Tampilkan postingan dengan label Klenik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klenik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2008

Menghadapi Ujian ala Sihir Harry Porter ?




Ada-ada saja cara siswa agar dapat menghadapi ujian nasional (UN) dengan lancar dan berhasil dan tidak takut atau cemas. Salah satu contohnya adalah kakak-kakak kita yang belajar di SMP Negeri 02 Demak.
Menurut Wakil Kepala Sekolah Dra Savitri HS, agar mentalnya lebih siap dalam menghadapi Ujian Nasional yang akan di laksanakan 5 Mei mendatang, 274 siswa kelas IX mengadakan istighotsah dan di beri pembekalan dan motivasi “khusus” oleh pak Budi Sarwono, master Hipnotis asal Banyubiru, Kabupaten Semarang di aula sekolah pada awal April lalu.
Mereka bersama-sama di ajak menyelami diri dan menghipnotis dirinya masing-masing untuk menemukan penyebab munculnya rasa cemas, khawatir dan takut dengan cara memejamkan mata. Kemudian pak Budi berkata dengan pelan,“Kepalkan tangan kencang-kendang dan katakan aku pasti bisa ! Aku pasti bisa ! Aku pasti bisa !”. Saat membuka mata para siswapun harus mengatakan dengan yakin secara bersama-sama “Saya pasti bisa!”.

Adik-adik yang soleh, kalian tahu, apa itu hipnotis ? Hipnotis adalah tehnik untuk mengorek alam bawah sadar manusia atau mempengaruhi pikiran orang. Apa pun bentuknya, yang namanya hipnotis itu tidak lebih dari sihir atau tipuan mata yang dilakukan oleh syetan terhadap manusia, sehingga orang terpengaruh dengan keinginannya melalui pandangan mata atau melalui mantra-mantra dan hukumnya termasuk syirik Seperti yang di terangkan di Al qur’an di surat Al-Jin, ayat 6 yang bunyinya :
"Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.."
Rasulullah SAW sendiri juga pernah menyampaikan bahwa hipnotis adalah al’ainu haq, sihir mata itu benar ada. Karena syetan bisa menyusup seseorang melalui pandangan mata itu termasuk yang di lakukan pada para siswa SMP N 02 tersebut.
Jadi agar tidak takut menghadapi ujian sebaiknya ya belajar yang rajin, tekun, tak lupa berdo’a sendiri kepada Allah setiap saktu, syukur-syukur sehabis sholat tahajud. Bukannya dihipnotis atau istighosah bersama-sama.





Senin, 03 Maret 2008

Ritual Manaqib


Banyak kita jumpai orang yang sangat mengagung-agungkan “ibadah” bacaan manaqib bahkan melebihi ibadah sunnah. Mereka berkeyakinan agar “wasilahnya” cepat sampai dan terkabul. Misalnya, membuat ayam ungkep utuh (ingkung-Jawa), yang dimasak oleh wanita suci dari hadast, lalu yang boleh menyembelih harus orang sudah berijazah dari gurunya (telah mengkhatamkan bacaan manaqib sebanyak 40 kali). Di saat pembacaan manaqib, sudah menjadi keyakinan bagi para jamaahnya untuk membawa botol berisi air yang diletakkan di depan Imam atau gurunya, konon air tersebut dipercaya membawa berbagai macam berkah.
Khasiat lainnya yakni apabila seseorang mempunyai keinginan tertentu (usaha dan rejeki lancar, pandai, atau nadhar lainnya), mereka membaca bersama-sama pada hari yang ditentukan, misalnya tiap Rabu Kliwon, Pon, bahkan ada yang disertai dengan pembakaran kemenyan atau parfum wewangian agar ruh sang tokoh hadir ikut mendoakannya, karena “konon” ada pendapat bahwa Syaikh Abdul Qodir Jaelani pernah berkata, "Dimana saja dibacakan manaqib-ku aku hadir padanya"

Biografi
Para pelaku manaqib tersebut berkeyakinan, bahwa bacaan itu adalah suatu amalan agung yang di ajakan guru-gurunya meskipun tidak jelas sumber asalnya. Namun jika kita kaji lebih dalam, kata manaqib berasal dari “manqobah” berarti kisah tentang kesolehan, dan amal seseorang. Jadi membaca manaqib, sama saja dengan membaca biografi atau cerita kebaikan seseorang Namun sayang, manaqib disini banyak mengisahkan cerita-cerita bohong, dan tidak masuk akal. Ironisnya lagi, dengan dalih sebagai bukti kecintaannya kepada waliyullah, mereka selalu membaca, mengingat, bahkan memanggil dan memohon roh wali yang sudah mati (Abdul Qodir Jailani-red) untuk perantara. Jika sudah seperti ini yang di dapat adalah.....kesyirikan. Karena menghadirkan roh orang yang sudah mati adalah mustahil, yang datang adalah jin yang berubah rupa atas bantuan tukang sihir bangsa jin.

Wasilah
Sedangkan berbagai cara dan persyaratan ritual manaqib sangat mirip sekali dengan cara-cara zaman jahiliyah dan budaya orang-orang musyrik dalam berinteraksi dengan para dewanya (bangsa jin). Bedanya sekarang mereka beralasan tidak menyembah roh tapi sebagai bentuk taqarruban (mendekatkan diri) dan wasilah (perantara) kepada Allah. Padahal Allah sendiri telah memperingatkan dengan keras dan tegas dalam firman-Nya:
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Faathir: 14)
Oleh karena itu marilah kita berhati-hati dan mengkaji nash-nash dalam al-Qur’an maupun sunnah agartidak mengikuti sesuatu yang bid’ah dan menjurus ke syirik. (Imm)

Cerita-cerita yang tidak tentu kebenarannya didalam bacaan manaqib antara lain :
- Kantong berisi dinar diperas lalu keluar menjadi darah
- Tulang-tulang ayam yang berserakan, diperintah berdiri lalu bisa berdiri menjadi ayam jantan.
- Karomah-karomah Syeikh Abdul Qadir Jaelani, yang menjaga pintu neraka. Jika nanti ada pengikutnya dimasukan ke neraka akan tertolong.
- Orang-orang fasiq yang selamat dari azab kubur hanya karena menyebutkan namanya, dan masih banyak lagi.

Jumat, 26 Oktober 2007

Nyadran menuju kesesatan

Nyadran menuju kesesatan

Mereka mendatangi makam-makam leluhur, wali dan orang soleh yang menurutnya adalah bagian dari kebodohan. Bahkan kadang sangat berlebihan dan menjadi suatu keharusan dalam melakukannya sehingga orang datang berbondong-bondong mendatanginya.

Umat Islam dinegeri ini mempunyai tradisi yang bermacam-macam. Selain berbagai peringatan hari-hari besar Islam, mereka juga masih mempunyai tradisi yang sudah ada sejak dulu. Ritual yang sudah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia.yaitu, Nyadran. Ritual ini biasanya dilakukan oleh kebanyakan masyarakat jawa menjelang Ramadan. Meskipun bentuk acara dan waktu yang tidak sama, namun semua dilaksanakan menjelang berakhirnya bulan Sya’ban atau orang Jawa menyebutnya dengan istilah ruwahan
Disaat-saat seperti ini di berbagai daerah di Jawa banyak dijumpai ritual sadranan atau nyadran. Tradisi ini mengandung makna dan nuansa religius dan magis yang senantiasa mewarnai ritual-ritual itu. Biasanya, tempat-tempat yang dituju dalam kegiatan nyadran ini, adalah makam para leluhur, tokoh-tokoh besar, alim ulama serta para tokoh yang banyak berjasa bagi daerah dan syiar agama pada masa lampau

Ke makam wali dan tokoh
Misalnya, orang-orang disekitar Kabupaten Demak, menjelang berakhirnya bulan Sya’ban akan datang berduyun-duyun kemakam Sunan Kalijaga di komplek pemakaman Kadilangu, Demak. Dikabupaten Semarang, tepatnya di Dusun Panjang Lor, Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa masyarakat dari berbagai penjuru datang ke makam ini untuk berziarah di makam Nyi Tirto Tinoyo atau lebih dikenal sebagai Nyi Panjang. Warga setempat meyakini, Nyi Panjang merupakan istri lurah pertama di sana, yang menjadi cikal bakal Kampung Panjang. Belum diberbagai daerah seperti Klaten, Solo, Wonogiri, Yogya dan masih banyak lagi daerah yang mengadakan.

Rela pulang
Masyarakat yang merantau jauhpun rela untuk pulang demi melaksanakan ritual sadranan kemakam leluhur secara bersama-sama. Adapun berbagai acara yang dikemas sangat beraneka ragam, selain membacakan do’a untuk para arwah leluhur dan bersih-bersih kubur, kadang ada yang diselingi dengan berbagai pertunjukan rakyat seperti pagelaran wayang kulit.
Lalu, bolehkah kita sebagai kaum Muslim mengadakan acara nyadran dan adakah keterangan nash maupun hadist yang menerangkan tentang tradisi nyadran, nyekar atau berziarah kemakam menjelang bulan Ramadhan ?

Nyadran menurut Islam
Tradisi Nyadran didalam Islam tidak pernah disyariatkan, namun jika ziarah kemakam dibolehkan meski dulu Rasul pernah melarang, karena orang-orang dulu menjadikan kubur sebagai tempat untuk kesyirikan.

Rasulullah Saw pernah melarang para umatnya ziarah kekubur seperti yang disabdakan :”Dahulu Aku melarang kalian ziarah kubur, namun sekarang silahkan berziarah kubur” (HR Muslim).
Namun ziarah kekuburpun dibolehkan hanya untuk berdo’a dan tidak dijadikan ibadah atau ditambah bermacam-macam acara. ziarah tidak harus menjelang bulan Ramadhan, dan tidak harus pula disertai dengan berbagai acara seperti pagelaran wayang kulit dan kesenian lainnya. Sehingga kita tidak mencampur adukkan antara tradisi, budaya dan syariat agama.
Apalagi jika dalam ritual nyadran disertai dengan perbuatan yang sifatnya meminta kepada kuburan atau meminta kepada ruh orang yang sudah mati adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk perbuatan syirik. Termasuk juga mengusap-usap kuburan dengan tujuan bisa mendapatkan barakah dan kekayaan atau menjadi lancar usahanya, minta diberi jodoh atau lulus ujian adalah termasuk perbuatan yang diharamkan.

Untuk itu hendaklah apa yang kita lakukan saat berziarah kubur harus sesuai
dengan petunjuk Rasulullah Saw. Seperti mengucapkan salam
kepada ahli kubur dengan salam yang diajarkan oleh Rasulullah Saw yaitu :

Assalamu alaikum ya ahlad diyari minal mu'minin wal muslimin, wa inna insyaa
Allahu bikum lahiqun. As'alullaha lana wa lakum al-'afiyah.

Yang artinya : Assalamu 'alaikum wahai penduduk kuburan orang beriman dan orang Islam, Inysa Allah kami akan menyusul kalian. Aku meminta bagi kami dan kalian
keselamatan. (HR. Muslim).

Sedangkan untuk mendoakan arwah orang tua tidak harus mendatangi makamnya, apalagi mengumpulkan orang-orang banyak dengan membacakan ayat-ayat suci. Cukup setiap kali sehabis shalat atau kapan saja dan dimana sajapun bisa asalkan niat kita betul-betul mendoakan..(Maulana)

Ruwatan untuk membebaskan sukerta

Ruwatan untuk membebaskan sukerta

Apa jadinya jika manusia sudah tidak percaya pada takdir Allah. Ulah merekapun beraneka ragam meski harus mengeluarkan beaya yang tidak sedikit, namun apa manfaatnya ?

Dalam tradisi Jawa, ruwatan adalah prosesi spiritual untuk sarana pembebasan dan penyucian manusia dari dosa, kesalahan atau kesialan hidup yang melekat dalam diri anak-anak yang terlahir sebagai anak sukerto. Karena menurut kepercayaan anak-anak ini nantinya akan selalu mendapat kesusahan serta malapetaka dalam perjalanan hidupnya.. Dalam cerita Jawa Kuno kata “Mala” berarti kotoran, dan “Petaka” berarti kejatuhan, sehingga malapetaka dapat diartikan “kejatuhan kotoran”. Orang-orang sukerta inilah, yang akan dimangsa oleh Batara Kala, salah satu tokoh raksasa angkara murka dalam pewayangan

Golongan sukerta
Adapun anak-anak yang termasuk golongan sukerto adalah :Ontang-Anting (anak tunggal lelaki), Unting-Unting (anak tunggal perempuan), Anggono (anak tunggal karena saudara-saudaranya meninggal), Uger-Uger Lawang (anak dua lelaku semua), Kembang Sepasang (dua anak perempuan semua), Kedhini-Kedhono ( yaitu anak dua perempuan lelaki), Kembar (dua anak lahir bersamaan, lelaki semua atau perempuan semua), Dhampit (dua anak lahir bersamaan, lelaki perempuan), Ghondang Kasih, (bila anak kembar berlainan warna kulitnya), Cukil-Dulit (anak tiga lelaki semua), Gotong Mayit (anak tiga perempuan semua), Sendang Kapit Pancuran (anak tiga yang tengah perempuan), Pancuran Kapit Sendang (anak tiga yang ditengah lelaki), Sarimpi (anak empat perempuan semua), Sarambah (anak empat lelaki semua), dan masih banyak lagi jenis-jenisnya.

Ritual khusus
Untuk terbebas dari sukerta seseorang harus diruwat.dengan menjalani prosesi ritual khusus yaitu mengadakan pagelaran wayang kulit yang dipimpin oleh dalang tertentu yang telah menjalani tirakat khusus dengan mengambil cerita “Murwakala, Sudamala, atau Kunjarakarna”. Sebuah lakon yang menceritakan tentang kesadaran atas ketidak sempurnanya diri manusia, dan selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).Tidak Cuma itu, berbagai macam sesaji yang harus disediakan seperti :
Tuwuhan (pisang raja setudun), bermacam-macam buah-buahan, sepasang ayam jawa, kaca, benang hitam putih, cengkir gading dan masih banyak lagi. Berbagai macam jenis daun dan bunga setaman untuk mandi. Sedangkan berbagai jenis masakan dan jajan pasar untuk sesaji yang disertai mantra diperuntukkan untuk dahyang (penunggu)

Larung laut
Kemudian sang dalang memulai upacara dengan melakukan penyiraman air suci dan penguntingan rambut kepada anak-anak yang sudah diberi pakaian dari kain mori putih. Dengan disertai pembakaran kemenyan dan mantra, lalu kidalang melarung semua persyaratan tersebut kelaut. Barulah dimulai pagelaran wayang yang diawali dengan penyerahan anak-anak sukerto kepada kidalang yang selanjutnya memohon doa restu yang tulus kepada kedua orang tua untuk menjalani upacara ruwatan. Selama kurang lebih 3 jam anak-anak sukerto diwajibkan untuk menyaksikan pagelaran ini tanpa boleh tertidur. Di ujung acara ritual ini, para anak-anak sukerto diharuskan menginjak bumbungan (bambu kosong) yang menandakan penyempurnaan dari upacara ruwatan dan terbebas dari malapetaka.

Budaya dicampur agama
Secara tradisional, wayang memang merupakan intisari kebudayaan masyarakat Jawa yang diwarisi secara turun temurun meskipun didalamnya terdapat bermacam-macam tuntunan bagaimana manusia harus bertingkah laku dalam kehidupannya.
Namun yang sangat disayangkan, kenapa budaya ini dicampur adukkan dengan Islam, bahkan sangat-sangat melenceng jauh dengan aqidah Islam?
Pada zaman Rasulullah budaya Jahiliyah betul-betul dimusnahkan dari kehidupan masyarakat. Karena budaya tersebut sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Hal yang demikian ini persis sama seperti di tanah Jawa. Namun sayangnya masyarakat disini banyak yang kurang atau belum tahu atau menyadari bahwa budaya ini sangat bertentangan dengan aqidah Islam karena termasuk syirik. Mereka meminta kepada selain Allah, percaya bahwa seolah Bathara Kala ini yang menentukan nasib anank-anak sukerto.
.
Semua manusia terlahir dalam keadaan suci, tidak ada, apa itu yang namanya sukerto atau yang lainnya. Semua nasib dan takdir manusia yang menentukan Allah, tinggal bagaimana manusia itu sendiri

Mitos

Lain di Yogya lain pula di Pekalongan. Dikota pesisir utara Jawa ini mempunyai tradisi yang hampir mirip dengan Hajad Dalem yakni memperebutkan kue Lupis raksasa. Adapun pelaksanannya setelah acara silaturrahmi dengan kerabat dan teman. Masyarakat disana berkumpul disuatu tempat yang luas untuk berebut kue lupis berukuran raksasa yang sebelumnya dilakukan do’a oleh seorang ulama berpengaruh setempat. Konon ritual yang sudah ada sejak tahun 1936 ini dipercaya dapat mendatangkan berkah dan mendekatkan jodoh. Menurut cerita munculnya tradisi ini tidak terlepas dari keterlibatan para ulama yang bermaksud menjadikan acara tersebut sebagai wahana syiar agama dan sekaligus sebagai bentuk kepedulian bagi masyarakat kurang mampu

Ruwatan Sukerto Dataran Tinggi Dieng

Ruwatan Sukerto Dataran Tinggi Dieng


Jika kita mengunjungi obyek wisata Dataran tinggi Dieng, maka akn menemukan anak-anak yang berambut gimbal. Masyarakat disana menamakan “Rambut gimbal” atau “Anak Bajang”.
Menurut kepercayaan orang-orang disana yang sudah menjadi keyakinan secara turun temurun ini sangat dipercaya akan membawa dampak petaka jika dilanggar, namun akan menjadi pengayom, keselamatan, serta keberuntungan jika aturan itu dipatuhi. .
Ciri-ciri anak bajang ini mulai kelihatan sejak bayi berusia 40 hari yang ditandai demam yang tinggi. Mereka percaya bahwa anak tersebut adalah anak-anak kesayangan roh-roh gaib penunggu Dataran Tinggi Dieng yang dititipkan penguasa Laut Selatan, Nyai Roro Kidul. Sehingga jika sudah saatnya nanti, anak-anak tersebut akan diminta kembali oleh sang Ratu. Oleh sebab itu bagi orang tua yang memiliki anak bajang, diperlakukan dengan sangat istimewa. Apa pun yang diminta sang anak harus dikabulkan. Jika tidak, orang tua mereka percaya akan dapat malapetaka yang menimpa dirinya. Untuk itu bagi orang tua yang mempunyai anak bajang, ketika menginjak usia enam tahun harus mengadakan ruwatan khusus untuk memotong gimbalnya sebagai penanda berakhirnya masa titipan anak dari sang Ratu

Mitos lainnya menceritakan, konon anak bajang yang sudah ada sejak ratusan tahun silam ini adalah titisan Kiai Kaladete, manusia pertama yang membuka didaerah Dieng dan sekitarnya. Kiai Kaladete bersumpah tidak akan mandi dan memotong rambutnya sebelum desa yang dibukanya makmur, sehingga kelak jika ada keturunannya yang mempunyai ciri seperti dirinya, pertanda akan membawa kemakmuran bagi desa yang ditinggalinya. Karena itu perlu ritual khusus untuk memotong rambut gimbalnya agar tidak terkena petaka dikemudian hari.

Persekutuan dengan jin
Adapun prosesi ruwatan yang dipimpin langsung oleh tokoh spiritual setempat itu sendiri terdapat berbagai ketentuan yang harus dilaksanakan sebelum puncak acara agar dijauhkan dari gangguan jin dan setan.Yaitu wajib melakukan perjalanan spiritual ke beberapa lokasi seperti Tuk Bimo Lukar, untuk meminta izin Sang Bahurekso, Pangeran Bimo, lalu ke puncak Gunung Kendil. untuk menghaturkan caos dahar (persembahan) kepada roh leluhur Kiai Kaladete dan Nyai Larascinde hingga berakhir di Pertapaan Mandalasari Gua Semar untuk bersemedi. Esok paginya prosesi ritual pemotongan rambut yang sudah lengkap dengan segala persaratan dan sesajian dimulai dengan diawali pagelaran seni tradisional tari topeng, yang disuguhkan untuk menyenangkan para penguasa jagat mistik dedemit. Setelah itu sianak yang diruwat dinaikkan ke kereta kuda untuk diarak menuju Telaga Warna, yang diiring barisan pembawa sesaji serta beberapa syarat permintaan sang anak bajang tersebut. Barulah rambut gembel dipotong oleh tokoh spiritual yang potongannya dibawa ke pinggir Telaga Warna untuk dikembalikan kepada pemiliknya, sang penguasa Laut Selatan Nyi Roro Kidul dengan cara dilarung. Konon jika permintaan sianak tidak dipenuhi orang tuanya, maka rambut gimbal itu akan tumbuh lagi. Memang, semua itu sulit diterima akal sehat. Tapi, agaknya, masyarakat setempat berkeyakinan cerita rakyat tak membutuhkan pembuktian ilmiah sehingga seolah-olah kehadiran bocah-bocah berambut gembel itu justru memperkokoh keyakinan tentang keberadaan para leluhur mereka
Alangkah sayangnya perilaku mereka. Baginya, ritual yang disertai dengan percaya pada tempat keramat, klenik dan sesajen karena takut dari gangguan jin ini akan mendatangkan keberuntungan serta manfaat. Namun apa yang terjadi kebalikannya, sesungguhnya,........hanya kesesatan dan kesyirikanlah yang membawa kejurang kehancuran akidah serta batalnya syahadah seseorang Muslim yang berbuah neraka. Hal ini telah diterangkan dalam firman-Nya yang berbunyi :
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS Ma’idah 72)

Pemborosan
Disisi lain,..bayangkan!, untuk memotong rambut saja, mereka harus menggelar hajatan besar yang melibatkan masyarakat seluruh desa. Jika dipikir secara rasional, manfaat apa yang didapat hingga harus mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit, meskipun berasal dari sumbangan pemerintah setempat serta masyarakat yang kebanyakan sebagai petani tembakau ini? Hanya pemborosan dan berlebih-lebihan seperti ini sama sekali tidak bermanfaat yang mereka dapat. Sedangkan harta mereka adalah milik Allah yang diamanatkan, dijaga serta dinafkahkannya dengan sebaik-baiknya, bukan untuk pemborosan belaka, apalagi sampai perseketuan dengan setan.

Ironisnya lagi, ketika ritual itu dilaksanakan, segenap masyarakat desa dari petani hingga pegawai negeri tumplek blek ikut menghadiri, sedangkan kantor-kantor serta instansipun semua diliburkan hanya untuk mengikuti upacara yang tidak tahu tentu arahnya ini. Dari sinilah seharusnya para tokoh muslim setempat untuk secepatnya menghentikan perbuatan-perbuatan seperti ini dengan memberikan sosialisasi tentang dampak kesesatan ritual ini serta menerangkan jika semua kejadian yang ada didunia ini semuanya hanya dari Allah, bukan kehendak jin, setan, maupun dedemit .(Imm).

Tradisi Kraton Ngayogyakarta Seputar Grebeg Syawal

Tradisi Kraton Ngayogyakarta Seputar Grebeg Syawal
*Mas Habib


Percaya pada tradisi banyak dijumpai hampir disetiap daerah ditanah air. Salah satu contohnya “Grebeg Syawal ” yaitu, sebuah ritual Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan setiap memasuki 1 Syawal dipelataran Masjid Gedhe atau masjid Agung Yogyakarta. Ritual ini berupa “gunungan (hajad dalem)” yaitu sejenis sesaji berupa tumpengan besar yang terdiri dari berbagai sayuran seperti kacang panjang, cabai merah, beras ketan dan hasil bumi lainnya yang ditata berbentuk kerucut.

Membawa berkah
Gunungan tersebut di arak oleh sekelompok barisan yang terdiri dari delapan bergada (peleton) prajurit keraton, dipimpin oleh GBPH Yudhaningrat dan diikuti sebagian besar bangsawan. Iring-iringan ini melewati alun-alun Utara Yogyakarta, kemudian berhenti di Masjid Gedhe. Tepat pukul 10:00 WIB sejumlah ulama lalu membacakan do’a khusus, yang kemudian diperebutkan oleh masyarakat yang sudah turun temurun mempercayai bahwa barang siapa yang mendapatkan barang atau benda yang diperolehnya dari sesaji tersebut akan membawa rejeki, keberuntungan dan lainnya, karena benda tersebut memiliki kekuatan supranatural, serta keramat.
Ironis sekali memang..!. Sebenarnya tujuan diadakannya acara seperti ini semata-mata hanyalah ingin menunjukkan bahwa Kasultanan Ngayogyokarto bagi rakyat Yogyakarta tidak hanya sebagai pemerintah, tetapi juga sebuah ikon pengabdian rakyat kepada kepada pemimpinnya yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sedangkan Sri Sultan sendiri bermaksud untuk memberi perhatian kawula atau rakyatnya sebagai ungkapan terimakasih karena telah berhasil menjalankan ibadah puasa.

Menyimpang dari tujuan
Sebenarnya maksud dan tujuan dari tradisi budaya ini sangat baik. Selain bentuk ucapan syukur, juga mengandung nilai sosial yakni dengan membagi-bagikan makanan kepada orang lain. Disamping itu, upacara ini juga mengingatkan masyarakat, bagaimana cara Islam masuk.
Pada jaman dahulu ketika para ulama menyebarkan agama Islam memakai cara seperti ini yang disebabkan masyarakat pada saat itu hampir sebagian besar masih dibawah pengaruh ajaran Hindu yang identik dengan sesaji. Oleh para ulama penyebar Islam sedikit demi sedikit dicampurkan atau dimasukkan unsur-unsur Islam agar mereka mau mengikuti, dan akhirnya berhasil. Namun proses perayaannya yang selalu dilaksanakan secara turun temurun tidak pernah berubah, sehingga setelah mengalami proses yang bertahun-tahun, lama-kelaman masyarakat disana mempunyai penilaian lain dari apa yang diharapkan oelh para penyebar Islam dulu .Mereka sudah mempunyai tujuan yang justru menyimpang jauh dari ajaran Islam, yaitu dengan mensakralkan tradisi grebeg syawal dengan tujuan “ngalab berkah Syawalan” untuk mengharap terkabulnya sesuatu dari gunungan sesaji. Meskipun disitu juga terdapat do’a sebagai wujud syukur yang dibacakan oleh tokoh Islam keraton.
Disinilah letak kekeliruan mereka, percaya dengan cerita-cerita rekaan, dongeng, khayalan yang bersumber pada kepercayaan lama dan tidak berdasarkan nas-nas syarak (al Qur’an dan hadist). Selain itu mereka juga menggunakan objek-objek tertentu seperti sesaji, serta bentuk pemujaan, menumpukan harapan kepada sesuatu selain Allah. Hal-hal seperti inilah yang termasuk syirik akbar, yaitu sesuatu kepercayaan, perkataan atau perbuatan yang mengakui kekuasaan selain Allah berupa keyakinan setelah mendapatkan sebagian dari gunungan meski Rasul mengajarkan berdo’a langsung kepada Allah tanpa ada sarana. Sedangkan nasib, jodoh dan rejeki adalah hak dari Allah tinggal seperti yang sudah dijelaskan dalam firman-Nya yang berbunyi :

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.(QS Huud 6)

Jika dilihat dari dampaknya, yaitu rusaknya akidah, terjerumus dalam lingkaran setan, kini sudah saatnya pihak keraton, ulama serta para tokoh yang berpengaruh untuk segera meninggalkan hal-hal yang demikian ini. Meskipun maksud hati berbuat baik, tapi justru akan menambah daftar kesesatan bagi kawulo (rakyat)nya, karena resiko dari perbuatan ini, Allah sudah memperingatkan dengan tegas dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS an Nisa 48)
Na’udzubillahi min dzalik.......

Bahu Laweyan Terlahir Sebagai Wanita Titisan Iblis

mitos
Bahu Laweyan Terlahir Sebagai Wanita Titisan Iblis


Budaya dinegeri ini hampir semuanya tidak bisa dilepaskan dengan masalah-masalah mistik. Meski ajaran Islam sudah masuk lama, Ironisnya mereka bukannya meninggalkan malah mencampur adukkan ajaran agama dengan hal-hal yang berbau mistis.
Ditanah Jawa sendiri ada cerita mistik yang tidak bisa dipegang keabsyahannya. Tapi masyarakat disini sangat percaya meski mereka mengaku beriman kepada Allah.
Seperti keganjilan yang menempel pada diri seorang wanita jawa yang mempunyai tahi lalat atau tembong pada bahu kiri.

Dalam perspektif Jawa dikenal istilah Bahu Laweyan. Yaitu, perempuan yang memiliki ciri-ciri khusus pembawa sial.
Mitos seperti ini mulai berkembang pada abad IX, seperti digambarkan dalam Serat Witaradya karya R Ng Ronggowarsito konon sesunggunya memang ada, tetapi jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Keberadaannya mulai diperhitungkan sejak tahun 921 M saat kejayaan Keraton Pengging Witaradya

Cerita kuno
Kisah itu dimulai ketika kerajaan mengadakan upacara wilujengan atau semacam ulang tahun penobatan sang raja. Karena sang raja mempunyai sahabat yang sangat banyak dan tidak hanya manusia, tapi juga bangsa jin yang menguasai golongan lelembut brahala yang bernama Gandarwa Kurawa, kebetulan ia juga diundang menghadiri.
Disinilah awal cerita. Ketika berlangsungnya pestaraja, Gandarwa Kurawa sangat tertarik dengan kecantikan putri raja yang bernama Dewi Citrasari. Namun disisi lain ia tidak dapat berbuat apa-apa karena sungkan dengan sang raja yang juga sahabat karibnya. Karena saking cintanya, sebagai pelampiasan, Gandarwa Kurawa mencari segala cara untuk bagaimana bisa mendapatkan. Segala kekuatan dan kesaktian dikerahkan saat ia berhubungan intim dengan sang putri. Percampuran antara benih manusia dan jin yang telah disusupi iblis bersatu. Ketika bayi tersebut lahir memiliki tanda khusus berupa toh (tompel) sebesar uang logam yang terletak pada bahu kiri.yang oleh masyarakat disebut dengan nama perawan Bahu Laweyan

Tidak wajar
Konon menurut kepercayaan masyarakat, perempuan Bahu Laweyan kehidupannya berjalan tidak normal. Hal ini disebabkan wanita tersebut dipengaruhi oleh aura mahkluk halus yang sangat jahat. Ia mempunyai berbagai macam keganjilan-geganjilan yang tidak dijumpai oleh manusia lainnya. Suasana mistis selalu mengiringi sepanjang hidupnya, rti tatapan matanya yang kosong, pendiam, menyendiri. Konon ia kebal terhadap serangan berbagai ilmu hitam seperti santet, teluh dan lainnya. Namun siapa saja yang menjadi suaminya, saat melakukan hubungan intim dengan perempuan tersebut bakal mati dengan cara mengenaskan.
Karena masyarakat sudah terlanjur dan sangat mempercayainya secara turun menurun, serta menjadikan suatu ancaman meski belum tentu sumber kebenarannya. Akibatnya jika kedapatan ada wanita yang mempunyai ciri-ciri tersebut tidak ada yang mau menikahinya. Ironisnya ia akan dikucilkan baik oleh penduduk setempat maupun keluarganya.

Perangkap iblis
Inilah salah satu rekayasa Iblis agar manusia masuk perangkapnya. Dengan kesombongan dan analoginya yang rusak serta kedustaannya, mereka menyusup, lalu mempengaruhi bangsa jin yang jahat.untuk menyesatkan anak keturunan Adam. Disinilah tanpa kita sadari jin yang jahat telah mempengaruhi dan membisikkan manusia dengan tipuan dan kebohongan yang halus sehingga manusia jatuh kedalam perangkapnya.
Dan semua ini sudah diterangkan idalam Alqur’an, Allah SWT telah berfirman : “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)

Semuanya karena Allah
Didalam Islam tidak pernah satupun yang menyebutkan tentang keberadaan wanita bahu laweyan. Ia terlahir kedunia ini juga seperti manusia pada umumnya, mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Mereka yang dianggap mempunyai keganjilan juga makhluk Allah yang mempunyai hak seperti yang lainnya. Mereka butuh hidup butuh dan memperoleh keturunan, sedangkan siapapun menjadi pasangannya akan mati itu hanyalah bohong belaka. Perkara hidup dan mati itu semuanya hanya Allah yang menentukan. .Jika kita mempercayai tentang berbagai kebohongan yang ditiupkan iblis melalui jin, berarti kita sama saja mengikuti bujuk rayu mereka.

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27)

Untuk itu sudah saatnya kita cepat-cepat kembali pada ajaran Allah dengan tidak mempercayai kebohongan-kebohongan tersebut. Dengan selalu mendekatkan diri pada Allah, menjauhi larangan-laranga-Nya, insya Allah kita akan selamat dari berbagai macam perangkap iblis.(**Imm)