Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2007

Kesabaran seorang pemuda miskin.

Kesabaran seorang pemuda miskin.
Alkisah di sebuah desa kecil ditepi hutan yang lebat, tersebutlah seorang pemuda yang tampan dan pendiam, Sanjaya namanya. Ia hanya seoarang anak janda miskin yang sehari-harinya selalu membantu ibunya mencari kayu bakar dihutan untuk dijual kepasar. Karena miskin ia sering dihina dan selalu dijauhi oleh penduduk disitu.
Setiap pulang dari pasar Sanjaya sering duduk termenung dibawah pohon sambil menghayal,” Alangkah bahagianya teman-temanku. Mereka bisa mencari ilmu dan belajar silat, dapat menjadi prajurit dikerajaan. Sedangkan aku, untuk makan sehari-hari saja sudah bersyukur. Tapi tak apalah membantu ibuku sudah lebih dari cukup dan merupakan suatu kewajiban untukku”.
Ibunya setiap malam selalu menasehati dan menghibur agar Sanjaya tidak putus asa, ”Sudahlah nak..Ibu memang tidak bisa membiayai kamu menuntut ilmu. Tapi percayalah do’a ibu setiap hari didengar oleh Yang Maha Kuasa. Suatu saat keinginanmu akan tercapai”.

Suatu malam Sanjaya bermimpi didatangi seorang kakek tua dan berkata,”Hai cucuku, kamu anak yang berbakti pada ibumu, bila kamu ingin mendapatkan keinginanmu, pergilah kesebuah hutan dilereng gunung yang paling barat dinegeri ini. Disana kamu akan menemukan seorang pertapa sakti dan tuntutlah ilmu disana”. Sanjaya terbangun dan betapa terkejutnya dia karena hanya subuah mimpi. Esoknya ia menceritakan mimpi itu kepada ibunya. Ibunya sedih karena putra satu-satunya akan pergi hingga tak tahu kapan kembali. “Baiklah naaak…..bila itu keinginanmu, ibu tidak bisa menghalanginya. Ibu akan berusaha sendirian disini, berangkatlah dan carilah apa yang selama ini kamu inginkan”. Akhirnya dengan berat hati si ibu melepas kepergian putranya seorang diri dengan linangan air mata dan do’a.
Esoknya dengan berbekal seadanya Sanjayapun berangkat kegunung yang menjadi tujuan. Banyak penduduk yang mencibiri dan menghinanya, namun Sanjaya hanya diam dan menunduk.

Setelah hampir tiga pekan ia menempuh perjalanan yang amat melelahkan, akhirnya tibalah dihutan kaki gunung yang dituju. Karena kelelahan akhirnya tertidur, namun ketika bangun tiba-tiba dihadapannya segerombolan perampok dengan golok terhunus dan membentak, “Hai!!!..anak muda beraninya kamu masuk kewilayah kami. Sanggup kamu membayar pajak bagi siapa saja yang memasuki daerahku”. “Ampun kisanak kami tak punya apa-apa hanya ini bekal secukupnya yang aku bawa” jawab Sanjaya. “Kurang ajar!!! Ambil semua bekalnya buang dia dijurang”.
Sanjaya hampir pingsan dibawah jurang, dengan sekuat tenaga ia berusaha bangkit. Apa saja yang ada disitu ia makan. Akhirnya dengan sisa-sisa tenaga ia berhasil kepuncak gunung dan memasuki sebuah goa, disitu akhirnya pingsan. Setelah siuman samar-samar dihadapannya berdiri seorang kakek berpakaian serba putih dan berkata dengan lembut, “Anak muda apa maksudmu jauh-jauh kesini, apa yang kau cari?”. Lalu diceritakanlah semua peristiwa yang menimpanya. “Akulah orang yang kau cari, rupanya hanya kamulah yang pantas mewarisi semua ilmuku sebelum aku meninggal” kata orang tua tadi. Sejak saat itu Sanjaya digembleng ilmu beladiri maupun ilmu-ilmu sosial lainnya.
Suatu hari Sanjaya diajak bicara serius pada orang tua tersebut, “Nak kamu disini sudah hampir sepuluh tahun. Kiranya sudah cukup ilmumu dan kini saatnya kamu turun gunung. Saat ini negerimu membutuhkan kamu, cepatlah berangkat”.

Keesokan harinya dengan rasa berat Sanjaya berpamitan gurunya dan turun gunung. Saat dijalan ia dicegat lagi sama gerombolan yang dulu merampoknya. Tapi dengan bekal ilmu yang dimilikinya semua dapat ditumpas habis. Penduduk setempat bersukur karena daerahnya kini aman sehingga ia mendapat tambahan bekal dari para penduduk.

Sampailah ia dikota raja yang ternyata terjadi pemberontakan, sang raja beserta keluarganya ditawan. Ketika memasuki gerbang kota. Sanjaya dihadang penjagaan berlapis, pertarungan sengit terjadi, akhirnya musuh dapat dilumpuhkannya. Kemudian dengan hati-hati memasuki kota satu persatu lawan dapat dilumpuhkan, tinggal para gembongnya yang agak sulit untuk ditundukkan.
Sanjaya terjepit dan terluka, dengan mengerahkan segala kemampuannya, pemimpin pemberontak akhirnya dapat ditaklukkan. Sang raja lalu dibebaskan, sebagai ungkapan terimakasih Sanjaya dijodohkan putrinya dan menggantikan kedudukan tahtanya. Namun apa yang terjadi, ternyata Sanjaya menolak. Ia memilih kembali pulang kedesa untuk menemui ibunya. Namun sesampai didesanya ia terkejut, ternyata ibunya telah lama meningal. Untuk mengenang ibu dan tanah kelahirannya ia membangun dan memimpin desa tersebut menjadi bagian dari kerajaan bersama putrid raja. Penduduk yang dulu menghina kini berbalik tunduk dan menghormatinya. Setelah raja meninggal Sanjaya naik tahta dan pusat kerajaan dipindah didesanya. (Maulana)

PEMBEBASAN PAJAK AIR KOLAM

PEMBEBASAN PAJAK AIR KOLAM
Juragan Bandot rupanya makin lama makin serakah. Kurang puas dengan hasil pungutan pajak dari tanah dan kebun miliknya yang disewakan kepada para penduduk, kini ia memborong dengan paksa semua kios yang ada pasar desa Sukarmaju dari pedagang lama yang kemudian disewa-sewakan lagi kepada semua pedagang dengan harga yang mahal sehingga pundit-pundi uangnya makin menumpuk.
Sebenarnya para pedagang mau protes dan berontak, tapi semua pada tidak berdaya, takut dengan para tukang pukul yang terkenal galak-galak. Maklumlah juragan Bandot sangat loyal dan dekat dengan Bupati sehingga apapun perkataannya selalu dipercaya dan dituruti. Akibatnya, ia bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk desa Sukarmaju., sehingga semua fasilitas yang ada didesa ini dikuasai dan dikaryakan yang hasilnya untuk kepentingannya pribadi.

Pada suatu sore juragan Bandot sedang duduk-duduk diteras rumahnya yang besar, sambil mengusap-usap perutnya yang kian buncit, ia minum kopi dan menghisap pipa rokoknya yang penuh kerak asap tembakau. Lalu memandangi semua orang-orang yang lewat didepan rumahnya karena akan pergi kemasjid yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
Dasar manusia berotak licik dan mata duitan, tiba-tiba Bandot tersenyum seolah mendapat ide cemerlang.”Hmm…bagus juga niih..seandainya orang-orang yang lewat disini setiap hari kutarik pajak,..wooow…aku akan semakin bertambah kaya. Tapi…bagaimana ya..caranya agar mereka mau membayar, tak mungkin mereka mau hanya melewati jalan umum ini kutarik pajak ?” Setelah melamun agak lama, tiba-tiba ia tertawa sambil berkata, “He…he..he…he…he…ini..baru cemeerlang. Yaaah..sebentar lagi jalan yang ada didepan masjid akan kubuat kolam, dan setiap orang yang kakinya masuk kolam harus bayar padaku…ha..ha…ha..ha..baguus, …baguuus,….baguuus”.

Keesokan harinya dipanggillah sejumlah pekerja bangunan untuk membuat kolam diatas jalan yang menuju pintu masuk masjid selebar badan jalan, sehingga orang yang mau masuk ke masjid harus melewati kolam yang airnya sedalam mata kaki.
Kemudian melalui salah seorang tukang pukulnya juragan Bandot memberi pengumuman, “Pengumuman !, pengumuman!,..perhatian kepada semua warga desa Sukarmaju. Pimpinan kita telah memikirkan semua rakyatnya ketika mau memasuki masjid, kakinya harus bersih. Untuk itu Juragan sangat berbaik hati dengan membangun kolam yang luas didepan pintu masuk masjid tanpa meminta sumbangan kalian. Tetapi apabila kaki kalian basah oleh air kolam, kalian hanya diwajibkan membayar beaya ganti airnya saja sebesar dua sen, dan ini sudah menjadi keputusan!!” .
Semua penduduk yang hadir terbengong-bengong dan saling berpandangan, bahkan ada yang berguman “Huuu…ini sama saja pemerasan, mana ada orang yang mau masuk masjid tidak melewati kolam, dan mana ada orang melewati kolam kakinya tidak terkena airnya, ini namanya akal-akalan juragn Bandot saja”.

Mulai hari itu setiap orang yang mau kemasjid dan kakinya basah oleh air kolam harus dua sen pada tukang pukul juragan Bandot yang berjaga didepan pintu masjid.
Namun lama kelamaan para penduduk akhirnya merasa resah, karena setiap kali akan menjalankan shalat dimasjid harus menyediakan uang dua sen. Akhirnya sebagian penduduk ramai-ramai kerumah Dul Shomad seorang tokoh yang disegani dan dihormati untuk dimintai pendapat. Setelah semua selesai bercerita panjang lebar, Dul Shomad diam sebentar, lalu tersenyum dan berkata dengan pelan tapi jelas, “Hmm……..begitu to ceritanya”, Lalu Dul diam agak lama, Lalu berkata,”Baiklah semuanya, mulai besok kalian semua membuat “egrang bambu” kemudian berlatih untuk menaiki, setelah semua bias, nanati jika pergi kemasjid, saat melewati kolam, semuanya menaiki egrang tersebut, insyaAllah kakai kalian tidak akan tersentuh air”. “Waa bagus benar ide pak Dul”, kata orang-orang yang dating kerumahnya.

Keesokan harinya semua penduduk yang biasa pergi kemasjid ramai-ramai mencari bambu untuk dibuat egrang (dua potong bambu yang panjangnya tiga meter, setengah meter dari pangkal bawah diberi tempat pijakan kaki). Kemudian berlatih untuk berjalan diatas pijakan egrang. Setelah semuanya mahir, setiap orang yang mau berangkat kemasjid masing-masing membawa sepasang egrang, begitu sampai dipinggir kolam, orang-orang menaiki egrang sampai keseberang kolam yang didikuti oelh Dul Shomad, lalu langsung menuju masjid tanpa membayar. Melihat kejadian tersebut para pengawal yang berjaga disitu marah dan menangkap semua orang yang ada disitu untuk dihadapkan pada juragan Bandot.
Dengan nada marah juragan Bandot berkata, “Kalian semua telah melanggar kesepakatan, tidak mau membayar, jadi kalian akan dihukum !!”. Dul Shomad mewakili semua yang hadir berkata dengan tenang, “Lho yang saya tahu peraturannya kan begini, barang siapa yang kakinya basah oleh air kolam, maka wajib membayar,dan orang-orang yang melewati kolam jangankan basah, menyentuh airt kolampun tidak. Iiya kan pak Bandot, bukankah peraturan itu yang membuat anda sendiri?”. Juragan Bandot tidak bisa menjawab lagi, tahu kalau peraturannya memang begitu.
Karena merasa kalah dan malu oleh Dul Shomad, maka sejak saat itu orang-orang yang kakinya kena air kolam tidak dipungut beaya lagi, para penduduk bersyukur dan berterima kasih pada Dul Shomad yang cerdik dan pandai. (MalikAzizi)

Janji yang harus ditepati

Janji yang harus ditepati
Cerita : Maulana
Syahdan, pada jaman dahulu kala berdirilah sebuah kerajaan yang diperintah seorang raja yang bijaksana. Sang raja mempunyai seorang putri yang sangat cantik sekali, putrid Zaitun namanya. Karena kecantikannya banyak pangeran dari negeri-negeri stetangga yang dating hendak melamarnya, tapi tak satupun yang diterima karena sang putrid belum merasa cocok. Setiap harinya sang putri senang bermain-main ditaman yang ditemani oleh dayang-dayang

Pada suatu hari sang raja mau berburu kehutan Swelabumi dilereng gunung Swelagiri. Seperti biasanya putrid Zaitun ikut serta dengan kucing kesayangannya yang diberi nama Menthik. Saat tiba dipinggiran hutan sang raja mulai menyiapkan busur dan memasuki hutan yang lebih dalam lagi. Tak berapa lama terlihatlah sepasang rusa yang berlarian, bersamaan dengan itu sang raja membidik dengan cermat dan ”Jreeet ….!! ..bruuuk” jatuhlah tersungkur salah satu rusa karena terkena panah sang raja. Dengan hati yang girang sang raja dan putrid Zaitun berlari menghampiri rusa yang sudah tak berdaya tadi.

Namun ketika sang putri mendekat tiba-tiba, huuaaaar…!!.kraaak….!!!segerombolan orang-orang liar muncul dari balik pepohonan menyerang dan membawa kabur sang putri.. Semuanya terkejut, tapi sang raja dengan sigap menangkis perlawanan para gerombolan namun tidak sempat menyelamatkan sang putrid yang dibawa lari masuk kedalam hutan. Sejumlah pengawal mengejar namun gagal. Sang raja sedih dan bingung, setelah dicari kesana-kemari dan dikerahkan semua prajurit untuk mencari, namun tidak juga ketemu. Karena semua kelelahan, akhirnya sang putri duduk dibawah pohon yang besar sambil bersedih karena putri satu-satunya tak kunjung kembali.

Sampai hari menjelang sore sang putrid tak kunjung ditemukan, karena merasa putus asa akhirnya sang raja membuat sayembara kepada semua saja, “Perhatian, kepada semuanya tanpa terkecuali. Bagi siapa saja yang dapat menemukan sang putrii, apapun yang diminta akan dituruti”. Dengan sisa-sisa tenaga para prajurit kembali menyebarlah kedalam hutan untuk mencari si putri. Namun lagi-lagi hasilnya gagal. Setelah semuanya putus asa tiba-tiba dari arah barat muncullah seorang pengemis dengan badan yang kotor, berbau dan pakaian compang-camping lalu berkata,”Ampun baginda raja bolehkan hamba mengikuti sayembara ini ?” Belum saja raja berkata, si kepala prajurit sudah dahulu menjawab,”Huaah…mana bisa kamu mampu. Yang menculik puteri adalah gerombolan liar dihutan ini, sedang kamu hanyalah pengemis yang lemah, bisanya hanya meminta-minta saja, sana pergi…!!. Tapi sang raja menjawab sambil menghibur, “Baiklah kalau kau mampu menemukan putriku, apapun yang kau minta akan aku turuti. “. ”Ampun baginda saya tidak meminta apa-apa, tapi saya sanggup membebaskan sang putrid dari tangan gerombolan asalkan nantinya hamba boleh meinang sang putri”.”Haaa…mimpi kali orang ini”?semuanya terkejut, tapi dengan tenangnya raja menjawab “Baiklah aku terima tawaran ini, mana mungkin orang seperti kamu dapat melawan gerombolan yang terkenal kejam itu”. Akhirnya sang pengemis itu mengejar gerombolan seorang diri, dengan kesaktian yang dimiliki segera memburu para gerombolan kedalam hutan. Akhirnya pertarungan yang tidak seimbang dan sangat sengit terjadi antara si pengemis yang dikeroyok oleh para gerombolan. Setelah berlangsung cukup lama para gerombolan dapat dilumpuhkan dan sang putri dapat dibebaskan yang langsung dibawa keistana..

Sesampai di istana semua orang yang ada seolah-olah tidak percaya melihat putrid selamat oleh pemuda kotor tadi, karena itu sang raja berkata, “Hai anak muda saya berterimakasih sekali kepadamu, tapi janji yang pernah kuucapkan sudah aku cabut kembali. Sebaiknya kamu minta hadiah yang lain saja pasti akan kuberikan”.”Tidak baginda, apapun yang anda berikan selain sang putri aku menolaknya”.”Lancang kamu…tangkap anak ini yang tak tahu diuntung!” teriak salah seorang pengawal. Baru saja para prajurit akan menangkap tiba-tiba sang putri bangkit dan berkata’ Tungguu…! Ingat..! ayah pernah menjajikan kepada anak muda ini jika telah berhasil membebaskan aku dari tangan gerombolan itu!. Tapi kini ayah telah mengingkarinya sendiri. Jika ayah tidak menghendaki, aku sendiri yang akan pergi dengan anak muda ini”. Mendengar perkataan putrinya akhirnya hati ayahnya luluh dan mengizinkan pemuda itu meminangnya. Setelah membersihkan badan dan ganti pakaian kesatria semuanya terkejut, karena pemuda yang semula dihina tadi ternyata berubah menjadi seorang pangeran yang gagah dan tampan lalu berkata, “Maafkan semuanya, aku sebenarnya memang putra mahkota Negara Swargadwipa tetangga negeri ini yang sedang menyamar untuk menumpas gerombolan liar dihutan. Untuk itu bagaimanapun juga aku harus menagih janji dari baginda”. Sang raja minta maaf dan sang putri menikah dengan pangeran.

Maka dari itu jika kalian berjanji harus wajib ditepati dan janganlah sekali-kali menilai orang dari luarnya saja, karena belum tentu orang itu akhlak maupun kepribadiannya lebih rendah yang diduga..

Gagalnya penyelewengan ditengah-tengah kekeringan

Gagalnya penyelewengan ditengah-tengah kekeringan

Musim kemarau panjang memasuki bulan keenam, sawah-sawah milik penduduk desa Mlatienggal sudah lebih dari dua minggu mengering karena kesulitan air. Akibatnya, banyak petani yang mengalami gagal panen, hasilnya cuma hanya pas-pasan untuk makan, itupun mereka harus lebih irit.

Sebulan telah berlalu, hujan belum juga turun sedangkan persediaan padi milik rakyat sudah kian menipis. Orang-orang menuntut pak lurah Jlodhong untuk meminta bantuan beras ke Kabupaten. “Baiklah akan kuusahakan ke Kabupaten, tapi jangan terlalu berharap banyak, disana kondisinya juga hampir seperti kita”, kata pak Jlodhong
didepan rakyatnya.
Setelah ditunggu sampai dua hari akhirnya pak Jlodhong tiba dari Kabupaten dan menyampaikan hasil yang ia peroleh, “Para penduduk desa Mlatienggal, kami mohon maaf, ternyata pihak Kabupaten tidak bisa memenuhi permintaan kalian, disana juga kesulitan pangan, pak Bupati hanya menghimbau kalian untuk hidup sederhana dan ngirit dulu, sabarlah sebentar lagi juga turun hujan, padi-padi kita juga nanti tumbuh”. Dengna perasaan kecewa para penduduk pulang kerumah masing-masing.

Namun ketika orang-orang berangkat shalat subuh kemasjid, sempat melihat empat buah kereta pedati memasuki pekarangan pak Jlodhong. Esok harinya setelah ditanyakan oleh penduduk, kereta semalam hanya memuat pasir untuk dikirim ke Kabupaten. Rakyat mulai curiga tapi tidak berani apa-apa karena takut pada para pengawal Jlodhong yang terkenal galak. Usai shalat Isya’ beberapa tokoh masyarakat Mlatienggal pergi kerumah Dul Shomad, orang tua cerdik, yang menjadi panutan rakyat setempat.
Sambil minum kopi dan ubi goreng mereka menceritakan semua kejadian tersebut. “Hmm….begitu .. Yaah baiklah nanti malam si Supar ikut aku, besok usai Subhuhan dimasjid nanti aku beri tahu perkembanagan selanjutnya, sekarang semua pulang ” kata Dul Shomad.
Setelah itu Dul Shomad bersama Supar sambil membawa bungkusan pergi kerumah Jlodhong, namun sesampai dipintu gerbang dihadang para pengawal. “Hei orang tua ..!malam-malam begini mau kemana kamu”, “Ooo..ini ada singkong gula kegemaran pak Lurah, boleh aku masuk ?” jawab Dul Shomad. “Heeh bailkah” , kata sipengawal.

Setelah bertemu Jlodhong, Supar secara diam-diam disuruh pergi kebelakang untuk mengetahui isi muatan pedati, sementara Dul Shomad mengalihkan perhatiannya. “Pak Lurah, ini ada singkong gula dari istri saya, ngomong-ngomong kapan berangkat ke Kabupaten lagi ?” Tanya Dul. “Oo..nanti malam. Habis kalau siang terlalu panas, sudah lama nggak turun hujan. Itu lho mau mengirim pasir untuk membangun bal”ai.
Setelah pamitan pulang Supar melapor Dul, “Pak, ternyata isinyta beras “. “Hmm.. ternyata Jlodhong ingin menipu rakyatnya dan menyelewengkan bantuan dari kabupaten. Par kamu ikut aku kejembatan ujung desa sekarang.”.
Setelah sampai diujung desa terdapat jembatan sempit yang cukup untuk satu pedati saja, lalu Dul menebang dua pohon randu yang batangnya penuh dengan duri, lalu didirobohkan disamping kana kiri sisi jalan sedangkan ujung batangnya diletakkan dipagar pembatas jembatan sehingga jalan agak menyempit lagi.
Tengah malam empat pedati mulai keluar dari rumah pak lurah, ketika melewati jembatan. Karena saking sempitnya jalan dan hari masih gelap, tanpa disadari para kusir pedati, karung-karung berisi beras sobek tergores duri-duri pohon randu yang berada disisi jalan, sehingga beras-beras dalam karung berceceran sepanjang jalan. Usai Shalat Subuh para penduduk diberitahu kalau ada beras disepanjang jalan, kemudian rakyat secara beramai-ramai mengambil beras tersebut.
Mengetahui kejadian itu Jlodhong tidak bisa apa-apa, karena takut rencananya dalam menyelewengkan beras bantuan Kabupaten terbongkar.
Akhirnya berkat ide Dul Shomad, beras bantuan gagal di selundupkan keluar desa dan rakyat dapat menikmatinya. (Azizi)

Kesrakahan yang membawa bencana

Kesrakahan yang membawa bencana

Syahdan, tersebutlah sebuah Negeri dari antah berantah yang wilayahnya sangat luas, serta sangat kaya yang. bernama Ymanthaka. Negeri ini amat ditakuti oleh negeri-negeri tetangga karena memiliki prajurit yang besar dan kuat.
Namun dibalik dari semua kebesaran dan kemegahan tersebut, sangat berlawanan dengan kehidupan rakyatnya yang tertindas, dan hidupnya miskin. Karena para pengawal selalu memaksa dalam menarik upeti atau pajak. Rakyat hanya pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa karena sangat takut, dengan para pengawal yang sangat kejam dan semena-mena.

Negeri Ymanthaka dipimpin oleh Prabu Nywitakawaca, seorang raja raksasa yang kejam, tamak, dan sewenang-wenang, sehingga amat ditakuti semua rakyatnya. Apapun yang ia minta harus terlaksana atau tercapai entah bagaimana caranya. Jika ada yang menolak, apalagi membangkang, hukuman gantung sudah didepan mata.
Kebiasaan buruk yang dimiliki sang raja adalah setiap ia berburu selalu menyukai gadis-gadis desa yang kelihatan cantik, kemudian dibawa keistana dan dijadikasn selir.

Pada suatu hari sang raja pergi berburu dihutan perbatasan. Saat melewati sebuah desa tertariklah seorang gadis cantik jelita yang melebihi kecantikan istri-istri sebelumnya. Kemudian diambillhah untuk dibawa pulang keistana untuk dijadikan istri.
Karena kecantikannya maka sang raja memanjakannya, dan apapun yang diminta sang istri diturutinya. Karena sangat dimanjakan dan dibedakan dengan istri yang lainnya Durghandiny nama istri tersebut menjadi besar kepala, congkak dan sombong sehingga apapun yang ia minta harus dituruti.

Pada suatu malam bulan purnama, sang raja sedang duduk-duduk santai dengan Durghandiny di taman kaputren, yaitu tempat istri raja bersantai. Ketika sang istri tengah asyik mendengarkan raja bercerita , ia memandangi terus bulan yang bersinar dengan terangnya. Lama-lama sang istri tersenyum dan berkata, “Kakanda Prabu, Andaikan saja aku dapat mengambil bulan itu, akan kujadikan hiasan dikepalaku. Ooo…alangkah indahnya jika itu terwujud, dan aku akan semakin cantik. Bisa kakanda prabu mengambilnya?”. Sang raja terkejut dan berkata,”Adinda putrid..! bukankah bulanitu letaknya sangat jauh dengan bumi kita ini? Bagaimana aku harus mengambil?, untuk sampai kesana saja sangat sulit”. “Kanda..!Selama ini kanda selalu dapat menuruti semua permintaanku dengan cara apapun. Cuma hanya ini saja kanda tidak bisa. Kanda kan seorang raja yang sakti, tidak ada seoragpun yang sanggup mengalahkan kanda prabu. Pokoknya bagaimana caranya kanda harus menuruti permintaanku..!”. “Baik-baik bidadariku akan kupikirrkan dengan para menteri”, jawab sang raja.

Keesaokan harinya dikumpulkanlah seluruh menteri untuk mengadakan rapat. Ketika raja mengungkapkan permintaan istrinya, semua yang hadir terkejut. “Haah…aapa!!!, rupanya istri raja sudah mulai gila, sangat mustahil itu”, guman salah seorang menterinya.
Akhirnya musyawarah menghasilkan keputusan untuk membangun sebuah menara yang tinggi untuk menggapai bulan. Setelah selesai pembuatannya, lalu raja naik sampai kepuncak, dan dipanahlah bulan agar jatuh. Namun apa yang terjadi, panah tersebut masih jauh sekali untuk sampai kebulan.
Sang istri kecewa, lalu raja memrintahkan lagi untuk meninggikan puncak menara lagi dua kali lipat. Setelah selesai raja naik lagi untuk memanah bulan, tapi gagal lagi. Raja kembali memerintah untuk meninggikan tiga kali lipat, namun selalu gagal.
Sang istri makin marah dan sang raja semakin bingung. Kemudian ditinggikan lagi hingga lima kali lipat, sehingga menara kelihatan tidak seimbang dengan pondasi dasar.
Karena rasa penasaran sang istri ikut naik bersama raja. Dan sang rajapun memerintahkan para menteri agar ikut naik kepuncak sambil membawa busur panah.
Sesampai dipuncak Sang raja bersama para menteri segera memanah sebanyak-banyak kearah bulan. Namun hingga busur mereka hamper habis tak satupun yang dapat mencapai bulan.
Karena pondasi yang tak seimbang dengan tingginya bangunan dan ditambah beban banyaknya orang yang diatas, lama-lama menara sedikit demi sedikit miring dan akhirnya runtuh.
Bbbbrrruuuuugghhh……!!! Aawaaaaass………!!! Semua lariiii!!! Menara runtuuuuh.!! “ teriak orang-orang yang ada dibawahnya.

Akhirnya, menara tersebut runtuh bersama raja, permaisuri dan para menterinya. Semuanya tewas gara-gara keserakahan sang permaisuri raja yang selalu dimanjakan.
Naah, adik-adik yang soleh, di ingat-ingat yaa !,kalian jangan terlalu manja pada orang tua atau siapapun, rakus dan serakah !. Karena sifat-sifat ini dilarang Allah, nanti akibatnya seperti Durghandiny istri raja yang tewas karena sifat-sifatnya