Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2008

Jalan Berliku Mantan Kupu-kupu Malam


Masa kecilnya hampir tak pernah merasakan kebahagiaan. Ketika teman-teman sebayanya bermain, canda ria, melanjutkan sekolah, Suryati harus berhenti di kelas lima karena kedua orang tuanya cerai. Bersama neneknya yang hidupnya serba pas-pasan ia membantu berjualan bubur di pasar Godong, Grobogan. Empat tahun kemudian neneknya meninggal dunia dan ia harus hidup sendiri. Karena tidak mampu meneruskan jualan neneknya, gadis kelahiran Penawangan, Purwodadi 45 tahun yang lalu ini memutuskan pergi merantau dengan harapan untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik.
Berbekal nekad minus pengalaman dan uang tabungan yang tidak seberapa berangkatlah Sur melalui stasiun Semarang. Begitu turun di setasiun Jatinegara, ia bingung, tidak tahu harus kemana. Keluar masuk toko, warung, pasar tak satupun yang mau menampungnya. Setelah dua hari ‘menggelandang’ di Jatinegara, bertemulah dengan Zamroni tetangga desa, penjual asongan di kereta api dan di titipkan menjadi pembantu bu Maimunah, penjual nasi warteg pasar induk Kramat Jati Jakarta Timur.

Dua tahun berlalu tidak terasa bagi Suryati. Dengan pekerjaan rutinitas bangun pagi memasak, cuci piring, bahkan sudah di percaya untuk belanja bahan mentah, pola hidupnya pelan-pelan sudah ada kemajuan. Pada suatu ketika seorang pemuda berdarah Flores yang sering makan di warungnya tertarik dengan Suryarti, Yustinus namanya. Pucuk dicinta ulam tiba, di terimalah cintanya. Singkat kata dirinya mulai merasakan sedikit kebahagiaan bersama bang Yus yang sering memberinya sesuatu seperti baju, sandal, sepatu bahkan perhiasan. Makin lama Suryati kian percaya bahwa bang Yus betul-betul ingin serius menikahinya. Tiga bulan kemudian resmilah perkawinan mereka. Namun Suryati baru sadar ternyata suaminya adalah salah satu pentholan preman Kramat Jati dengan gaya hidup yang serba keras. Tapi bagaimanapun juga semua sudah terlanjur, ia sendiri sudah bahagia dengan menempati rumah kontrakan sederhana berdua.
Belum puas merasakan indahnya bahtera rumah tangga, tiba-tiba sebuah tregedi menimpanya lagi. Ketika buah hatinya berusia tujuh bulan, kejadian tragis menimpa suaminya. Yustinus tewas ditikam sesama preman karena rebutan lahan kekuasaan. Hatinyapun hancur, tak tahu lagi kepada siapa ia harus bergantung. Sedangkan untuk kembali ke bu Maimunah rasanya tidak mungkin, karena warungnya telah di gusur. Rupanya ada teman Yus yang mau menampung ia dan bayinya. Tapi ternyata niat itupun tidak lebih buruk dari apa yang ia derita. Dengan iming-iming di masukkan di konveksi ternyata Suryati dijebloskan lokalisasi “Kramat Tunggak”, di kawasan Tanjung Priok.
Ia tidak bisa apa-apa lagi karena harus mengganti beaya selama ia hidup di penampungan, juga putranya dalam sekapannya dengan alasan mau di rawat. Dalam hatinya menangis, tiap malam bersimbah peluh melayani pria hidung belang. Suara musik dang dut bercampur rock dan aroma minuman seolah mengiringi dirinya yang kian terjerumus ke dalam lembah hitam yang dalam. Orang-orang sekitar yang memandang seolah menertawakan nasibnya. Ketika Qonsis menanyakan bagaimana perasaannya ketika ‘melayani’ tamu-tamunya, ia menjawab dengan agak malu “Saya tidak tahu lagi bagaimana perasaanku saat itu. Yang jelas semua ini terpaksa,terpaksa dan terpaksa, demi menghidupi anak saya. Ttdak ada rasa sedikitpun hati ini bahagia dan ingin segera lari dari situ, entah kapan sermua ini harus berakhir, pasrah tapi saya tidak pernah berhenti berdo’a.
Do’anya di dengar Allah. Tepatnya pada tanggal 31 Desember 1999 lokalisasi pelacuran yang sudah ada pada tahun 1970-an itu resmi ditutup Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan dibangun Jakarta Islamic Centre. Dengan uang tabungan yang sudah cukup saat itu juga Suryati mengambil anaknya untuk kembali ke kampung.

Hatinya mulai agak tentram berjualan ayam di desa setelah dirinya insyaf dan sering mengikuti berbagai pengajian. Selang beberapa tahun dirinya di nikahi oleh pedagang hasil bumi dari Buyaran Demak sebagai istri kedua. Kini Suryati yang baru saja menunaikan ibadah haji ini hidup bahagia bersama Rifai suaminya dan Yusuf (anak tinggalan Yus) membuka warung sembako di rumahnya jalan raya Semarang-Demak.

Selasa, 04 Maret 2008

Hatinya Tergugah di Lapas Nusakambangan

Sejak kecil dirinya memang sudah terbiasa dengan lingkungan keras(salah satu kampung di Semarang Utara), orang-orang sekitar yang akrab dengan minuman keras dan kriminal lainnya. Maka tidak heran jika pemuda bernama Zainudin (bukan nama sebenarnya) alias Keling ini terbentuk dan terbiasa dengan suasana kehidupan tersebut. Setiap malam dengan teman-temannya sering nongkrong di gardu depan kampungnya hingga menjelang dini hari sambil gitaran dan pesta miras. Di sekolahnyapun ia sering terkena hukuman dari gurunya karena berkelahi, membolos dan lain-lainnya sehingga ketika Qonsis menanyakan tentang pendidikan terakhirnya, ia hanya tersenyum malu, “Sudahlah mas itu tidak penting, saya malu kalau di singgung soal sekolah....yang penting sekarang kan sudah sadar...ha..ha..ha...” . Di tempat tongkrongannya inilah remaja kelahiran 2 September 1955 tersebut yang semula hanya iseng-iseng saja menggoda orang lewat, kadang sekedar minta rokok hingga menjadi penodong, sering berkelahi hingga tawuran antar kelompok. Suatu ketika ia terlibat perkelahian antar kampung, adu senjata tajampun tak terhindarkan yang mengakibatkan beberapa temannya terluka parah dan ia sendiri berurusan dengan pihak kepolisian.

Perang Antar Kelompok
Enam bulan mendekam terasa pahit merasakan dinginnya lantai kamar balik jeruji besi. Namun penjara tidak membuatnya jera, begitu bebas mental dan keberaniannya bertambah besar untuk menghadapi lawan-lawan saingannya. Dengan merangkul beberapa temannya, Zainudin mulai memperluas ‘daerah atau wilayah’ kekuasaannya. Maka di rebutlah salah satu Pasar di wilayah Semarang Utara yang menghasilkan banyak uang dari keamanan. Musuh-musuhnyapun selalu mengincar hingga pada suatu hari pecahlah bentrokan antara kubu pimpinan Keling melawan kelompok preman kampung sebelah pimpinan Brewok. Korbanpun berjatuhan hingga teman dekat Keling sendiri terluka parah akibat sabetan pedang musuhnya. Dari sinilah dendam mulai tersulut. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya bersama rekan-rekannya, ia terus memburu Brewok, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun, katanya kepada Qonsis ketika di temui.

Dendam Berakhir Pembunuhan
Pada suatu sore menjelang Hari Raya Idul Adha Sp (mata-mata-istilah bahasa premannya) dari Zainudin melihat Brewok bersama temannya sedang memperbaiki kendaraan di sebuah bengkel jalan raya Kaligawe, lalu ia segera melapor “komandan” Keling. Saat itu juga penggrebekan di lakukan. Pertarungan tidak seimbangpun terjadi, dua lawan sembilan orang yang berakhir dengan tewasnya Brewok di ujung samurai Keling. Puas rasanya bisa menghabisi pesaing utama meski ia harus kembali lagi ke balik jerusji besi. Meskipun telah menghabiskan puluhan juta hasil iuran dari teman-teman sesama preman dan keluarganya sendiri untuk menyuap jaksa, namun tetap saja vonis tujuh tahun diketuknya. Mau tidak mau diterimalah semua keputusan pihak pengadilan.

Dari Mlaten ke Nusakambangan
Hari-hari sepi mulai dirasakan di Lapas Mlaten pada waktu itu (sebelum pindah ke Kedung Pane) karena dirinya memang sengaja menjauhi kekerasan yang sering terjadi di setiap lapas untuk memperebutkan pimpinan kelompok (geng) dan kekuasaan. Namun pada suatu hari ketika dirinya di ejek, dihina dan di tekan, kesabarannya yang selama ini dipendam kembali ‘pecah’. Akhirnya bentrok sesama napipun tak terelakkan dengan jatuhnya korban kepala geng, Sanusi terkena tusukan Zainudin. Buntut dari semua ini Zainudin di pindah ke Lapas Nusakambangan.
Dari sinilah ia menuturkan bahwa hatinya mulai tenang dan hari-hari sepi di habiskan untuk membaca-baca buku yang disediakan oleh Lapas serta seringnya mendengarkan ceramah keagamaan. Setiap mendengar ayat suci dan adzan di kumandangkan air matanya sering meleleh, hatinya terbua dan jadilah ia seorang yang g tekun ibadah meskipun dari kecil tak pernah sekalipun menerima ajaran tentang agama.

Kambuh Lagi
Setelah bebas pengaruh rekan-rekan sesama preman mulai masuk. Penyakit lamanya kambuh lagi. Bersama para teman-temannya ia melebarkan kekuasaannya. Singkat kata bersama ia berhasil dan menjadi salah satu “Raja” minyak ilegal (perdagangan minyak dari hasil pemotongan setiap tangki yang akan memasok ke SPBU) dan melebarkan sayap hingga Jakarta serta namanya kian di segani. Namun ketika operasi besar-besaran Polwiltabes Semarang, dan cabangnya Jakarta juga ‘digulung habis’ oleh Polda Metro Jaya, usahanya benar-benar “hancur”, ia terpaksa menganggur hanya mengandalkan istrinya sebagai pedagang di Pasar Johar.
Di saat inilah ingatannya saat di Nusakambangan terbuka kembali dan mulai sadar apa yang telah ia lakukan selama ini keliru. Apalagi ketiga anaknya sudah menginjak dewasa, dan ia juga berkata “Apakah aku harus seperti itu terus ? manusia kan tidak hidup selamanya, roda itu tidak selalu di atas mas” katanya ketika di temui Qonsis.
Ketika di temui Qonsis di rumahnya yang terbilang cukup lumayan di salah satu di kawasan Pondok Raden Patah, ia kelihatan lebih santun, tekun beribadah dengan tato yang tersembunyi di balik kokonya. Ketika Qonsis bertanya tentang sikapny jika teman-teman lamanya kesini untuk “mengajak” lagi ? Ia hanya tersenyum, “Sudahlah, Zainudin sekarang bukan seperti Zainudin yang dulu lagi”. “. Berarti sudah insaf beneran dong, amiin.(Imm)

Jumat, 26 Oktober 2007

AIR SAKTI DAN HP YANG HILANG

AIR SAKTI DAN HP YANG HILANG
Oleh Haydar

1. Pada hari Sabtu Jejen dan teman-temannya menghadiri acara perpisahan kelas dirumah Dinda, karena semuanya naik. Jejen berangkat bersama-sama dengan Aziz, Didik dan Yusak dengan baju yang bagus-bagus
2. Setelah acara makan-makan, tiba-tiba terjadi keributan, karena ponsel milik Aziz hilang. Maklum zaman sekarang anak-anak SD sudah banyak yang memegang ponsel
3. Setelah ditanya satu-persatu ternyata tidak ada yang tahu, Lalu orang tua Dinda menanyakan pada mbah Kemis orang pintar disebelah rumahnya.”Waah ini ada yang mencurinya. Akan aku beri pelajaran biar jera”, kata mbah Kemis.
4. Mbah Kemis memberi minum air kendi yang telah diberi mantra kepada anak-anak satu persatu sambil berkata,”Ini air sakti, jika kedapatan ada yang mencuri nanti perutnya membesar”.Merasa tak mengambil anak-anak meminumnya.
5. Tapi setelah ditunggu sampai lama tak satupun perut anak-anak yang membesar. Lalu Jejen menghampiri Aziz,”Ziz berapa nomor hp mu”. “Ooo..ini”, kata Aziz sambil memberikan nomornya dan Jejen langsung memijit nomor Aziz pada hpnya
6. Tak berapa lama berbunyilah sinyal hp Aziz dari pojok rak buku.. “Itu dia hpnya”, kata anak-anak. Ternyata Aziz lupa meletakkan hpnya dirak buku. Mbah Kemis dengan tersipu malu cepat-cepat pergi meninggalkan ruangan.