagi siapa saja.
Namun kita juga harus bisa melihat, menilai secara objektif dan proporsional apa "latar belakang” dan “penyebab" kasus ini. Kita tak bisa memberi cap suami "peselingkuh" tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit "peselingkuh" tersebut termasuk tipe suami yang baik, dan bukan tipe orang yang "gatel", brengsek, dugem, senang kelayapan dan paly boy.
Faktor utama suami berselingkuh, jelas.... yang utama karena menipisnya keimanan, kurangnya pengetahuan tentang agama. Namun ada lagi yang tak kalah pentingnya penyebab para suami mencari “rasa lain”. Yakni "ketidakberesan" di dalam rumah tangga, meski sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk serta bervariasi baik dari masalah ekonomi, anak, psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial, pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, "terjebak" pada rutinitas, kejenuhan, dan seksual, semua itu jika dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak kapanpun.
Kehadiran WIL (wanita idaman lain) memang banyak dituding sebagai biang kerok. Bagi “sikorban” istri yang jiwanya lemah, hanya kepasrahan dan linangan air mata yang berharap suaminya kembali seperti dulu lagi. Namun, bagi istri yang tegas, galak, suasana panas akan selalu menghiasi rumah tangga dengan pertengkaran-pertengkaran yang berujung penceraian, broken home dan kehancuran. Tapi benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada sang suami atau WIL ? Kalau rumah tangga mereka “baik-baik”, kenapa sampai terjadi “drama cinta segitiga” didalam keluarga ?
Karena itulah bagi istri-istri yang menjadi korban dimadu cinta, sudah saatnya untuk membuang jauh-jauh “cemburu buta”, arogan, kekanak-kanakan dan egoistis. Tapi sebaliknya mari berpikir lebih dewasa, bijak, jernih, bermartabat dan kembali pada aturan Allah. Ingat ! Islam mengharamkan selingkuh, tapi menghalalkan berpoligami, meski sangat berat dan rumit saratnya. Disisi lain, diri sendiri, masih adakah sesuatu yang “kurang” dalam diri maupun rumah tangga sehingga suami mulai berubah? Jika benar, cepatlah “perbaiki” apa maunya, dengan saling terbuka, dan jujur bersama suami.
Janganlah kasus yang merupakan masalah "besar" dalam rumah tangga ini menjadi semakin "besar" dan "melebar" ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya terjerumus kedalam “lembah perzinahan”, aib yang terekspos kepada umum. Tapi juga masalah "inti"-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, duka dan air mata (Maulana)
Spoot
Poligami Menurut Syariat Islam
Apabila seorang suami yang ingin berpoligami, ada beberapa ketentuan yang telah diatur oleh Islam. Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut :
- Memiliki kemampuan untuk adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, yaitu dengan memberikan, menyamakan hak dan nafkah kepada masing-masing istrinya.
- Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Firman Allah berbunyi :”Allah berfirman, “Menetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian.......(QS Al Ahzab 33)”. Dalam ayat ini Allah menyebutkan rumah Nabi SAW dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.
- Memberikan hak para istri dengna seadil-adilnya. Dari Anas bin Malik, Kebiasaan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru behenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu.(HR Muslim).
- Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan. Dari Anas bin Malik bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain. (HR Bukhari)
- Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri, namun wajib memberi giliran diantara kedua istrinya secara adil. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’
Karena itu bagi suami yang akan berpoligami hendaknya melihat kemampuannya, janganlah pahala yang dinginkan, malah berbalik dengan dosa dan kerugian. “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.”(HR Muslim).
Namun suasana tersebut kini telah terusik dengan beredarnya gosip perselingkuhan antara Firman dengan teman sekantornya. Heni yang semula hanya diam lama-lama tak kuasa menahan kesabaran atas sikap suaminya yang dianggap mengkianati cintanya. Sikap yang dulu manja kini lebih banyak diam, sering murung dan pemarah. Suasana romantis dan mesra dalam menyambut suaminya saat pulang kerja kini sudah tidak dijumpai lagi. Sikapnya lebih banyak acuh tak acuh, selalu menghindar dihadapan suami. Keributan-keributan kecil yang berubah menjadi pertengkaran sering terjadi, bahkan Heni sampai pulang keorang tuanya selama berhari-hari. Rumah tangganya yang dulu tentram damai, kini terancam rusak dan hancur akibat kasus yang bernama “perselingkuhan”.
Kejadian yang menimpa pasangan Firman-Heni ini salah salah satu contoh dari jumlah-jumlah kasus perselingkuhan yang sering kita jumpai. Meskipun ketika akad nikah, semua pasangan suami-istri selalu mengucap janji-janji “ Akan saling mencintai, membangun, menjaga bahtera rumah tangga....dan lain-lain-dan lain-lain” , namun fakta dimasyarakat berbicara lain. Lihatlah, dimana-mana, betapa banyaknya, betapa mudahnya kasus-kasus perselingkuhan Mereka dengan enaknya mengatakan “selingkuh itu indah, selingkuh itu...bla-bla-bla....pokoknya banyak istilahnya”, seolah menjadikan perselingkuhan sesuatu yang trend serta populer dimasyarakat. Disisi lain istri yang semula percaya, sepenuhnya tawadhu pada suami, harus menanggung luka, sakit hati, derita dimadu cinta, dan cemburu berkepanjangan. Akhirnya jalan pintas yang mereka tempuh, broken home, perceraian, bahkan ada yang jatuh korban, sementara sang suami terus berkubang dalam jurang perzinahan. Jika sudah begini apa dan siapa yang salah ?
Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah masalah yang sangat kompleks dan pelik, meski kedengarannya "biasa". Namun kita harus benar-benar berpikir secara jernih, objektif, proporsional dan bijak dalam melihat masalah ini. Dimanapun juga yang namanya selingkuh, dengan atau tanpa hubungan seks jelas-jelas haram hukumnya. Bahkan dinegara-negara Barat yang terkenal dengan sekulerisme dan hidonismepun juga tidak membenarkan. Pernikahan dianggap “wadah” yang steril dari perselingkuhan, dan kesetiaan menjadi mutlak seratus persen bagi suami-istri, tak peduli berapapun umur dan pernikahan. Secara simpel tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga akan berdampak buruk dan negatif bagi siapa saja.
Namun kita juga harus bisa melihat, menilai secara objektif dan proporsional apa "latar belakang” dan “penyebab" kasus ini. Kita tak bisa memberi cap suami "peselingkuh" tersebut sebagai orang bejat, tidak bermoral, atau orang tak beragama. Karena realitanya, tak sedikit "peselingkuh" tersebut termasuk tipe suami yang baik, dan bukan tipe orang yang "gatel", brengsek, dugem, senang kelayapan dan paly boy.
Faktor utama suami berselingkuh, jelas.... yang utama karena menipisnya keimanan, kurangnya pengetahuan tentang agama. Namun ada lagi yang tak kalah pentingnya penyebab para suami mencari “rasa lain”. Yakni "ketidakberesan" di dalam rumah tangga, meski sekecil apa pun. Berbagai beban, tekanan, dan problem hidup yang menumpuk serta bervariasi baik dari masalah ekonomi, anak, psikis, komunikasi yang buruk, tempat tinggal terpisah di kota yang berjauhan, masalah pekerjaan, perbedaan status sosial, pendidikan yang mencolok, perbedaan persepsi dan idealisme yang mencolok, "terjebak" pada rutinitas, kejenuhan, dan seksual, semua itu jika dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak kapanpun.
Kehadiran WIL (wanita idaman lain) memang banyak dituding sebagai biang kerok. Bagi “sikorban” istri yang jiwanya lemah, hanya kepasrahan dan linangan air mata yang berharap suaminya kembali seperti dulu lagi. Namun, bagi istri yang tegas, galak, suasana panas akan selalu menghiasi rumah tangga dengan pertengkaran-pertengkaran yang berujung penceraian, broken home dan kehancuran. Tapi benarkah semua “kesalahan” itu harus ditimpakan kepada sang suami atau WIL ? Kalau rumah tangga mereka “baik-baik”, kenapa sampai terjadi “drama cinta segitiga” didalam keluarga ?
Karena itulah bagi istri-istri yang menjadi korban dimadu cinta, sudah saatnya untuk membuang jauh-jauh “cemburu buta”, arogan, kekanak-kanakan dan egoistis. Tapi sebaliknya mari berpikir lebih dewasa, bijak, jernih, bermartabat dan kembali pada aturan Allah. Ingat ! Islam mengharamkan selingkuh, tapi menghalalkan berpoligami, meski sangat berat dan rumit saratnya. Disisi lain, diri sendiri, masih adakah sesuatu yang “kurang” dalam diri maupun rumah tangga sehingga suami mulai berubah? Jika benar, cepatlah “perbaiki” apa maunya, dengan saling terbuka, dan jujur bersama suami.
Janganlah kasus yang merupakan masalah "besar" dalam rumah tangga ini menjadi semakin "besar" dan "melebar" ke mana-mana, yang pada akhirnya bukan hanya terjerumus kedalam “lembah perzinahan”, aib yang terekspos kepada umum. Tapi juga masalah "inti"-nya tidak akan terselesaikan, dan justru akan menyebabkan kehancuran, yang semakin menambah penderitaan, luka, duka dan air mata (Maulana)
Spoot
Poligami Menurut Syariat Islam
Apabila seorang suami yang ingin berpoligami, ada beberapa ketentuan yang telah diatur oleh Islam. Diantara hak setiap istri dalam poligami adalah sebagai berikut :
- Memiliki kemampuan untuk adil dalam bermuamalah dengan istri-istrinya, yaitu dengan memberikan, menyamakan hak dan nafkah kepada masing-masing istrinya.
- Setiap istri memiliki hak untuk mempunyai rumah sendiri. Firman Allah berbunyi :”Allah berfirman, “Menetaplah kalian (wahai istri-istri Nabi) di rumah-rumah kalian.......(QS Al Ahzab 33)”. Dalam ayat ini Allah menyebutkan rumah Nabi SAW dalam bentuk jamak, sehingga dapat dipahami bahwa rumah beliau tidak hanya satu.
- Memberikan hak para istri dengna seadil-adilnya. Dari Anas bin Malik, Kebiasaan beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bila menggilir istri-istrinya, beliau mengunjungi semua istrinya dan baru behenti (berakhir) di rumah istri yang mendapat giliran saat itu.(HR Muslim).
- Batasan Malam Pertama Setelah Pernikahan. Dari Anas bin Malik bahwa termasuk sunnah bila seseorang menikah dengan gadis, suami menginap selama tujuh hari, jika menikah dengan janda, ia menginap selama tiga hari. Setelah itu barulah ia menggilir istri-istri yang lain. (HR Bukhari)
- Tidak wajib menyamakan cinta dan jima’ di antara para istri, namun wajib memberi giliran diantara kedua istrinya secara adil. Sekalipun pembagian malam demi malam dapat terjadi, akan tetapi tetap saja ada perbedaan dalam rasa cinta, syahwat, dan jima’
Karena itu bagi suami yang akan berpoligami hendaknya melihat kemampuannya, janganlah pahala yang dinginkan, malah berbalik dengan dosa dan kerugian. “Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.”(HR Muslim).
Minggu, 23 Desember 2007
Mencari Perhiasan Dunia yang Terbaik
Dengani akidah tauhid, akhlak mulia dan budi pekerti luhur dapat menciptakan sebuah keluarga yang bahagi dunia akhirat serta menyiapkan generasi-generasi Islami
Didunia ini kebanyakan dari kaum lelaki mencari pendamping hidup lebih cenderung dengan wanita cantik, kaya, karir bagus, serta dapat menciptakan suatu rumah tangga bahagia. Karena mereka beranggapan, dengan materi yang lebih dari cukup rumah tangga akan menjadi bahagia sakinah, mawaddah warohmah.
Inilah suatu kekeliruan besar bagi kebanyakan pria yang lebih banyak memperhatikan penampilan dzahir, sementara unsur akhlak dari wanita dikesampingkan. Akibatnya wanita yang tidak terdidik dan berpegang pada agama, lebih-lebih menjadi fitnah besar bagi laki-laki akan menimbulkan hati tidak tentram, su’udzon, serta menjadikan duri dalam daging dan musuh dalam selimut bagi sang suami. Dampaknya, rumah tangga selalu sarat dengan keruwetan, keributan, dan perselisihan yang berujung pada kehancuran bahtera rumah tangga.. Istri seperti inilah yang sering dikeluhkan oleh para suami meskipun secara materi selalu tercukupi.
Istri salekhah memegang peranan penting
Dari sinilah yang harus dibutuhkan sosok seorang istri salihah, yaitu wanita atau istri yang berakhlak mulia, dan luhur. Karena dari akhlaklah sebuah rumah tangga nanti yang akan menentukan dan berpengaruh. Istri salihah mencintai suaminya semata-mata ikhlas karena Allah, selalu membantu dan mendorong suaminya untuk taat kepada Rabbnya. Hanya dalam diri wanita inilah tertanam aqidah tauhid, akhlak mulia dan budi pekerti luhur yang dapat memposisikan diri untuk menjadi naungan ketenangan bagi suami baik dikala suka maupun duka, menjadi qurratu a‘yun (penyejuk mata), saling ta’awun atau tolong menolong, memahami dan mengerti, guna menyiapkan generasi Islam, melahirkan serta menumbuhkan keturunan salih yang sesungguhnya.
Banyak hadist dari Rasulullah saw yang menyebutkan tentang wanita salihah, diantaranya adalah :
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan-perhiasan, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)
Ciri-ciri istri salikhah
Lalu bagaimana sifat-sifat wanita salihah ? Yang paling utama adalah selalu mentauhidkan Allah dengan melaksanakan ibadah baik yang fardu maupun sunnah hanya kepada-Nya. Tunduk kepada perintah, serta menjauhi larangan-Nya. ta'at kepada Allah. Selalu kembali dan bertaubat kepada-Nya, lisannya senantiasa berdzikir, istighfar, jauh dari perkataan laghwi, tidak bermanfaat, ghibah, naminah serta dusta.
Sebagai istri, ia selalu penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya, mentaati dan melaksanakan hak-hak suami selama dalam batas-batas aturan yang ditentukan oleh agama.
Rasul bersabda :
“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga, yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.(HR. An-Nasai)
Menjaga amanah suami
Disisi lain, ia selalu menjaga diri ketika suami berada disisinya, menjaga kehormatan baik dirinya maupun keluarga dan harta suami.Tidak keluar untuk bepergian tanpa seizin suami, meski tujuannya untuk ibadah, silaturrahmi hingga menjenguk orang tua yang sakit sekalipun. Selalu ikhlas dalam melayani suami lahir maupun batin ketika suami membutuhkan, serta menjaga rahasia-rahasia keluarga, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara suami-istri. Didepan suami senantiasa berpenampilan bagus dan menarik sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya.
Rasulullah Saw bersabda: “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud)
Selalu menyenangkan suami
Tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah disaat sang suami dberada disampingnya atau dirumah. Contoh misal, ketika sang suami sedang libur atau dirumah, kebetulan si istri sedang puasa sunnah. Oleh suami hal tersebut agak mengganggu atau menghalangi ruang geraknya untuk bercengkerama, maka si istri tahu diri untuk tidak melaksanakan ibadah tersebut kecuali bila suaminya mengizinkan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari)..
Selalu mensyukuri pemberian suami, segera memenuhi ketika suami membutuhkan serta tidak menolak tanpa alasan yang syar’i..
Allah Swt berfirman: “Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisa: 34)
Dari sinilah seorang lelaki muslim agar dapat lebih selektf serta hati-hati dalam memilih calon pendamping hidup. Karena salah satu tujuan keluarga muslim untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat adalah dianugerahinya seorang istri yang mampu menjadi penenang baginya sebagai teman bergaul, berbincang-bincang dan berdiskusi. Sebaliknyapun ia mampu juga menjadi penenang bagi istrinya, sehingga memberikan kasih sayang dan cinta di antara mereka dengan mendambakan syurga agar dapat menjadi tempat berkumpul mereka yang kekal abadi.(Imm)
Tulisan ini untuk para istri agar lebih membahagiakan suami secara ikhlas untuk tujuan
Ibadah kepada Allah
Peringatan Hari Ibu
Maksud mereka sebenarnya baik yaitu menghormati jasa-jasa kaum ibu dengan memberikan hak istimewa pada setiap peringatan hari ibu. Lalu mulai kapan dan dari manakah asal-usul tradisi tersebut ?
Di Indonesia hari ibu ditetapkan pada tanggal 22 Desember. Dihari itu banyak kita jumpai beberapa masyarakat yang masih memperingatinya dengan cara memberi sesuatu yang sangat istimewa bagi kaum ibu. Yaitu, Membebaskan kaum ibu dari seluruh pekerjaan rumah tangganya, sedangkan seluruh tugas-tugas seperti memasak, mencuci dan lainnya dilakukan oleh suami atau anak-anaknya, sedangkan aktivitas ibu pada hari itu hanya duduk, istirahat atau menikmati hiburan-hiburan. Bahkan ada sebagian keluarga yang sengaja memberi “kado istimewa” seperti, penyuntingan bunga, surprise party bagi para ibu, hingga mengajak berlibur ketempat-tempat hiburan atau wisata. Maksud mereka melakukan semua ini hanya untuk memuji ke-ibu-an, menghormati, menghargai jasa-jasa, mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu yang sudah lelah setiap harinya mengerjakan hampir semua urusan yang berhubungan dengan rumah tangga.
Moment Konggres Wanita Pertama
Meski dalam penetapan tanggalnya berbeda dengan negara-negara lain, misalnya di Amerika, Australia dan negara-negara Eropa yang lebih dikenal dengan Mother’s Day jatuh pada pertengahan Februari, namun hari ibu di Indonesia baru ditetapkan pada tahun 1959 berdasarkan Dekrit Presiden Nomor 316 yang mengambil moment pada saat Kongres Perempuan pertama yang berlangsung pada tanggal 22 Desember 1928 di gedung Mandala Bhakti Wanitatama Adisucipto, Yogyakarta. Ketika itu Organisasi perempuan yang sudah berdiri sejak 1912 dan beranggotakan dari para pejuang wanita seperti, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said, Cut Nya Dien, Cut Meautiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, M. Christina Tiahahu dan yang lainnya ini mengadakan kongres yang kini dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Konggres ini dihadiri oleh para pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara. Mereka terinspirasi oleh para prajurit wanita dijaman Rasul yang selalu ikut berjuang diberbagai peperangan. Misalnya, Aisyah (istri Rasul) memimpin Perang Jamal ditahun 656 M, prajurit-prajurit wanita perang Uhud yang gagah berani serta jihad-jihad lainnya. Para tokoh tersebut berkumpul untuk menyatukan pikiran dan semangat berjuang menuju kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda, serta perbaikan nasib kaum Hawa yang masih terbelakang, dan selalu “terjajah” oleh kaum lelaki pada saat itu. Dengan berpedoman pada syariat Islam dan dilandasi rasa senasib sepenanggungan mereka berusaha untuk mengangkat harkat dan martabat kaum wanita tanpa menuntut kesetaraan jender, melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa. Yang lebih hebat lagi, perjuangan ini dilakukan jauh sebelum kemerdekaan negeri ini diraih dan jauh sebelum konsep-konsep adil jender dan feminisme berkembang di negeri ini
Teradopsi Budaya Barat
Jika dilihat sepintas, sebenarnya tidak ada salahnya jika peringatan hari ibu dirayakan sebagai ucapan terima kasih kepada kaum wanita khususnya ibu. Namun pemahaman dari hari ibu selama ini telah terseret ke arah pemaknaan Mother’s Day, yang lebih ditujukan untuk memberi puja-puji terhadap ke-ibu-an (mother hood) atas perannya sebagai "pahlawan” yang telah melahirkan, menyusui, mengasuh anak, mengatur rumah tangga, melayani serta mendampingi suami. Mereka tidak pernah tahu serta menyadari jika semua ini telah teradopsi oleh budaya di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah kuno yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Sedangkan makna dari peringatan hari ibu yang sebenarnya adalah mengenang misi sejati perjuangan kaum perempuan menuju kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Disisi lain, pada hari itu merupakan suatu peristiwa yang dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Sehingga the state of being mother-nya seharusnya untuk memperingati dan mengharagai semangat para ibu atau perempuan yang hebat.
Wanita Mempunyai Posisi Istimewa
Dari sinilah letak salah kaprah tentang pemahaman hari ibu yang sebenarnya adalah bukan menghargai jasa kaum ibu sehari-hari, yang selalu melaksanakan kewajibannyaa selama ini hingga seolah-olah menjadi ‘sapi perahan’ kaum lelaki. Tapi peringatan ini bertujuan untuk mengenang dan memberi penghargaan kaum ibu tentang hak dan perjuangannya. Karena didalam syariat Islam sendiri telah disebutkan dengan jelas bagaimana hak-hak, posisi dan fungsi sebenarnya seorang ibu atau istri jauh lebih terhormat dan istimewa dari anggapan kebanyakan orang selama ini. Disisi lain menghormati atau menghargai harkat dan martabat kaum ibu sebagai pejuang yang hebat.itu tidak hanya setiap tanggal 22 Desember saja, tapi setiap hari selama dalam kontek syariat yang diajarkan Rasulullah saw.(Imm)
****
Kedudukan Kaum Ibu di Dalam Islam
Didalam syariat Islam kedudukan kaum ibu sebenarnya sangat mulia dan terhormat. Semua pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan sehari-hari seperti memasak, mencuci dan lainnya tersebut sebetulnya bukan dibebankan oleh ibu, tapi kewajiban suami untuk mencarikan pembantu.
Tugas atau kewajiban ibu menurut syariat Islam antara lain :
- Melahirkan dan menyusui bayinya.
- Mencetak generasi pejuang soleh, ahli surga, berakhlak dan berilmu melalui sentuhan
kasih sayangnya.
Hak-hak kaum ibu menurut Islam :
- Mendapatkan gizi yang cukup dari suami ketika menyusui.
- Mendapatkan perlakuan yang baik dan dihormati baik dari suami maupun anak-anaknya, . misalnya dosa besar jika seorang anak sampai berkata kasar atau membentak kepada ibu, sehingga ada pepatah “Surga berada ditelapak kaki ibu”. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua ibu bapakmu.” (Luqman:14).
Hak-hak kaum ibu menurut Islam :
- Mendapatkan gizi yang cukup dari suami ketika menyusui.
- Mendapatkan perlakuan yang baik dan dihormati baik dari suami maupun anak-anaknya, . misalnya dosa besar jika seorang anak sampai berkata kasar atau membentak kepada ibu, sehingga ada pepatah “Surga berada ditelapak kaki ibu”. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua ibu bapakmu.” (Luqman:14).
Racun Mental Anak Bangsa
by : mas Imam
Sepasang suami-istri itu duduk di depan layar televisi bersaman kedua anak yang duduk di sekolah dasar. Mereka bersama-sama menikmati tayangan hiburan segar dan murah di salah satu stasiun televisi. Alunan musik, dendangan lagu yang di sertai liukan tubuh yang sedikit agak terbuka dan menggoda menambah suasana serta aroma tersendiri.
Seorang penyanyi muda, cantik dengan pakaian minim, didampingi ibunya sedang mengalunkan tembang. Mereka berdua melenggak-lenggokkan tubuhnya didepan kamera dengan segala kemampuan dan ekspresinya. Di akhir acara si anak tiba-tiba menangis dipundak ibunya. Matanya sembab, air matanya menggurat garis kecil di atas riasan wajahnya yang tebal. Ia sangat bersyukur menjadi pemenang dalam sebuah kontes menyanyi yang di kemas dengan nama ....... Isak tangis bahagia itu semakin menjadi-jadi tatkala sang MC membacakan hadiah-hadiah yang ia peroleh. Peluk ciumanpun segera datang dari beberapa peserta lainnya baik pria maupun wanita. Sementara sang ibu melonjak kegirangan, berputar-putar menyalami semua yang ada di atas panggung. Dengan suka-ria ia tersenyum kadang tertawa, tak peduli walau jilbab menutupi kepalanya.
Tayangan tersebut terbilang sukses dengan rating yang melonjak tinggi dan sponsor mengalir deras. Pihak produserpun semakin mantap untuk menyelenggarakan kembali kedepan. Sementara beberapa stasiun televisi lain tidak mau kalah, ikut-ikutan mengemas acara sejenis meski dengan label berbeda. Maka lengkap sudahlah, hampir dibeberapa stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan acara serupa tapi tak sama demi popularitas dan rupiah yang mengalir dari iklan. Acara yang berbau seksualitas, vulgar inipun dikemas sedemikian menariknya dan ditayangkan pada jam-jam belajar, dimana tidak hanya orang tua atau dewasa yang menikmati, tapi anak-anakpun banyak yang ikut melihat, di sisi lain konsentrasi belajar mereka terpecah antara belajar dan menonton acara. Sementara, tayangan yang bersifat mendidik, penuh dengan tuntunan sepi dari pemirsa dengan alasan kurang menghibur.
Hedonisme
Dari sinilah mental dan jiwa si anak sedikit demi sedikit mulai terkontaminasi, terjebak dan menjadi korban akibat racun moral pertelevisian. Lambat laun, pelan tapi pasti, kecenderungan anak bangsa yang dikonstruksi secara sosial dapat menggiring mereka pada segala hal yang berbau hiburan. Mereka lebih mengedepankan hasrat dari pada rasio. Yang lebih parah lagi, mereka akan mengisolasi dirinya dari segala bentuk intelektualitas, ilmu serta pengetahuan yang menurutnya, membosankan, jenuh serta kurang menghibur. Mungkin beginilah barangkali yang dimaksud hedonisme atau sikap mementingkan kesenangan yang berujung dengan terciptanya masyarakat kapitalis masa depan sebagai bukti dampak dari efek negatif globalisasi.
Pembusukan mental inilah semakin hari kian menggerogoti jiwa si anak, ironisnya, sikap orang sama sekali tidak sadar jika bahaya telah mengancam ditengah-tengah keluarganya. Mereka terlalu asik berueforia dengan tayangan-tayangan yang menghibur tersebut. Di sisi lain pemerintah “tertidur” akan pentingnya pendidikan, dampak moral dan mental generasi anak bangsa karena terbuai akan pajak hiburan yang menggiurkan.
Lantas kita patut bertanya, apa, dimana dan bagaimanakah peran orang tua sesungguhnya dalam membangun generasi sebagai penerus bangsa yang tangguh dan Islami ? Mendidikkah atau menghancurkankah mereka ? Orangtua pastinya tak menginginkan kondisi seperti ini menimpa anak-anaknya. Sangat pantas jika merasa kuatir dengan berbagai tayangan televisi yang vulgar, seronok. Karena Allah SWT telah berfirman :”Katakanlah pada orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ........"(QS An Nuur 30-31)
Bimbingan Orang Tua
Karena itu mereka harus berperan aktif dalam pertumbuhan mental anak. Hal yang pertama harus dilakukan adalah memperbaiki mental anak bangsa dengan dibekali ilmu agama. Selanjutnya bimbingan orang tua sangat-sangat diperlukan ketika anak menonton televisi. Tayangan yang layak dinikmati haruslah bersifat hiburan yang mendidik, bukan yang berbau porno atau vulgar. Perlunya peran aktif orang tua untuk menemani saat anak-anaknya di saat menyaksikan tayangan-tayangan di televisi tidak hanya duduk diam. Orangtua harus bertindak aktif, dalam artian bersama sang anak, dibarengi dengan komunikasi yang lancar, menjelaskan sesuatu yang gamblang dalam pemikiran anak-anak, mana yang baik dan mana yang buruk, serta menolak keras acara yang berbau vulgar, seks dan kekerasan.
Jika pengawasan dan bimbingan dari orang tua dapat berlangsung dengan efektif, tentu dampaknya tidak terlalu besar, tetapi itu pun harus tetap diwaspadai. Begitu juga dengan Pemerintah, sudah waktunya memberi ketegasan, cepat-cepat mengambil tindakan terhadap pengelola stasiun televisi untuk dapat menghentikan tayangan yang mengandung unsur vulgar dan seksualitas yang banyak madharatnya dari pada manfaatnya. Sebab, jika tidak maka dampak-dampak yang jauh lebih dahsyat lagi akan banyak terjadi dan kehancuran generasi bangsa ini, tinggal menunggu waktu.
Spoot
Tayangan Perusak Moral
Di antara beberapa tayangan televisi yang vulgar, seksual, seronok dan sangat merusak moral khususnya bagi anak-anak antara lain :
- Sebagai seorang wanita yang melenggak-lenggokkan tubuh dengan aurat terbuka di depan umum adalah perbuatan yang diharamkan oleh syariat Islam.
Di dalam Al Qur’an, Allah SWT telah berfirman : “Hai Nabi, katakanlah kepada
istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-oarang beriman,
hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka"(QS Al
Ahzaab 27)
- Sebagai seorang ibu sangat tidak pantas mendukung anak perempuannya untuk melakukan hal-hal yang diharamkan agama seperti memamerkan tubuh di depan umum. Selain diharamkan agama, perbuatan tersebut merupakan budaya hedonis orang kafir yang terbiasa menjadikan wanita sebagai alat dan obyek pemuas nafsu, bukan manusia yang punya jiwa dan naluri.
- Adegan berangkulan, ciuman yang bukan mahramnya sangat dilarang oleh Islam, apalagi dipertontonkan di muka umum.
- Wanita dijadikan obyek promosi oleh produsen dan calon konsumen yang paling royal menghamburkan uang.
Sepasang suami-istri itu duduk di depan layar televisi bersaman kedua anak yang duduk di sekolah dasar. Mereka bersama-sama menikmati tayangan hiburan segar dan murah di salah satu stasiun televisi. Alunan musik, dendangan lagu yang di sertai liukan tubuh yang sedikit agak terbuka dan menggoda menambah suasana serta aroma tersendiri.
Seorang penyanyi muda, cantik dengan pakaian minim, didampingi ibunya sedang mengalunkan tembang. Mereka berdua melenggak-lenggokkan tubuhnya didepan kamera dengan segala kemampuan dan ekspresinya. Di akhir acara si anak tiba-tiba menangis dipundak ibunya. Matanya sembab, air matanya menggurat garis kecil di atas riasan wajahnya yang tebal. Ia sangat bersyukur menjadi pemenang dalam sebuah kontes menyanyi yang di kemas dengan nama ....... Isak tangis bahagia itu semakin menjadi-jadi tatkala sang MC membacakan hadiah-hadiah yang ia peroleh. Peluk ciumanpun segera datang dari beberapa peserta lainnya baik pria maupun wanita. Sementara sang ibu melonjak kegirangan, berputar-putar menyalami semua yang ada di atas panggung. Dengan suka-ria ia tersenyum kadang tertawa, tak peduli walau jilbab menutupi kepalanya.
Tayangan tersebut terbilang sukses dengan rating yang melonjak tinggi dan sponsor mengalir deras. Pihak produserpun semakin mantap untuk menyelenggarakan kembali kedepan. Sementara beberapa stasiun televisi lain tidak mau kalah, ikut-ikutan mengemas acara sejenis meski dengan label berbeda. Maka lengkap sudahlah, hampir dibeberapa stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan acara serupa tapi tak sama demi popularitas dan rupiah yang mengalir dari iklan. Acara yang berbau seksualitas, vulgar inipun dikemas sedemikian menariknya dan ditayangkan pada jam-jam belajar, dimana tidak hanya orang tua atau dewasa yang menikmati, tapi anak-anakpun banyak yang ikut melihat, di sisi lain konsentrasi belajar mereka terpecah antara belajar dan menonton acara. Sementara, tayangan yang bersifat mendidik, penuh dengan tuntunan sepi dari pemirsa dengan alasan kurang menghibur.
Hedonisme
Dari sinilah mental dan jiwa si anak sedikit demi sedikit mulai terkontaminasi, terjebak dan menjadi korban akibat racun moral pertelevisian. Lambat laun, pelan tapi pasti, kecenderungan anak bangsa yang dikonstruksi secara sosial dapat menggiring mereka pada segala hal yang berbau hiburan. Mereka lebih mengedepankan hasrat dari pada rasio. Yang lebih parah lagi, mereka akan mengisolasi dirinya dari segala bentuk intelektualitas, ilmu serta pengetahuan yang menurutnya, membosankan, jenuh serta kurang menghibur. Mungkin beginilah barangkali yang dimaksud hedonisme atau sikap mementingkan kesenangan yang berujung dengan terciptanya masyarakat kapitalis masa depan sebagai bukti dampak dari efek negatif globalisasi.
Pembusukan mental inilah semakin hari kian menggerogoti jiwa si anak, ironisnya, sikap orang sama sekali tidak sadar jika bahaya telah mengancam ditengah-tengah keluarganya. Mereka terlalu asik berueforia dengan tayangan-tayangan yang menghibur tersebut. Di sisi lain pemerintah “tertidur” akan pentingnya pendidikan, dampak moral dan mental generasi anak bangsa karena terbuai akan pajak hiburan yang menggiurkan.
Lantas kita patut bertanya, apa, dimana dan bagaimanakah peran orang tua sesungguhnya dalam membangun generasi sebagai penerus bangsa yang tangguh dan Islami ? Mendidikkah atau menghancurkankah mereka ? Orangtua pastinya tak menginginkan kondisi seperti ini menimpa anak-anaknya. Sangat pantas jika merasa kuatir dengan berbagai tayangan televisi yang vulgar, seronok. Karena Allah SWT telah berfirman :”Katakanlah pada orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ........"(QS An Nuur 30-31)
Bimbingan Orang Tua
Karena itu mereka harus berperan aktif dalam pertumbuhan mental anak. Hal yang pertama harus dilakukan adalah memperbaiki mental anak bangsa dengan dibekali ilmu agama. Selanjutnya bimbingan orang tua sangat-sangat diperlukan ketika anak menonton televisi. Tayangan yang layak dinikmati haruslah bersifat hiburan yang mendidik, bukan yang berbau porno atau vulgar. Perlunya peran aktif orang tua untuk menemani saat anak-anaknya di saat menyaksikan tayangan-tayangan di televisi tidak hanya duduk diam. Orangtua harus bertindak aktif, dalam artian bersama sang anak, dibarengi dengan komunikasi yang lancar, menjelaskan sesuatu yang gamblang dalam pemikiran anak-anak, mana yang baik dan mana yang buruk, serta menolak keras acara yang berbau vulgar, seks dan kekerasan.
Jika pengawasan dan bimbingan dari orang tua dapat berlangsung dengan efektif, tentu dampaknya tidak terlalu besar, tetapi itu pun harus tetap diwaspadai. Begitu juga dengan Pemerintah, sudah waktunya memberi ketegasan, cepat-cepat mengambil tindakan terhadap pengelola stasiun televisi untuk dapat menghentikan tayangan yang mengandung unsur vulgar dan seksualitas yang banyak madharatnya dari pada manfaatnya. Sebab, jika tidak maka dampak-dampak yang jauh lebih dahsyat lagi akan banyak terjadi dan kehancuran generasi bangsa ini, tinggal menunggu waktu.
Spoot
Tayangan Perusak Moral
Di antara beberapa tayangan televisi yang vulgar, seksual, seronok dan sangat merusak moral khususnya bagi anak-anak antara lain :
- Sebagai seorang wanita yang melenggak-lenggokkan tubuh dengan aurat terbuka di depan umum adalah perbuatan yang diharamkan oleh syariat Islam.
Di dalam Al Qur’an, Allah SWT telah berfirman : “Hai Nabi, katakanlah kepada
istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-oarang beriman,
hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka"(QS Al
Ahzaab 27)
- Sebagai seorang ibu sangat tidak pantas mendukung anak perempuannya untuk melakukan hal-hal yang diharamkan agama seperti memamerkan tubuh di depan umum. Selain diharamkan agama, perbuatan tersebut merupakan budaya hedonis orang kafir yang terbiasa menjadikan wanita sebagai alat dan obyek pemuas nafsu, bukan manusia yang punya jiwa dan naluri.
- Adegan berangkulan, ciuman yang bukan mahramnya sangat dilarang oleh Islam, apalagi dipertontonkan di muka umum.
- Wanita dijadikan obyek promosi oleh produsen dan calon konsumen yang paling royal menghamburkan uang.
Selasa, 13 November 2007
Talak Pernikahan
Sering kita mendengar ketika sepasang suami istri yang sedang bertengkar, karena demikian hebatnya, secara langsung salah satu dari mereka mengucapkan kata-kata “cerai”. Biasanya hal seperti ini sering diucapkan kebanyakan suami, bahkan hingga berkali-kali.
Hal seperti ini sudah merupakan talak syang tidak boleh dibuat main-main, sesuai hadiast Rasulullah yang berbunyi : “Ada tiga perkara yang sungguh-sungguhnya dan main-mainnya menjadi betulan, yaitu nikah, thalaq dan ruju’.” (Abu Daud)
Dan itupun sudah dijelaskan jauh hari sebelum melangsungkan pernikahan. Yaitu meskipun nikah siri atau KUA itu menurut agama sama saja, yang penting terpenuhi syarat dan rukunnya. Jadi, ketika sudah jatuh thalaqnya. Akan tetapi urusan thalaqnya tersebut baru satu kali, meskipun ia ucapkan 3 kali, 6 kali, bahkan jika ia ucapkan 1000 kali sekalipun tetaplah jatuh thalaq satu kali, dan ia bisa rujuk kembali tanpa harus menunggu-nunggu. Hal ini seperti tertuang dalam sebuah hadis :
“Sesungguhnya Rukanah mentalak istrinya tiga kali dalam satu ucapan, oleh karena itu ia merasa bersedih karena menganggap tidak bisa rujuk kembali, maka ia mengadu kepada Nabi SAW. Nabi bertanya : “Bagaimana engkau menjatuhkan thalaqnya ?” Rukanah menjawab : “Tiga kali pada satu ucapan.” Maka Nabi SAW pun menjawab : “Yang demikian itu cuma satu thalaq saja, maka dari itu rujuklah kepadanya.” (Ahmad)
Hal seperti ini sudah merupakan talak syang tidak boleh dibuat main-main, sesuai hadiast Rasulullah yang berbunyi : “Ada tiga perkara yang sungguh-sungguhnya dan main-mainnya menjadi betulan, yaitu nikah, thalaq dan ruju’.” (Abu Daud)
Dan itupun sudah dijelaskan jauh hari sebelum melangsungkan pernikahan. Yaitu meskipun nikah siri atau KUA itu menurut agama sama saja, yang penting terpenuhi syarat dan rukunnya. Jadi, ketika sudah jatuh thalaqnya. Akan tetapi urusan thalaqnya tersebut baru satu kali, meskipun ia ucapkan 3 kali, 6 kali, bahkan jika ia ucapkan 1000 kali sekalipun tetaplah jatuh thalaq satu kali, dan ia bisa rujuk kembali tanpa harus menunggu-nunggu. Hal ini seperti tertuang dalam sebuah hadis :
“Sesungguhnya Rukanah mentalak istrinya tiga kali dalam satu ucapan, oleh karena itu ia merasa bersedih karena menganggap tidak bisa rujuk kembali, maka ia mengadu kepada Nabi SAW. Nabi bertanya : “Bagaimana engkau menjatuhkan thalaqnya ?” Rukanah menjawab : “Tiga kali pada satu ucapan.” Maka Nabi SAW pun menjawab : “Yang demikian itu cuma satu thalaq saja, maka dari itu rujuklah kepadanya.” (Ahmad)
Mencintai Istri Orang Lain
Ada seorang remaja yang belum menikah, ketika ditempat kerja menaruh hati bahkan mencintai seorang wanita yang sudah bersuami, dosakah itu ?
Menaruh hati atau simpati kepada siapapun itu tidak ada larangannya dalam agama, baik itu orang yang sudah beristri, bersuami, singel, duda atau janda. Akan tetapi yang terlarang dan harus dijaga adalah berupaya untuk mendapatkan istri orang lain, atau berusaha untuk membujuk istri orang lain agar bercerai dengan suaminya dan menikah dengannya, atau berusaha menjalin hubungan dengan istri orang. Semua itu terlarang dan sangat berdosa melakukannya.
Sangat berbeda jika posisinya terbalik, anda adalah seorang suami sedangkan yang perempuan adalah seorang janda atau gadis maka hal itu boleh-boleh saja, karena agama memungkinkannya. Sepanjang dengan cara-cara yang baik dan adil.
Terhadap prmasalahan ini sebaiknya dijauhi saja sesuatu perbuatan yang akan berhubungan dengan istri orang tersebut. Jika kedua belah pihak sudah saling mencintai, hingga sulit dipisahkan, Bicaralah baik-baik dengannya, beri pengertian kepadanya dan suruhlah untuk kembali kepada suaminya dengan cara yang baik pula. Dan solusi yang tepat, sebaiknya segeralah mencari istri, tidak usah banyak memilih, yang penting wanita solihah. Hal ini untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang serupa nantinya. Percayalah jika perbuatan ini diteruskan, nanti malah akan runyam, dan lagi didepan Alloh perbuatan seperti itu sangat tercela.
Menaruh hati atau simpati kepada siapapun itu tidak ada larangannya dalam agama, baik itu orang yang sudah beristri, bersuami, singel, duda atau janda. Akan tetapi yang terlarang dan harus dijaga adalah berupaya untuk mendapatkan istri orang lain, atau berusaha untuk membujuk istri orang lain agar bercerai dengan suaminya dan menikah dengannya, atau berusaha menjalin hubungan dengan istri orang. Semua itu terlarang dan sangat berdosa melakukannya.
Sangat berbeda jika posisinya terbalik, anda adalah seorang suami sedangkan yang perempuan adalah seorang janda atau gadis maka hal itu boleh-boleh saja, karena agama memungkinkannya. Sepanjang dengan cara-cara yang baik dan adil.
Terhadap prmasalahan ini sebaiknya dijauhi saja sesuatu perbuatan yang akan berhubungan dengan istri orang tersebut. Jika kedua belah pihak sudah saling mencintai, hingga sulit dipisahkan, Bicaralah baik-baik dengannya, beri pengertian kepadanya dan suruhlah untuk kembali kepada suaminya dengan cara yang baik pula. Dan solusi yang tepat, sebaiknya segeralah mencari istri, tidak usah banyak memilih, yang penting wanita solihah. Hal ini untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang serupa nantinya. Percayalah jika perbuatan ini diteruskan, nanti malah akan runyam, dan lagi didepan Alloh perbuatan seperti itu sangat tercela.
Bersenggama pada Malam Jum'at
Pernah ada pendapat ulama apabila melayani suami atau melakukan hubungan suami istri pada melam jum’at, bagi seorang istri yang salekhah akan akan mendapat pahala sebagaimana para syuhada.
Melayani suami dengan cara berhubungan atau bersetubuh adalah kewajiban seorang istri salikhah. Namun perihal tentang berhubungan pada malam jum’at mendapat pahala seperti syuhada tersebut hadistnya lemah.
Akan tetapi meskipun tidak sampai sebesar itu pahalanya, memang hari jum’at adalah merupakan hari yang khusus. Oleh karena itu melayani suami pada waktu-waktu tersebut dengan niat sebagai ibadah, tentu akan mendapatkan pahala yang berbeda dari pada hari-hari biasa.
“Sebaik-baik hari dimana terbit matahari padanya, adalah hari jum’at.” (Muslim)
Melayani suami dengan cara berhubungan atau bersetubuh adalah kewajiban seorang istri salikhah. Namun perihal tentang berhubungan pada malam jum’at mendapat pahala seperti syuhada tersebut hadistnya lemah.
Akan tetapi meskipun tidak sampai sebesar itu pahalanya, memang hari jum’at adalah merupakan hari yang khusus. Oleh karena itu melayani suami pada waktu-waktu tersebut dengan niat sebagai ibadah, tentu akan mendapatkan pahala yang berbeda dari pada hari-hari biasa.
“Sebaik-baik hari dimana terbit matahari padanya, adalah hari jum’at.” (Muslim)
Maluruskan Orang Tua
Cinta dan kasih sayang sangat dianjurkan dalam Islam untuk perdamaian didunia ini, apalagi sesama manusia, setiap orang tentu ingin agar orang yang dicintainya meraih kebahagiaan baik didunia maupun diakherat. Namun ketika ada sesuatu yang dianggap keurang cocok mengenai akidah atau pemahaman yang tidak sejalan dengan syariat hingga menimbulkan gesekan yang berujung pertiakian, maka orang lain akan bersikap membenci apalagi hal itu terjadi antara anak dengan orang tua. Lalu bagaimana cara merajutnya kembali agar siorang tua bisa kembali seperti sebelum terjadi gesekan. Haruskan minta petunjuk agar segala daya dan upaya dilakukan orang yang dikasihinya bisa mengerti dan menyadari kesalahannya serta hidup didalam kebenaran. Mungkin itulah yang mereka inginkan terhadap orang tua yang sedang marah.
Akan tetapi anda jangan lupa bahwa urusan petunjuk itu adalah urusan masing-masing orang dengan Tuhannya, kita sebagai orang lain hanya bisa menjadi perantara, selanjutnya urusan sendiri-sendiri. Bahkan manusia yang paling mulia didunia ini, Nabi Muhammad Saw pun tidak bisa dan tidak mampu membuat orang berpetunjuk, meskipun ia orang yang beliau kasihi. Sejarah membuktikan bagaimana sayangnya Nabi terhadap pamannya Abu Thalib, bahkan beliau berdoa langsung, menangis kepada Alloh agar pamannya tersebut diberi petunjuk, namun beliau tidak bisa berbuat banyak terhadap urusan petunjuk ini, hingga Alloh berfirman :
“Sesungguhnya engkau (Muhammad), tidak bisa memberi petunjuk (bahkan) kepada orang yang kamu kasihi sekalipun. Akan tetapi Alloh lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih tahu siapakah orang-orang yang mau kepada petunjuk.” (QS. 28 : 56)
Maka dari itu tetaplah beri nasehat dengan baik dan pelan-pelan karena ini merupakan bukti kebaktian kepada orang tua. Janganlah terlalu dicecar dengan berbagai peringatan tetapi bertahap. Jangan pula terlalu banyak disalahkan, sedikit-sedikit keliru dan salah, tetapi untuk sementara yang diluruskan yang pokok-pokok dahulu. Dan yang paling penting adalah sikap didalam memberi nasehat haruslah secara halus dan sopan, ini penting sekali. Dan terakhir yang tidak kalah pentingnya, nasehatilah dia dengan teladan dan bantuan yang nyata, insya Alloh ia akan berfikir sendiri
Akan tetapi anda jangan lupa bahwa urusan petunjuk itu adalah urusan masing-masing orang dengan Tuhannya, kita sebagai orang lain hanya bisa menjadi perantara, selanjutnya urusan sendiri-sendiri. Bahkan manusia yang paling mulia didunia ini, Nabi Muhammad Saw pun tidak bisa dan tidak mampu membuat orang berpetunjuk, meskipun ia orang yang beliau kasihi. Sejarah membuktikan bagaimana sayangnya Nabi terhadap pamannya Abu Thalib, bahkan beliau berdoa langsung, menangis kepada Alloh agar pamannya tersebut diberi petunjuk, namun beliau tidak bisa berbuat banyak terhadap urusan petunjuk ini, hingga Alloh berfirman :
“Sesungguhnya engkau (Muhammad), tidak bisa memberi petunjuk (bahkan) kepada orang yang kamu kasihi sekalipun. Akan tetapi Alloh lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih tahu siapakah orang-orang yang mau kepada petunjuk.” (QS. 28 : 56)
Maka dari itu tetaplah beri nasehat dengan baik dan pelan-pelan karena ini merupakan bukti kebaktian kepada orang tua. Janganlah terlalu dicecar dengan berbagai peringatan tetapi bertahap. Jangan pula terlalu banyak disalahkan, sedikit-sedikit keliru dan salah, tetapi untuk sementara yang diluruskan yang pokok-pokok dahulu. Dan yang paling penting adalah sikap didalam memberi nasehat haruslah secara halus dan sopan, ini penting sekali. Dan terakhir yang tidak kalah pentingnya, nasehatilah dia dengan teladan dan bantuan yang nyata, insya Alloh ia akan berfikir sendiri
Senin, 12 November 2007
Suami Durhaka pada Mertuaa
Urusan selingkuh atau larinya suami dari istri itu sebenarnya bukanlah masalah pelet memelet, tetapi masalah kelakuan atau perilaku tidak bertanggung jawab dari suami atau kemungkinan juga masalah keluarga itu sendiri. Mungkin suami sibuk mencari-cari paranormal dengan menghabiskan uang secara sia-sia.
Sungguh sayang jika potensi seseorang terkuras, pikiran tertekan jika hanya saling menyalahkan, saling tuduh dan sebagainya, toh ternyata akibatnya sama saja. Untuk itu tidak usah dan tidak perlu mengkambing hitamkan klenik, mistik atau apaa sajalah yang berhubungan dengan itu, hanya orang kurang beriman yang suka begitu.
Jika seoran suami yang berani dengan mertua, dan tidak bertanggung jawab dengan keluarganya, ia adalah laki-laki pengecut, berdosa sangat besar sekali kepada ibunya dan kepada anak istrinya. Percayalah orang seperti itu jika tidak segera tobat, pasti akan segera mendapat hukuman Allah.
Selanjutnya, apa yang dilakukan oleh sang ibu marah aatau benci kepada orang tersebut itu tidak masalah karena ia sangat marah kepada anaknya, jadi wajar saja jika ia mengeluarkan kebencian dan kemarahan kepada anaknya yang tidak bertanggung jawab itu. Sang ibu tentu malu kepada menantunya dan merasa bersalah karena gara-gara anaknya sang menantu disia-siakan. Jadi saya kira wajar-wajar saja sang ibu demikian, justru anaknya yang memang tidak baik.
Mungkin tidak ada ketentuan jika dibenci orang tua jasadnya tidak akan diterima dibumi.. Bahkan orang yang kafir sekafir-kafirnya saja diterima bumi dan tidak ditolak ketika dikubur, apalagi ibu tadi. Jadi kalau ada cerita bahwa jika orang yang tidak baik akan ditolak bumi, itu hanya ada di sinetron saja. Toh kalau ada hanya sekali-kali, berlaku untuk semuanya, jadi tidak bisa dijadikan tolok ukur.
Kemudian, tidak ada dosa turunan didalam islam, tidak ada pelimpahan tanggung jawab dosa bagi keturunan didalam islam. Jadi pandangan seperti itu adalah salah dan ngelantur. Sebagai bukti adalah Nabi Ibrohim, dimana bapaknya adalah seorang kafir dan tokoh penyesat. Tetapi kenapa anaknya menjadi Nabi yang sangat disayangi Alloh ? Dan apakah penderitaan Nabi Ibrohim didalam kehidupannya akibat dari kekafiran bapaknya ? Tentu tidak bukan ? Tetapi karena ujian Alloh. Nah demikian pula keluarga ibu. Untuk itu sebaiknya seorang suami yang durhaka aagar :
1. Jika ibu masih mencintainya dan masih membutuhkannya, tawarkan (maaf) untuk berpoligami dengan adil baik pembagian waktu dan nafkah serta harta. Hal ini penting demi status ibu dan anak-anak.
2. Jika ibu merasa tidak sanggup untuk dimadu, maka ajukan saja gugatan cerai ke pengadilan dari pada terkatung-katung statusnya. Tetapi tentu saja dengan resiko yang lebih besar dari yang pertama.
3. Jika ibu memang masih sabar dan masih menunggu silahkan itu hak ibu, tetapi anda harus mendatanginya untuk bertanggung jawab terhadap nafkah anak-anaknya. Jika ia tidak mau harus dipaksa melaui kantor atau jika tetap tidak bisa bisa melalui pengadilan agama.
Sungguh sayang jika potensi seseorang terkuras, pikiran tertekan jika hanya saling menyalahkan, saling tuduh dan sebagainya, toh ternyata akibatnya sama saja. Untuk itu tidak usah dan tidak perlu mengkambing hitamkan klenik, mistik atau apaa sajalah yang berhubungan dengan itu, hanya orang kurang beriman yang suka begitu.
Jika seoran suami yang berani dengan mertua, dan tidak bertanggung jawab dengan keluarganya, ia adalah laki-laki pengecut, berdosa sangat besar sekali kepada ibunya dan kepada anak istrinya. Percayalah orang seperti itu jika tidak segera tobat, pasti akan segera mendapat hukuman Allah.
Selanjutnya, apa yang dilakukan oleh sang ibu marah aatau benci kepada orang tersebut itu tidak masalah karena ia sangat marah kepada anaknya, jadi wajar saja jika ia mengeluarkan kebencian dan kemarahan kepada anaknya yang tidak bertanggung jawab itu. Sang ibu tentu malu kepada menantunya dan merasa bersalah karena gara-gara anaknya sang menantu disia-siakan. Jadi saya kira wajar-wajar saja sang ibu demikian, justru anaknya yang memang tidak baik.
Mungkin tidak ada ketentuan jika dibenci orang tua jasadnya tidak akan diterima dibumi.. Bahkan orang yang kafir sekafir-kafirnya saja diterima bumi dan tidak ditolak ketika dikubur, apalagi ibu tadi. Jadi kalau ada cerita bahwa jika orang yang tidak baik akan ditolak bumi, itu hanya ada di sinetron saja. Toh kalau ada hanya sekali-kali, berlaku untuk semuanya, jadi tidak bisa dijadikan tolok ukur.
Kemudian, tidak ada dosa turunan didalam islam, tidak ada pelimpahan tanggung jawab dosa bagi keturunan didalam islam. Jadi pandangan seperti itu adalah salah dan ngelantur. Sebagai bukti adalah Nabi Ibrohim, dimana bapaknya adalah seorang kafir dan tokoh penyesat. Tetapi kenapa anaknya menjadi Nabi yang sangat disayangi Alloh ? Dan apakah penderitaan Nabi Ibrohim didalam kehidupannya akibat dari kekafiran bapaknya ? Tentu tidak bukan ? Tetapi karena ujian Alloh. Nah demikian pula keluarga ibu. Untuk itu sebaiknya seorang suami yang durhaka aagar :
1. Jika ibu masih mencintainya dan masih membutuhkannya, tawarkan (maaf) untuk berpoligami dengan adil baik pembagian waktu dan nafkah serta harta. Hal ini penting demi status ibu dan anak-anak.
2. Jika ibu merasa tidak sanggup untuk dimadu, maka ajukan saja gugatan cerai ke pengadilan dari pada terkatung-katung statusnya. Tetapi tentu saja dengan resiko yang lebih besar dari yang pertama.
3. Jika ibu memang masih sabar dan masih menunggu silahkan itu hak ibu, tetapi anda harus mendatanginya untuk bertanggung jawab terhadap nafkah anak-anaknya. Jika ia tidak mau harus dipaksa melaui kantor atau jika tetap tidak bisa bisa melalui pengadilan agama.
Cinta dan Benci
Hidup dan kehidupan didunia ini tidak akan terlepas dari 2 sisi yang berbeda. Ada siang dan ada malam, ada hujan dan ada terang, ada dingin dan ada pula panas, ada cantik dan ada pula yang kurang menarik, ada susah dan ada pula bahagia, dan termasuk ada benci dan ada pula cinta.
Semua itu Allah pasangkan didalam kehidupan ini agar hidup menjadi indah dan bermakna. Coba bayangkan jika hari itu gelap terus atau terang terus, tentu menjadi tidak menarik. Demikian pula jika didunia ini yang ada cinta terus, tentu juga menjadi tidak menarik. Kenapa demikian ? Karena tidak ada ujian bagi rasa cintanya, dan itu justru menjadikan hambar.
Demikian pula manusia siapapun dia dan betapapun hebatnya dia, tidak akan terhindar dari ke dua unsur diatas. Entah dia berbuat baik lebih-lebih berbuat buruk, tentu menuai dua sikap yang berbeda. Sebagai contoh adalah seorang preman yang suka mengganggu masyarakat, tentu akan di benci dengan kelakuannya. Tetapi toh masih saja ada yang menyukainya, buktinya dia masih saja punya teman-teman sealiran yang mendukung dan menemaninya.
Yang lebih hebat lagi adalah Rasulullah, apa yang kurang dari beliau,bahkan sesempurna-sempurnanya manusia, hingga betapa beliau itu memikirkan keselamatan umatnya hingga mengorbankan segala yang dimilikinya. Tetapi apa semua orang mencintainya ? Apa semua orang menerimanya ? Ternyata tidak? Ingatkah, betapa sebagian besar penduduk Mekah membencinya, bahkan sampai sekarangpun sebagian besar orang masih membencinya, terbukti dengan munculnya karikatur Nabi yang melecehkan.
Jadi membenci atau mencintai itu adalah sesuatu yang tidak bisa anda hindarkan, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Seberapapun baik anda pasti yang tidak suka meskipun banyak yang suka. Dan itu semua merupakan ujian agar seseorang lebih bisa sabar dan dewasa didalam mensikapi hidup ini..
Yang penting yang harus dilakukan adalah beribadah kepada Allah, diantaranya adalah dengan menikah. Yang kedua berbuat baik kepada siapa saja termasuk kepada suami dan mertua, tentunya dalam tingkat yang wajar. Janganlah berlebihan didalam mensikapi rasa benci orang lain, dan jika perlu bersahabatlah dengan orang yang membenci anda. Janganlah sampai karena takut dibenci akhirnya menggadaikan iman atau berbuat durhaka kepada Allah. Awas !!! siksa neraka lebih pedih dari segalaa-galanya.
Semua itu Allah pasangkan didalam kehidupan ini agar hidup menjadi indah dan bermakna. Coba bayangkan jika hari itu gelap terus atau terang terus, tentu menjadi tidak menarik. Demikian pula jika didunia ini yang ada cinta terus, tentu juga menjadi tidak menarik. Kenapa demikian ? Karena tidak ada ujian bagi rasa cintanya, dan itu justru menjadikan hambar.
Demikian pula manusia siapapun dia dan betapapun hebatnya dia, tidak akan terhindar dari ke dua unsur diatas. Entah dia berbuat baik lebih-lebih berbuat buruk, tentu menuai dua sikap yang berbeda. Sebagai contoh adalah seorang preman yang suka mengganggu masyarakat, tentu akan di benci dengan kelakuannya. Tetapi toh masih saja ada yang menyukainya, buktinya dia masih saja punya teman-teman sealiran yang mendukung dan menemaninya.
Yang lebih hebat lagi adalah Rasulullah, apa yang kurang dari beliau,bahkan sesempurna-sempurnanya manusia, hingga betapa beliau itu memikirkan keselamatan umatnya hingga mengorbankan segala yang dimilikinya. Tetapi apa semua orang mencintainya ? Apa semua orang menerimanya ? Ternyata tidak? Ingatkah, betapa sebagian besar penduduk Mekah membencinya, bahkan sampai sekarangpun sebagian besar orang masih membencinya, terbukti dengan munculnya karikatur Nabi yang melecehkan.
Jadi membenci atau mencintai itu adalah sesuatu yang tidak bisa anda hindarkan, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Seberapapun baik anda pasti yang tidak suka meskipun banyak yang suka. Dan itu semua merupakan ujian agar seseorang lebih bisa sabar dan dewasa didalam mensikapi hidup ini..
Yang penting yang harus dilakukan adalah beribadah kepada Allah, diantaranya adalah dengan menikah. Yang kedua berbuat baik kepada siapa saja termasuk kepada suami dan mertua, tentunya dalam tingkat yang wajar. Janganlah berlebihan didalam mensikapi rasa benci orang lain, dan jika perlu bersahabatlah dengan orang yang membenci anda. Janganlah sampai karena takut dibenci akhirnya menggadaikan iman atau berbuat durhaka kepada Allah. Awas !!! siksa neraka lebih pedih dari segalaa-galanya.
Keluar Cairan Usai Senggama
Mandi junub adalah ibadah dikarenakan sehabis berhubungan seksual, haid, nifas atau mimpi sehingga keluar mani. Jika seseorang istri berhubungan badan dengan suami kemudian mandi junub, maka hal itu sudah cukup membersihkan dari hadas besar.
Bagaimana dengan keluarnya cairan setelah bersenggama ? Kemungkinan besar cairan yang keluar dari (maaf) kemaluan anda itu adalah sisa-sisa sperma suami yang masuk ke mulut rahim kemudian setelah beberapa saat keluar lagi melalui vagina. Itu adalah peristiwa yang wajar yang hampir semua wanita mengalaminya setelah berhubungan badan dengan suami.
Jika terjadi demikian, tidak perlu mandi lagi, cukup dibersihkan saja atau dicebok seperti habis kencing sehingga bersih cairan tersebut. Jika keluarnya cairan itu setelah selesai sholat, maka sholatnyaa sah. Akan tetapi jika keluarnya cairan ketika sholat, maka harus berwudlu lagi dan mengulangi sholatnya. Jika keluarnya akan sholat, maka harus mengulangi wudlunya, tetapi tentu saja dengan terlebih dahulu membersihkan cairan tersebut.
Bagaimana dengan keluarnya cairan setelah bersenggama ? Kemungkinan besar cairan yang keluar dari (maaf) kemaluan anda itu adalah sisa-sisa sperma suami yang masuk ke mulut rahim kemudian setelah beberapa saat keluar lagi melalui vagina. Itu adalah peristiwa yang wajar yang hampir semua wanita mengalaminya setelah berhubungan badan dengan suami.
Jika terjadi demikian, tidak perlu mandi lagi, cukup dibersihkan saja atau dicebok seperti habis kencing sehingga bersih cairan tersebut. Jika keluarnya cairan itu setelah selesai sholat, maka sholatnyaa sah. Akan tetapi jika keluarnya cairan ketika sholat, maka harus berwudlu lagi dan mengulangi sholatnya. Jika keluarnya akan sholat, maka harus mengulangi wudlunya, tetapi tentu saja dengan terlebih dahulu membersihkan cairan tersebut.
Problematika Nafkah Keluarga
Di zaman seperti sekarang ini kebanyakan orang krisis semangat ghirah, mereka masih mempunyai semangat untuk mengedepankan akherat ketimbang dunia, sesuatu yang sudah banyak dilupakan oleh para muslimah dewasa ini didalam memilih pasangan hidup. Tapi jika benar-benar dilandasi oleh agama dan untuk ibadah, insya alloh jalan keluar akan cepat didapat.
Akan tetapi ada yang perlu yang harus diketahui, bahwa menikah itu adalah muamalah, dimana ikatan yang berkaitan tanggung jawab masing-masing didunia diatur dengan tegas dan jelas, agar tidak terjadi sengketa dikemudian hari. Ddalam aturan nikah, nafkah adalah merupakan kewajiban pokok seorang suami kepada istrinya, dan itu tidak bisa ditawar. Nafkah juga merupakan harga diri suami sekaligus penentram sebuah keluarga. Dan nafkah juga merupakan bukti cinta suami sekaligus salah satu hal yang pokok sehingga dibolehkannya melakukan hubungan seksual, melalui perkawinan tentunya. Jadi nafkah adalah masalah vital.
Banyak kasus yang mestinya masalah ini tidak perlu dirisaukan, kenapa tidak perlu dirisaukan ?
1. Karena mencari pekerjaan itu adalah hal yang mudah. Setiap hari di koran atau di tempat-tempat manapun sebenarnya ada lowongan pekerjaan, yang menjadi masalah sebenarnya adalah paradigma berfikir. Jika menunggu pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi calon anda, maka ini repot, bisa-bisa 10 tahun baru dapat.
2. Jika calon anda memang mencintai istrinya dan ingin menjadikan sebagai istri, semestinya bisa kerja apa saja yang penting mendapat nafkah untuk menghidupi keluarga, tentu saja sambil mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi anda.
3. Jika takut tidak bisa mencukupi, seperti yang telah diterangkan diatas bahwa menikah adalah muamalah, maka bisa diambil kesepakatan-kesepakatan antara anda dengan dia. Misalnya orang tua pihak suami membantu sedikit-sedikit, atau bisa dengan cara anda membantu dengan bekerja semampunya untuk sekedar menutupi kebutuhan.
Jadi tidak usahlah bingung ketika akan menikah. Jika seseorang sekiranya sudah mampu, maka cepat-cepatlah, tapu jika sudah menikah lalu belum mempunyai pekerjaan, maka segeralah mencari pekerjaan seadanya,. Kemudian rencanakan kehidupan anda sambil jalan. Jika perlu mintalah kepadanya untuk berbicara kepada kedua orang tuanya tentang hal ini. Bicaralah baik-baik dengan keluarga jika sudah punya pilihan serta memberikan alasan kenapa memilihnya. Dan jika memang diperlukan, sebaiknya mulai mencoba untuk mencari pekerjaan yang sederhana, hal itu untuk sedikit tambah-tambah sekaligus untuk memacu semangat calon agar segera bekerja.
Akan tetapi ada yang perlu yang harus diketahui, bahwa menikah itu adalah muamalah, dimana ikatan yang berkaitan tanggung jawab masing-masing didunia diatur dengan tegas dan jelas, agar tidak terjadi sengketa dikemudian hari. Ddalam aturan nikah, nafkah adalah merupakan kewajiban pokok seorang suami kepada istrinya, dan itu tidak bisa ditawar. Nafkah juga merupakan harga diri suami sekaligus penentram sebuah keluarga. Dan nafkah juga merupakan bukti cinta suami sekaligus salah satu hal yang pokok sehingga dibolehkannya melakukan hubungan seksual, melalui perkawinan tentunya. Jadi nafkah adalah masalah vital.
Banyak kasus yang mestinya masalah ini tidak perlu dirisaukan, kenapa tidak perlu dirisaukan ?
1. Karena mencari pekerjaan itu adalah hal yang mudah. Setiap hari di koran atau di tempat-tempat manapun sebenarnya ada lowongan pekerjaan, yang menjadi masalah sebenarnya adalah paradigma berfikir. Jika menunggu pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi calon anda, maka ini repot, bisa-bisa 10 tahun baru dapat.
2. Jika calon anda memang mencintai istrinya dan ingin menjadikan sebagai istri, semestinya bisa kerja apa saja yang penting mendapat nafkah untuk menghidupi keluarga, tentu saja sambil mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi anda.
3. Jika takut tidak bisa mencukupi, seperti yang telah diterangkan diatas bahwa menikah adalah muamalah, maka bisa diambil kesepakatan-kesepakatan antara anda dengan dia. Misalnya orang tua pihak suami membantu sedikit-sedikit, atau bisa dengan cara anda membantu dengan bekerja semampunya untuk sekedar menutupi kebutuhan.
Jadi tidak usahlah bingung ketika akan menikah. Jika seseorang sekiranya sudah mampu, maka cepat-cepatlah, tapu jika sudah menikah lalu belum mempunyai pekerjaan, maka segeralah mencari pekerjaan seadanya,. Kemudian rencanakan kehidupan anda sambil jalan. Jika perlu mintalah kepadanya untuk berbicara kepada kedua orang tuanya tentang hal ini. Bicaralah baik-baik dengan keluarga jika sudah punya pilihan serta memberikan alasan kenapa memilihnya. Dan jika memang diperlukan, sebaiknya mulai mencoba untuk mencari pekerjaan yang sederhana, hal itu untuk sedikit tambah-tambah sekaligus untuk memacu semangat calon agar segera bekerja.
Minggu, 11 November 2007
Memilih penitipan anak, ketika istri bekerja diluar
Pada hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama selain melayani suami, yaitu mengawasi, mengatur dan membimbing anak-anak. Apalagi jika ibu mempunyai anak yang masih kecil atau balita maka seorang ibu harus tahu betul bagaimana mengatur waktu dengan bijaksana.
Namun, jika dilihat dari sisi tinggi rendahnya perekonomian masing-masing keluarga sangat bervariasi. Bagi keluarga yang sudah mapan atau mampu untuk beaya kehidupan, mungkin tak pernah mengalami berbagai masalah. Namun bagi suatu keluarga yang tingkat ekonominya rendah, pas-pasan atau bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, solusi yang diambil adalah istri ikut bekerja untuk menopang kekurangan penghasilan suami.
Sedangkan disisi lain, zaman sekarang banyak kaum wanita yang bekerja dengan alasan mempunyai kesempatan atau mampu untuk menjalankan profesi yang ia geluti.
Dampaknya, akan terlihat pada kondisi keluarga terutama anak, seperti berkurangnya perhatian baik kasih sayang, pelajaran, maupun psykologinya. Untuk itu si ibu harus pandai-pandai mengatur waktu untuk keluarga bagaimana keluarga khususnya anak tetap memperoleh perhatian.
Solusi yang didiambil adalah dengan menitipkan anak pada orang tua (kakek-nenek) atau institusi penitipan anak. Namun bagaimana cara mencari institusi yang betul-betul dapat membuat anak dapat membentuk kepribadian yang baik dan benar dari berbagai segi, mulai dari akidah, akhlaq, etika maupun pelajaran sekolah. Untuk itu orang tua harus selektif dalam memilih institusi yaitu :
- Institusi yang memahami akidah Islam, sehingga sedikit banyak anak-anak kita mendapatkan bimbingan atau sentuhan tauhid sejak dini.
- Menerapkan bimbingan akhlaq yang tidak jauh menyimpang dari akhlaq Rasulullah atau akhlaqul karimah.
- Menanamkan etika menurut ajaran Islam sejak dini, baik pada sesama orang maupun lingkungan.
- Menanamkan rasa kasih saying baik kepada siapa saja.
- Yang memahami perepan psykologi terhadap anak sejak dini.
Karena jika orang tua tidak memperhatikan semua ini, maka sangat memungkinkan nantinya kepribadian anak akan terkena dampak pengaruh lingkungan yang negative, seperti kasus-kasus kenakalan remaja, narkoba, dan sebagainya.
Pengorbanan ini semua akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil
Namun tugas berat seorang ibu harus didukung dan dibantu sepenuhnya oleh suami sehingga meringankan pekerjaan istri dan dapat menjaga keutuhan serta keharmonisan rumah tanggapun baik. (Imam)
Namun, jika dilihat dari sisi tinggi rendahnya perekonomian masing-masing keluarga sangat bervariasi. Bagi keluarga yang sudah mapan atau mampu untuk beaya kehidupan, mungkin tak pernah mengalami berbagai masalah. Namun bagi suatu keluarga yang tingkat ekonominya rendah, pas-pasan atau bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, solusi yang diambil adalah istri ikut bekerja untuk menopang kekurangan penghasilan suami.
Sedangkan disisi lain, zaman sekarang banyak kaum wanita yang bekerja dengan alasan mempunyai kesempatan atau mampu untuk menjalankan profesi yang ia geluti.
Dampaknya, akan terlihat pada kondisi keluarga terutama anak, seperti berkurangnya perhatian baik kasih sayang, pelajaran, maupun psykologinya. Untuk itu si ibu harus pandai-pandai mengatur waktu untuk keluarga bagaimana keluarga khususnya anak tetap memperoleh perhatian.
Solusi yang didiambil adalah dengan menitipkan anak pada orang tua (kakek-nenek) atau institusi penitipan anak. Namun bagaimana cara mencari institusi yang betul-betul dapat membuat anak dapat membentuk kepribadian yang baik dan benar dari berbagai segi, mulai dari akidah, akhlaq, etika maupun pelajaran sekolah. Untuk itu orang tua harus selektif dalam memilih institusi yaitu :
- Institusi yang memahami akidah Islam, sehingga sedikit banyak anak-anak kita mendapatkan bimbingan atau sentuhan tauhid sejak dini.
- Menerapkan bimbingan akhlaq yang tidak jauh menyimpang dari akhlaq Rasulullah atau akhlaqul karimah.
- Menanamkan etika menurut ajaran Islam sejak dini, baik pada sesama orang maupun lingkungan.
- Menanamkan rasa kasih saying baik kepada siapa saja.
- Yang memahami perepan psykologi terhadap anak sejak dini.
Karena jika orang tua tidak memperhatikan semua ini, maka sangat memungkinkan nantinya kepribadian anak akan terkena dampak pengaruh lingkungan yang negative, seperti kasus-kasus kenakalan remaja, narkoba, dan sebagainya.
Pengorbanan ini semua akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil
Namun tugas berat seorang ibu harus didukung dan dibantu sepenuhnya oleh suami sehingga meringankan pekerjaan istri dan dapat menjaga keutuhan serta keharmonisan rumah tanggapun baik. (Imam)
Langganan:
Postingan (Atom)