Ada orang yang rajin beramal, bersedekah, namun tidak pernah mendapatkan apa-apa di akherat nantinya, kenapa demikian ?
Sudahkan kita sadari jika amal atau sedekah yang selama ini dikeluarkan hanya semata-mata ikhlas karena Allah ? Hampir semua orang yang beramal atau bersedekah, selalu mempunyai niat dan tujuan ikhlas. Meski dari yang berbentuknya ringan, seperti menyingkirkan duri ditengah jalan, memberi sesuatu pada tetangga atau pengemis, hingga menyumbang bahkan mendirikan masjid atau madrasah. Semua itu perbuatan mulia dan Allah akan memberi balasan yang berlipat jika semua dilandasi dengan rasa ikhlas dan ridho karena-Nya, ibarat orang meludah lalu pergi tanpa memikirkan air ludahnya. Apalagi seperti menwakafkan tanah untuk masjid, madrasah, makam atau rumah sakit yang terus menerus dipakai untuk kemaslahatan, pahalanya akan semakin mengalir selama tempat itu masih dipakai.
Namun kadang kita kurang atau tidak menyadari bahwa semua amalan tersebut selalu mengandung resiko serta godaan yang akan menghapus pahala dari perbuatan itu sendiri. Niat yang semula ikhlas dan ridho hanya untuk Allah tanpa dirasa, pelan-pelan akan melenceng dari tujuan semula yang akhirnya amalannya tidak mendapatkan apa-apa.
Misalnya niat hati mau menyumbang pembangunan masjid dengan ikhlas karena Allah. Tapi ketika disitu hadir seorang tokoh yang disegani atau pembesar, tanpa disengaja dan disadari, dalam hati kita sedikit saja merasa bangga jika sumbangannya nantinya akan diketahui oleh mereka dengan harapan mendapat perhatian atau sanjungan. Atau contoh yang lain misalnya, ketika kita memberi sedekah pengemis dengan jumlah yang banyak dengan niat hati yang ikhlas karena hanya mengharap pahala dari Allah, tapi perbuatan tersebut kita ceritakan kepada orang lain meskipun tidak ada niat untuk pamer.
Dari sinilah setan membuat jebakan godaan halus melalui sifat yang dinamakan ‘pamer’ yang berujung riya dan berakibat hangusnya pahala amalan. Berapapun amalan seseorang, jika sudah terkontaminasi penyakit ini maka akan sia-sialah mereka. Apalagi kalau sudah menguasai hati, maka ini sudah perbuatan syirik kecil yang lambat laun akan mengikis sendi-sendi keimanan setiap muslim. Setelah kita mengetahui semua ini, lalu apa yang harusa kita lakukan ?
Sebenarnya mudah dan gampang yaitu, ikhlas yang berasal dari kata 'khalish' yang berarti murni, suci, bersih, tidak bercampur dengan noda atau yang kotor. Untuk menjadikan hati ikhlas, serahkan diri kita sepenuh hati kepada-Nya, sadar jika semua yang kita miliki ini hanya titipan dan suatu saat akan kembali pada Allah. Dari sini seseorang akan menyadari dan tahu bagaimana sikap ikhlas yang menuntun jiwa kita hanya untuk melakukan sesuatu karena Allah, bukan karena ingin disanjung atau dipuji. Jika sudah demikian....silahkan beramal, bersedekah ...hanya karena Allah. Karena itu marilah .........apapun yang akan kita lakukan, semua hanya karena Allah semata (masIm)
.
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 Februari 2008
Senin, 21 Januari 2008
Mencari Keridhoan Allah Dari Amal dan Sedekah
Sudahkan kita menyadari amal atau sedekah yang selama ini kita keluarkan hanya semata-mata ikhlas karena Allah ?
Setiap manusia yang beramal atau bersedekah, pasti mempunyai niat atau tujuan yang beraneka ragam. Dari amal yang bersifat kecil, seperti memberi sesuatu pada tetangga, pengemis dijalan hingga menyumbang bahkan mendirikan masjid atau madrasah. Sebenarnya perbuatan ini sangat mulia, serta dianjurkan oleh Rasul. Allah akan memberi balasan yang berlipat jika semua dilandasi dengan rasa ikhlas dan ridho karena Allah. Apalagi jika hasilnya dipakai secara terus-menerus, seperti menwakafkan tanah untuk masjid, madrasah, makam dan lainnya. Pahalanya akan semakin bertambah terus selama ada orang yang menggunakannya untuk kemaslahatan. Tapi, masih banyak dari mereka yang kurang atau tidak menyadari bahwa semua amalan tersebut selalu mengandung resiko serta godaan yang akan menghapus pahala dari perbuatan itu sendiri. Niat yang semula ikhlas dan ridho hanya untuk Allah tanpa dirasa, pelan-pelan akan melenceng dari tujuan semula.
Misalnya niat hati mau menyumbang pembangunan masjid dengan ikhlas karena Allah. Tapi ketika disitu hadir seorang tokoh yang disegani atau pembesar hadir, tanpa disengaja dan disadari, dalam hati kita sedikit saja merasa bangga jika sumbangannya diketahui oleh mereka dengan harapan mendapat perhatian atau sanjungan. Kemudian contoh yang lain misalnya. Ketika kita memberi sedekah pengemis dengan jumlah yang banyak dengan niat hati yang ikhlas karena hanya mengharap pahala dari Allah. Tanpa sengaja kita ceritakan kepada orang lain tentang perbuatannya tadi.
Dari sinilah setan membuat jebakan godaan halus melalui sifat yang dinamakan ‘pamer’ yang berujung riya dan berakibat hangusnya pahala amalan. Berapapun amalan seseorang, jika sudah terkontaminasi penyakit ini maka akan sia-sialah mereka. Setelah kita mengetahui semua ini, lalu apa yang harusa kita lakukan ?
Sebenarnya mudah dan gampang yaitu, ilmu dan ikhlas dalam hal ibadah yang harus seimbang dan jangan sampai dipisahkan. Ilmulah yang menjadi pegangan dan pembimbing manusia untuk mengetahui kebenaran. Bagaimanapun tekunnya seseorang melaksanakan ibadah jika tidak dilandasi dengan ilmu yang benar, maka ia akan tersesat. Berbeda dengan ilmu yang benar sudah dimiliki, maka seseorang dalam menjalankan ibadah sesuai dengan tinggal bagaimana kita menjalankan ibadah yang benar hingga akhirnya timbullah rasa keikhlasan dari dalam hatinya. Dari sini seseorang akan menyadari dan tahu bagaimana sikap ikhlas yang menuntun jiwa kita hanya untuk melakukan sesuatu karena Allah, bukan karena ingin disanjung atau dipuji.(masIm)
.
Setiap manusia yang beramal atau bersedekah, pasti mempunyai niat atau tujuan yang beraneka ragam. Dari amal yang bersifat kecil, seperti memberi sesuatu pada tetangga, pengemis dijalan hingga menyumbang bahkan mendirikan masjid atau madrasah. Sebenarnya perbuatan ini sangat mulia, serta dianjurkan oleh Rasul. Allah akan memberi balasan yang berlipat jika semua dilandasi dengan rasa ikhlas dan ridho karena Allah. Apalagi jika hasilnya dipakai secara terus-menerus, seperti menwakafkan tanah untuk masjid, madrasah, makam dan lainnya. Pahalanya akan semakin bertambah terus selama ada orang yang menggunakannya untuk kemaslahatan. Tapi, masih banyak dari mereka yang kurang atau tidak menyadari bahwa semua amalan tersebut selalu mengandung resiko serta godaan yang akan menghapus pahala dari perbuatan itu sendiri. Niat yang semula ikhlas dan ridho hanya untuk Allah tanpa dirasa, pelan-pelan akan melenceng dari tujuan semula.
Misalnya niat hati mau menyumbang pembangunan masjid dengan ikhlas karena Allah. Tapi ketika disitu hadir seorang tokoh yang disegani atau pembesar hadir, tanpa disengaja dan disadari, dalam hati kita sedikit saja merasa bangga jika sumbangannya diketahui oleh mereka dengan harapan mendapat perhatian atau sanjungan. Kemudian contoh yang lain misalnya. Ketika kita memberi sedekah pengemis dengan jumlah yang banyak dengan niat hati yang ikhlas karena hanya mengharap pahala dari Allah. Tanpa sengaja kita ceritakan kepada orang lain tentang perbuatannya tadi.
Dari sinilah setan membuat jebakan godaan halus melalui sifat yang dinamakan ‘pamer’ yang berujung riya dan berakibat hangusnya pahala amalan. Berapapun amalan seseorang, jika sudah terkontaminasi penyakit ini maka akan sia-sialah mereka. Setelah kita mengetahui semua ini, lalu apa yang harusa kita lakukan ?
Sebenarnya mudah dan gampang yaitu, ilmu dan ikhlas dalam hal ibadah yang harus seimbang dan jangan sampai dipisahkan. Ilmulah yang menjadi pegangan dan pembimbing manusia untuk mengetahui kebenaran. Bagaimanapun tekunnya seseorang melaksanakan ibadah jika tidak dilandasi dengan ilmu yang benar, maka ia akan tersesat. Berbeda dengan ilmu yang benar sudah dimiliki, maka seseorang dalam menjalankan ibadah sesuai dengan tinggal bagaimana kita menjalankan ibadah yang benar hingga akhirnya timbullah rasa keikhlasan dari dalam hatinya. Dari sini seseorang akan menyadari dan tahu bagaimana sikap ikhlas yang menuntun jiwa kita hanya untuk melakukan sesuatu karena Allah, bukan karena ingin disanjung atau dipuji.(masIm)
.
Selasa, 01 Januari 2008
Ingin Menjadi Penghuni Surga ?
Suatu hari, ketika Rasulullah SAW bersama para sahabatnya berada di dalam masjid berkata, “"Sebentar lagi seorang penghuni syurga akan masuk,"
Mendengar khabar menarik tersebut, semua sahabat penasaran, siapa gerangan orang yang disebutkan Rasul tersebut. Di dalam benak para sahabat, terbayang sosok orang yang luar biasa, mungkinkah ia seorang ahli ibadah, zuhud, ahli jihad, tekun dan takwa?
Sesaat kemudian tiba-tiba masuklah seorang pemuda dengan wajah basah karena air wudhu. Ia penampilan biasa-biasa saja, sosoknya tidak terlalu dikenal banyak orang, Abu Umamah ibnu Jarrah namanya. Seketika itu para sahabat terlihat agak terkecoh dengan orang yang sebelumnya ia bayangkan, ternyata biasa-biasa saja.
Abu Umamah setiap harin beribadah dimasjid biasa-biasa saja, sehingga membuat para sahabat semakin bertanya-tanya tentang apa yang diceritakan Rasul tadi. Karena rasa ingin tahu, akhirnya Abdullah, salah seorang sahabat meminta izin Abu Umamah untuk menginap dirumahnya tiga hari.Selama dirumahnya, Abdullah selalu memperhatikan cara ibadah pemuda tersebut, ternyata juga biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa dari para sahabat lain. Karena semakin penasaran, maka bertanyalah Abdullah kepada Abu Umamah, “Amalan apakah yang engkau lakukan setiap hari sehingga Rasul memanggilmu calon penghuni surga, ya sahabat ?”. Diapun menjawab dengan tenang, ”Saya rasa biasa-biasa saja setiap hari solat seperti apa yang engkau lihat disini”. Ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba Abu Umamah berkata "Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sebelum tidur, aku pun selalu bersihkan hati dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam."
Begitu juga dengan Nabi Ibrahim, Beliau pernah berdo’a kepada Allah SWT yang tertuulis di dalam Al qur’an berbunyi :
wur ÎTÌøéB tPöqt tbqèWyèö7ã ÇÑÐÈ tPöqt w ßìxÿZt ×A$tB wur tbqãZt/ ÇÑÑÈ wÎ) ô`tB tAr& ©!$# 5=ù=s)Î/ 5OÎ=y
''Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.'' (QS al-Syu'ara' 87-89)
Pada ayat ini, Nabi Ibrahim semata-mata meminta keridhoan Allah agar tidak direndahkn kelak di akherat. Karena itu beliau selalu menjaga agar hatinya terbebas dari unsur-unsur kemusyrikan, bersih dari dosa, maksiat, serta penyakit hati.
Dari sinilah kita dituntut seperti Abu Umamah atau Nabi Ibrahim yang selalu bisa menjaga hatinya selalu bersih, tauhid lurus yang akan membuat derajat kita tinggi di mata Allah serta menjadi penghuni surga.
Kenapa demikian ?, karena hati yang bersih akan jauh dari bermacam-macam penyakit, seperti iri, sirik, dengki, dendam, sehingga semua amal kebaikan tetap utuh dan bernilai di hadapan Allah. Di sisi lain, hati yang bersih bukanlah hati orang yang telah ditutup rapat-rapat atau dikunci mati oleh Allah, karena itulah hati orang-orang kafir yang sengaja menolak wujud Allah serta menentang ajaran-Nya
Namun sayang, kebanyakan dari kaum muslim tidak menyadari, Mereka merasa telah melakukan ibadah wajib maupun sunnah, namun masih saja terlena dengan berbagai penyakit hati yang setiap saat dihempuskan setan untuk mengotori amal-amal kebaikan.
Di mata Allah derajat dan kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh harta, jabatan, kekuasaan dunia yang besar dan melimpah. Tapi lebih ditentukan oleh tingkatan iman.
Karena itulah, seorang muslim yang berhati bersih mampu menjaga kesucian fitrahnya, sehingga ia tidak pernah lupa untuk selalu menuhankan Allah, menyembah hanya kepada-Nya serta selalu pada kebenaran, kebaikan, dan keluhuran budi pekertiakhlaq al-karimah.(Imam)
Minggu, 23 Desember 2007
Mencari Keridhoan Allah Dari Amal dan Sedekah
Sudahkan kita menyadari amal atau sedekah yang selama ini kita keluarkan hanya semata-mata ikhlas untuk mencari ridho Allah ?
Sebenarnya di kehidupan sehari-hari, manusia memberi amal atau sedekah mempunyai niat atau arti yang beraneka ragam. Dari mulai yang kecil, dengan memberi makan tetangga, uang kepada pengemis dijalan hingga sampai yang menyumbang bahkan mendirikan masjid atau madrasah. Sebenarnya perbuatan ini mulia dan Allah akan memberi balasan yang berlipat jika semua dilandasi dengan rasa ikhlas. Apalagi jika hasilnya dipakai secara terus-menerus, maka pahalanya akan semakin bertambah.Tapi, diluar dari semua ini mereka banyak yang tidak menyadari bahwa semua yang dikerjakan tersebut mengandung resiko godaan yang akan menghapus pahala dari perbuatan itu sendiri. Niat yang semula ikhlas dan ridho hanya untuk Allah sudah melenceng tanpa kita rasa.
Misalnya niat hati menyumbang untuk pembangunan masjid dengan ikhlas untuk kemaslahatan umat. Tapi ketika disitu hadir seorang tokoh yang disegani atau pembesar hadir, tanpa disengaja dalam hati kita sedikit saja merasa bangga jika sumbangannya diketahui mereka yang berujung dengan harapan mendapat perhatian atau sanjungan. Kemudian contoh yang lain misalnya. Kita memberi sedekah seorang pengemis dengan jumlah yang banyak dengan niat hati yang ikhlas karena hanya mengharap pahala dari Allah. Tanpa sengaja kita ceritakan kepada orang lain tentang perbuatannya tadi.
Dari sinilah setan membuat jebakan godaan halus melalui sifat yang dinamakan ‘pamer’ yang berujung riya dan berakibat hangusnya pahala amalan. Berapapun amalan seseorang, jika sudah terkontaminasi penyakit yang dinamakan riya maka akan sia-sialah mereka. Setelah kita mengetahui semua ini, lalu apa yang harusa kita lakukan ?
Sebenarnya mudah dan gampang yaitu, ilmu dan ikhlas dalam hal ibadah yang harus seimbang dan jangan sampai dipisahkan. Ilmulah yang menjadi pegangan dan pembimbing manusia untuk mengetahui kebenaran. Bagaimanapun tekunnya seseorang melaksanakan ibadah jika tidak dilandasi dengan ilmu yang benar, maka ia akan tersesat. Berbeda dengan ilmu yang benar sudah dimiliki, maka seseorang dalam menjalankan ibadah sesuai dengan tinggal bagaimana kita menjalankan ibadah yang benar hingga akhirnya timbullah rasa keikhlasan dari dalam hatinya. Dari sini seseorang akan menyadari dan tahu bagaimana sikap ikhlas yang menuntun jiwa kita hanya untuk melakukan sesuatu karena Allah, bukan karena ingin disanjung atau dipuji.
Utamakan yang Kekal Sebelum yang Fana
Banyak orang yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, siang malam tanpa mengenal lelah, waktunya selalu dihabiskan untuk mengejar kebutuhan dunia. Dalam pikirannya yang diingat hanyalah uang, harta, materi, pekerjaan yang terus tak pernah berhenti. Mereka menganggap bahwa harta yang dimilikinya murni dari usahanya, sehingga sedikitpun tidak pernah ada rasa syukur bahwa rezeki yang diterima dan segala fasilitas kehidupannya adalah titipan atau pemberian Allah SWT. Semua itu mereka pergunakan semata-mata hanya untuk melampiaskan hawa nafsunya saja. Mereka tidak sadar jika dalam kehidupannya sebenarnya diperbudak dan menjadi hamba hawa nafsunya sendiri. Bahkan, hawa nafsu itu diposisikan sedemikian rupa sehingga ia harus tunduk melebihi Tuhannya. Namun jika bicara urusan ibadah, akhirat, sama sekali tidak terlintas sedikitpun didalam hatinya. Gambaran seperti inilah yang termasuk orang-orang yang dikuasai kecintaan dunia.
Jika seseorang pemikirannya sudah seperti ini, maka hatinya akan menjadi keras, selalu merasa enak, lalai, santai atau malas dalam hal ibadah. Dalam pikirannya yang ada selalu bersifat batil, lupa, hanyut dan tidak dapat menolak keinginan hawa nafsunya. Segala kebaikan-kebaikan akan sulit diterima, apalagi untuk dapat masuk ke dalam hati, karena setan sudah menguasai dan bertahta secara menyeluruh di dalam hatinya. Akibatnya nafsu yang selalu dimanja, dituruti, akan mendatangkan kerugian besar.
Sebenarnya bahayanya bila hati dikuasai oleh kecintaan kepada dunia, sudah diperingatkan berkali-kali oleh Allah Swt, baik didalam al Qur’an maupun hadis Rasulullah saw : ''Barangsiapa mencintai dunia, maka dia merusak akhiratnya, dan barangsiapa yang mencintai akhirat, maka (seolah-olah) membinasakan dunianya. Maka, utamakanlah yang kekal (akhirat) daripada yang fana (dunia).'' (HR Ahmad dan Baihaqi).
Dari sini kita seharusnya paham bagaimana mengutamakan yang kekal sebelum yang fana. Karena semua yang ada dialam yang fana ini nantinya akan berakhir. Apa pun yang kita miliki, sewaktu-sewaktu bisa meninggalkan kita.. Tak jarang itu terjadi dalam sekejap mata, cepat atau lambat, suka atau tidak semua manusia akan meninggalkannya dan harus mempertanggung jawabkan semua tindakannya di hadapan Allah SWT. Semua
keburukan yang dikerjakan, hawa nafsu yang dibesarkan, maka celakalah mereka, segala macam kerugian, kesengsaraan dan malapetaka pasti akan menimpanya baik ketika di dunia, lebih-lebih nanti di alam akhirat. Tapi sebaliknya jika kebaikan yang ditanam, amal ibadah yang disyariatkan dikerjakan, maka keselamatan yang akan didapat dan surga tempatnya kelak. Sehingga, barangsiapa yang mau mengambil hikmah dengan mengutamakan urusan akhirat, maka ia termasuk ke dalam golongan manusia yang beruntung.
Allah telah berfirman : ''Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh, kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memahaminya?' (QS Al-An'am: 32).
Selanjutnya, sebagai bukti kecintaan kepada Allah SWT, kita merasa perlu mengikatkan diri kepada syariat dalam menjalani kehidupan. Sebab takutnya seorang hamba pada neraka atau rindunya ia pada surga tidaklah bertolak belakang dengan cinta hamba tersebut kepada Allah SWT, bukan cinta pada kenikmatan dunia meskipun semua itu pemberian Allah yang wajib kita syukuri..(Imam)
Kamis, 22 November 2007
Dikuasai Kecintaan Dunia
Kita sering melihat orang-orang yang sibuk, baik siang maupun malam tanpa mengenal lelah waktunya selalu dihabiskan untuk mengejar keduniawian.Dalam pikirannya yang diingat hanyalah uang, harta, materi, pekerjaan terus dan terus tak pernah berhenti. Mereka menganggap bahwa harta yang dimilikinya murni dari usahanya, sehingga sedikitpun tidak pernah ada rasa syukur bahwa rezeki yang diterima dan segala fasilitas kehidupannya adalah titipan atau pemberian Allah SWT. Semua itu mereka pergunakan semata-mata hanya untuk melampiaskan hawa nafsunya saja, ia tidak sadar jika didalam kehidupannya selalu diperbudak dan menjadi hamba hawa nafsunya sendiri. Bahkan, hawa nafsu itu diposisikan sedemikian rupa sehingga ia harus tunduk melebihi Tuhannya. Namun jika bicara urusan ibadah, akhirat, sama sekali tidak terlintas sedikitpun didalam hatinya. Gambaran seperti inilah yang termasuk orang-orang yang dikuasai kecintaan dunia.
Jika seseorang pemikirannya sudah seperti ini, maka hatinya akan menjadi keras, selalu merasa enak, lalai, santai atau malas dalam hal ibadah. Dalam pikirannya yang ada selalu bersifat batil, lupa, hanyut dan selalu tidak dapat menolak keinginan hawa nafsunya. Segala kebaikan-kebaikan akan sulit diterima, apalagi untuk dapat masuk ke dalam hati, karena setan sudah menguasai dan bertahta secara menyeluruh di dalam hatinya. Akibatnya nafsu yang selalu dimanja, dituruti, akan mendatangkan kerugian besar.
Sebenarnya bahayanya bila hati dikuasai oleh kecintaan kepada dunia, sudah diperingatkan berkali-kali oleh Allah Swt, baik didalam al Qur’an maupun hadis Rasulullah saw : ''Barangsiapa mencintai dunia, maka dia merusak akhiratnya, dan barangsiapa yang mencintai akhirat, maka (seolah-olah) membinasakan dunianya. Maka, utamakanlah yang kekal (akhirat) daripada yang fana (dunia).'' (HR Ahmad dan Baihaqi).
Dari sini kita seharusnya paham bagaimana mengutamakan yang kekal sebelum yang fana. Karena semua yang ada dialam yang fana ini nantinya akan berakhir. Apa pun yang kita miliki, sewaktu-sewaktu bisa meninggalkan kita.. Tak jarang itu terjadi dalam sekejap mata, cepat atau lambat, suka atau tidak semua manusia akan meninggalkannya dan harus mempertanggung jawabkan semua tindakannya di hadapan Allah SWT. Semua
keburukan yang dikerjakan, hawa nafsu yang dibesarkan, maka celakalah mereka, segala macam kerugian, kesengsaraan dan malapetaka pasti akan menimpanya baik ketika di dunia, lebih-lebih nanti di alam akhirat. Tapi sebaliknya jika kebaikan yang ditanam, amal ibadah yang disyariatkan dikerjakan, maka keselamatan yang akan didapat dan surga tempatnya kelak. Sehingga, barangsiapa yang mau mengambil hikmah dengan mengutamakan urusan akhirat, maka ia termasuk ke dalam golongan manusia yang beruntung.
Allah telah berfirman : ''Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh, kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memahaminya?' (QS Al-An'am: 32).
Selanjutnya, sebagai bukti kecintaan kepada Allah SWT, kita merasa perlu mengikatkan diri kepada syariat dalam menjalani kehidupan. Sebab takutnya seorang hamba pada neraka atau rindunya ia pada surga tidaklah bertolak belakang dengan cinta hamba tersebut kepada Allah SWT, bukan cinta pada kenikmatan dunia meskipun semua itu pemberian Allah yang wajib kita syukuri. ahkan, tanpa perlu mengharap surga atau takut pada nerakapun sebagai hamba yang beriman sudah menjadi kewajiban mencinta Rabbnya serta selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.(Imm)
Jika seseorang pemikirannya sudah seperti ini, maka hatinya akan menjadi keras, selalu merasa enak, lalai, santai atau malas dalam hal ibadah. Dalam pikirannya yang ada selalu bersifat batil, lupa, hanyut dan selalu tidak dapat menolak keinginan hawa nafsunya. Segala kebaikan-kebaikan akan sulit diterima, apalagi untuk dapat masuk ke dalam hati, karena setan sudah menguasai dan bertahta secara menyeluruh di dalam hatinya. Akibatnya nafsu yang selalu dimanja, dituruti, akan mendatangkan kerugian besar.
Sebenarnya bahayanya bila hati dikuasai oleh kecintaan kepada dunia, sudah diperingatkan berkali-kali oleh Allah Swt, baik didalam al Qur’an maupun hadis Rasulullah saw : ''Barangsiapa mencintai dunia, maka dia merusak akhiratnya, dan barangsiapa yang mencintai akhirat, maka (seolah-olah) membinasakan dunianya. Maka, utamakanlah yang kekal (akhirat) daripada yang fana (dunia).'' (HR Ahmad dan Baihaqi).
Dari sini kita seharusnya paham bagaimana mengutamakan yang kekal sebelum yang fana. Karena semua yang ada dialam yang fana ini nantinya akan berakhir. Apa pun yang kita miliki, sewaktu-sewaktu bisa meninggalkan kita.. Tak jarang itu terjadi dalam sekejap mata, cepat atau lambat, suka atau tidak semua manusia akan meninggalkannya dan harus mempertanggung jawabkan semua tindakannya di hadapan Allah SWT. Semua
keburukan yang dikerjakan, hawa nafsu yang dibesarkan, maka celakalah mereka, segala macam kerugian, kesengsaraan dan malapetaka pasti akan menimpanya baik ketika di dunia, lebih-lebih nanti di alam akhirat. Tapi sebaliknya jika kebaikan yang ditanam, amal ibadah yang disyariatkan dikerjakan, maka keselamatan yang akan didapat dan surga tempatnya kelak. Sehingga, barangsiapa yang mau mengambil hikmah dengan mengutamakan urusan akhirat, maka ia termasuk ke dalam golongan manusia yang beruntung.
Allah telah berfirman : ''Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh, kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memahaminya?' (QS Al-An'am: 32).
Selanjutnya, sebagai bukti kecintaan kepada Allah SWT, kita merasa perlu mengikatkan diri kepada syariat dalam menjalani kehidupan. Sebab takutnya seorang hamba pada neraka atau rindunya ia pada surga tidaklah bertolak belakang dengan cinta hamba tersebut kepada Allah SWT, bukan cinta pada kenikmatan dunia meskipun semua itu pemberian Allah yang wajib kita syukuri. ahkan, tanpa perlu mengharap surga atau takut pada nerakapun sebagai hamba yang beriman sudah menjadi kewajiban mencinta Rabbnya serta selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.(Imm)
Langganan:
Postingan (Atom)