Beliau membawa prinsip keyakinannya. Keteguhan hatinya membentang melewati aneka jaman, menyibak beragam wajah kekuasaan memberi banyak pelajaran Bagi HAMKA, politik terlalu keras untuk di belah. Ia berharap Pemerintah baru dibawah kendali Soeharto memberi jalan bagi perjuangannya. Namun, ternyata sikap Orde baru lebih menekan terhadap partai-partai Islam. Pada Pemilu 1971 Masyumi tetap dilarang, dipaksa fusi, berganti Parmusi. Tokoh-tokoh eks Masyumi dihadang dengan penelitian khusus sehingga gagal masuk ke Parlemen. Akhirnya, ideologi perjuangan Masyumipun harus bergerak dibawah tanah untuk menyerang Golkar sebagai mesin politik Orba dukungan militer dan PNS. Para ulamapun didesak masuk, lima partai Islam kontesan Pemilu 1971 “dipaksa” bergabung menjadi PPP dengan pemberlakuan asas tunggal Pancasila dan aneka interfensi. Inilah awal langkah sistematis Orde baru untuk menjatuhkan dan menjauhkan identitas partai Islam. HAMKA sadar dengan sikap dan rencana Orde baru. Untuk menghindari konvrontasi dengan Pemerintah lagi, dirinya menolak untuk mendukung salah satu partai dan juga menolak masuk Golkar. Sikap netral inilah yang membuat hubungannya dengan Soeharto di awal tahun 70 an akrab sehingga Beliau sering di minta untuk berceramah di istana negara. Ketika dirinya diminta berceramah di istana negara pada khotbah Idul Fitri 1 Januari 1968, HAMKA mengecam tindakan PKI. Inilah kemesraannya dengan Soeharto. Sejak saat itu beliau selalu mengisi pengajian rutin di RRI, TVRI dan berceramah keliling Indonesia. Dakwahnya mempunyai daya tarik seperti magnet sehingga mampu mengundang masyarakat untuk datang dan menghadiri ceramah-ceramahnya.. Berdirilah MUI Ketika Pemerintah menjajaki Majelis Ulama yang berperan sebagai jembatan antara kepentingan Pemerinrtah dan umat Islam, maka di gelarlah musyawarah ulama. Atas keputusan berbagai utusan ormas Islam daerah termasuk ulama dari empat angkatan yang hadir, pada 26 Juli 1975 berdirilah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Melihat sosok yang tepat , pandai, berilmu, berpengalaman dan kepiawaiannya dalam berdakwah, maka di tunjuklah Buya HAMKA sebagai ketua umum. Namun banyak kalangan menilai bahwa jabatan itu sebagai “jebakan” penguasa”. Tapi HAMKA sadar, betapa sulitnya berhadapan dengan penguasa, karena itu untuk menjaga netralitasnya beliau “Menolak mendapatkan gaji” dari jabatannya Ketua dan memilih berkantor di Al Azhar. Jika HAMKA rukun dengan Soeharto, maka tidak dengan umat Islam. Pasca fusi suasana umat Islam dengan Soeharta dan underboundnya semakin hari kian tegang. Untuk meredakan suasana ini, Pemerintahpun gencar berkampanye tentang kerukunan hidup beragama. Namun ketika Pemerintah mencanangkan program toleransi bertajuk “Acara Natal bersama dengan mengundang pejabat dan umat Islam”, gemparlah umat Islam di Indonesia. Masyarakat bingung, batasan tentang toleransipun menjadi pertanyaan yang sulit di cari jawabannya. HAMKA angkat bicara. Pada bulan April 1981 dengan Komisi Fatwa MUInya dengan tegas mengeluarkan larangan untuk mengikuti acara natal bersama dan haram hukumnya bagi umat Islam. Beliau menegaskan “Umat Islam tak boleh mencampur adukkan akidah dan peribadatan dengan akidah dan peribadatan agama lain”. Pemerintahpun marah !. Menteri agama Alamsyah Ratu Prawiranegara balik menyerang. Ia menilai, fatwa tidak utuh hanya memandang segi akidah semata tanpa melihat persoalan lain. Pemerintahpun berusaha menekan untuk mencabut fatwa karena merusak kerukunan beragama yang sedang di rintis. Namun apa kata Buya, “Hukum tetap hukum, tak bisa di tawar-tawar lagi dan tak ada yang sanggup menghapus fatwanya kecuali Allah. Dengan bersikap independen, Beliau memberi contoh, fatwa MUI tidak boleh dicampuri urusan politik dan pemerintahan. Karena tekanan pemerintah makin kuat, akhirnya pada 21 Mei 1981 HAMKA meletakkan jabatan sebagai ketua umum MUI. Mundurnya Beliau sangat disayangkan oleh banyak kalangan karena akan mempertajam pertikaian antara umat dan Pemerintah. Upaya islahpun di lakukan. Beberapa orang utusan, diantaranya Kadisbintal AD, Tarmizdi Taher menemuinya. Buya tetap pada pendiriannya, baginya, “Ulama tidak bisa di beli, tidak bisa dibelut dengan awan dan kekuasaan. Pancasila sebagai dasar negara tapi bukanlah meletakkan agama dibawah Pancasila”. Sejak mundur dari jabatan ketua MUI, HAMKA mulai jatuh sakit, dan pada 24 Juli 1981, ulama dan sastrawan besar itu wafat di usia 73 tahun. Kaum muslim baik di Idonesia hingga ke Malaysia, Thailand dan sekitarnya merasa kehilangan. Ribuan warga berta’ziah, begitu juga Alamsyah yang belum sempat islakh. HAMKA meninggal dunia memegang teguh prinsip keyakinannya. Keteguhan hatinya membentang melewati aneka jaman, menyibak beragam wajah kekuasaan memberi banyak pelajaran. Selamat jalan Ulama dan Sastrawanku. |
Tampilkan postingan dengan label KIOS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIOS. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 Mei 2008
Buya HAMKA (Bagian 2)
Senin, 03 Maret 2008
Sheikh Ahmed Ismail Yassin, Kesatria Hammas Penakluk Zionis
Sosok dan penampilannya tidak ada yang istimewa. Kedua matanya ubat, bahkan untuk berjalanpun harus dibantu kursi roda. Namun semangat perjuangannya sungguh luar biasa, sampai Israel dan Amerika dibuat tekuk lutut.
Palestina. Jika menyebut nama itu pikiran kita tertuju pada milisi, bom, pertempuran dan sejenisnya. Yah..,! dibumi Kana’an inilah saudara muslim kita tak pernah berhenti mengobarkan api jihad melawan Yahudi dibawah bendera zionis Israel.
Dari situlah seorang putra Palestina kelahiran 1 Januari 1938 didesa Al Jaruan, selatan Jalur Gaza, Sheikh Ahmed Ismail Yassin, hatinya terpanggil, bangkit dan merasa bertanggung jawab atas keselamatan Islam dengan Masjidil Aqsha dari kuku zionis. Ledakan bom dan mesiu sudah terbiasa, karena sejak kecil hidupnya dihabiskan di kamp pengungsian Ashkelon, Israel. Ia tahu betul bagaimana kekejaman zionis terhadap bangsanya sehingga dirinya punya satu tekad, “Hancurkan Yahudi !. Rebut Yerussalem !. Selamatkan Al-Aqsa dan berdiri tegak negara Islam Palestina !”.
Menyusun Kekuatan di Mesir
Perjalanannya dimulai sejak berhenti dari Universitas Ain Syams, Padah. Meski diatas kursi roda akibat kecelakaan saat berolah raga dimasa mudanya. Beliau hijrah ke Mesir untuk mencari dukungan. Dengan cara berdakwah, mengajar, berkhotbah dimasjid-masjid, Yassin menggagas Majma’ Islami (persatuan Islam), tekad dan perjuangannya mulai kian membara, khotbah - khotbahnya selalu memberi semangat jihad untuk melawan pendudukan rejim Zionis. Namun rupanya Yahudi telah mencium rencananya, dan pada tahun 1983 beliau ditangkap, dijebloskan kepenjara selama 13 tahun dengan tuduhan membahayakan pemerintah Israel. Karena kepandaiannya berdiplomasi akhirnya baru sepuluh bulan dirinya bebas.
Mendirikan Hamas
Perjuangannya semakin berkobar dengan mendirikan Al Mujahidun Al Filastiniyun (Gerakan jihad Palestina). Pendukungnya kian tahun semakin bertambah hingga pada tahun 1987 bersama Mahmoud al-Zahar, Abdel Aziz al-Rantissi dan Khaled Meshal beliau mendirikan gerakan perlawanan muslim untuk melawan Israel di Palestina bernama Hamas (Harakat al-Muqawama al-Islamiyya). Berbagai perlawanan gerilyawan Hamas yang berupa teror bom, serangan frontal secara tiba-tiba, penghancuran kamp-kamp militer yang ditujukan pada pendudukan Israel semakin gencar dan menjadi-jadi hingga orang-orang Yahudi sendiri merasa ngeri dan mundur. Namun lagi-lagi...kroninya Amerika dan sekutunya memberi dukungan penuh sehingga ketua Hamas tersebut kembali tertangkap dan dihukum seumur hidup plus 15 tahun karena dituduh mendirikan Hamas. Siksaan yang berat diluar batas kemanusiaan membuat dirinya semakin lemah yang akhirnya kedua matanya buta hingga masuk rumah sakit penjara. Namun pada 1 Oktober 1997 atas kehendak Allah, Mujahidin Palestian itu akhirnya bebas meski harus melalui diplomasi pertukaran tawanan.
“Fatah Menjegal”
Meski diatas kursi roda dan kedua mata yang buta, beliau terus memimpin Hamas yang semakin solid membuat Israel dan kelompok Fatah, (partai “boneka” dukungan zionis-Amerika) ketakutan. Gelombang perlawanan Rakyat Palestinapun pecah kembali. Tanpa mengenal takut mereka melancarkan Intifadah Aqsa (perlawanan frontal dengan bersenjatakan apa saja) dengan satu tekad dan ikatan kuat rakyat Palestina terhadap tempat-tempat suci, khususnya kiblat pertama Muslimin Mesjid Aqsa, masjid-masjid mereka, dan salah satu titik pusat Haram asy-Syarif, dari penghancuran zionis Israel. Kepada dunia Beliau pernah berkata “Tidak malukah Negara-negara Islam membiarkan penjajahan zionis dan sekutunya. Jangan memandang kami dengan pandangan yang mampu mengusap air mata kami dan meringankan beban kami. Apa yang kamu telah sumbangkan untuk agama Allah ?
Gugur Sebagai Syuhada
Ketika Israel “lari” dan bendera jihad Hamas berkibar tinggi, Allah menghendaki lain. Senin dini hari tanggal 22 Maret 2004 saat sholat Subuh di masjid Akademi Islam, tiga buah roket Israel menghantam dirinya, dan mujahid penakluk zionis” gugur sebagai syuhada. Kaum muslim diseluruh dunia kehilangan Mujahid. Namun hikmah dibalik semua itu, dua tahun kemudian Hamas memenangkan Pemilua atas Fatah dan diakhir Januari lalu berhasil menjebol tembol pembatas antara Gaza dan Rafah serta menghalau tentara Israel, sehingga warga Gaza “terbebas”. (Imm).
Palestina. Jika menyebut nama itu pikiran kita tertuju pada milisi, bom, pertempuran dan sejenisnya. Yah..,! dibumi Kana’an inilah saudara muslim kita tak pernah berhenti mengobarkan api jihad melawan Yahudi dibawah bendera zionis Israel.
Dari situlah seorang putra Palestina kelahiran 1 Januari 1938 didesa Al Jaruan, selatan Jalur Gaza, Sheikh Ahmed Ismail Yassin, hatinya terpanggil, bangkit dan merasa bertanggung jawab atas keselamatan Islam dengan Masjidil Aqsha dari kuku zionis. Ledakan bom dan mesiu sudah terbiasa, karena sejak kecil hidupnya dihabiskan di kamp pengungsian Ashkelon, Israel. Ia tahu betul bagaimana kekejaman zionis terhadap bangsanya sehingga dirinya punya satu tekad, “Hancurkan Yahudi !. Rebut Yerussalem !. Selamatkan Al-Aqsa dan berdiri tegak negara Islam Palestina !”.
Menyusun Kekuatan di Mesir
Perjalanannya dimulai sejak berhenti dari Universitas Ain Syams, Padah. Meski diatas kursi roda akibat kecelakaan saat berolah raga dimasa mudanya. Beliau hijrah ke Mesir untuk mencari dukungan. Dengan cara berdakwah, mengajar, berkhotbah dimasjid-masjid, Yassin menggagas Majma’ Islami (persatuan Islam), tekad dan perjuangannya mulai kian membara, khotbah - khotbahnya selalu memberi semangat jihad untuk melawan pendudukan rejim Zionis. Namun rupanya Yahudi telah mencium rencananya, dan pada tahun 1983 beliau ditangkap, dijebloskan kepenjara selama 13 tahun dengan tuduhan membahayakan pemerintah Israel. Karena kepandaiannya berdiplomasi akhirnya baru sepuluh bulan dirinya bebas.
Mendirikan Hamas
Perjuangannya semakin berkobar dengan mendirikan Al Mujahidun Al Filastiniyun (Gerakan jihad Palestina). Pendukungnya kian tahun semakin bertambah hingga pada tahun 1987 bersama Mahmoud al-Zahar, Abdel Aziz al-Rantissi dan Khaled Meshal beliau mendirikan gerakan perlawanan muslim untuk melawan Israel di Palestina bernama Hamas (Harakat al-Muqawama al-Islamiyya). Berbagai perlawanan gerilyawan Hamas yang berupa teror bom, serangan frontal secara tiba-tiba, penghancuran kamp-kamp militer yang ditujukan pada pendudukan Israel semakin gencar dan menjadi-jadi hingga orang-orang Yahudi sendiri merasa ngeri dan mundur. Namun lagi-lagi...kroninya Amerika dan sekutunya memberi dukungan penuh sehingga ketua Hamas tersebut kembali tertangkap dan dihukum seumur hidup plus 15 tahun karena dituduh mendirikan Hamas. Siksaan yang berat diluar batas kemanusiaan membuat dirinya semakin lemah yang akhirnya kedua matanya buta hingga masuk rumah sakit penjara. Namun pada 1 Oktober 1997 atas kehendak Allah, Mujahidin Palestian itu akhirnya bebas meski harus melalui diplomasi pertukaran tawanan.
“Fatah Menjegal”
Meski diatas kursi roda dan kedua mata yang buta, beliau terus memimpin Hamas yang semakin solid membuat Israel dan kelompok Fatah, (partai “boneka” dukungan zionis-Amerika) ketakutan. Gelombang perlawanan Rakyat Palestinapun pecah kembali. Tanpa mengenal takut mereka melancarkan Intifadah Aqsa (perlawanan frontal dengan bersenjatakan apa saja) dengan satu tekad dan ikatan kuat rakyat Palestina terhadap tempat-tempat suci, khususnya kiblat pertama Muslimin Mesjid Aqsa, masjid-masjid mereka, dan salah satu titik pusat Haram asy-Syarif, dari penghancuran zionis Israel. Kepada dunia Beliau pernah berkata “Tidak malukah Negara-negara Islam membiarkan penjajahan zionis dan sekutunya. Jangan memandang kami dengan pandangan yang mampu mengusap air mata kami dan meringankan beban kami. Apa yang kamu telah sumbangkan untuk agama Allah ?
Gugur Sebagai Syuhada
Ketika Israel “lari” dan bendera jihad Hamas berkibar tinggi, Allah menghendaki lain. Senin dini hari tanggal 22 Maret 2004 saat sholat Subuh di masjid Akademi Islam, tiga buah roket Israel menghantam dirinya, dan mujahid penakluk zionis” gugur sebagai syuhada. Kaum muslim diseluruh dunia kehilangan Mujahid. Namun hikmah dibalik semua itu, dua tahun kemudian Hamas memenangkan Pemilua atas Fatah dan diakhir Januari lalu berhasil menjebol tembol pembatas antara Gaza dan Rafah serta menghalau tentara Israel, sehingga warga Gaza “terbebas”. (Imm).
Senin, 04 Februari 2008
H Mahrus Ali,
Setelah keluar dari masa lalunya yang penuh dengan lumpur kebid’ahan dan kesesatan, kini tantangannya adalah menyuarakan kebenaran di tengah-tengah hujatan para tokoh kyai, ulama bahkan mantan gurunya sendiri yang dulu ia hormati dan segani.
Pada awalnya beliau seorang santri yang rajin dan tekun dalam mengamalkan ilmu-ilmu agama. Pengagum Ustad Abdul Qodir Persis ini sangat taklid, apapun amalan yang diberikan gurunya selalu dijalankan baik mulai dari tasawuf, sholawat-sholawat hingga belajar jimat, kesaktian serta berbagai ilmu kanuragan yang dipercaya untuk sarana keselamatan. Bahkan di tempat pondok pesantrennya dikenal sebagai orang yang sakti, "dung-deng", disegani, dihormati dan ditakuti.
Mulai Sadar
Tujuh tahun di Pondok Langitan, Tuban Beliau selalu menjadi yang terbaik, khususnya pendalaman kitab Kuning. Karena kepandaian dan kecerdasannya itu, pada tahun 1977 dipepercaya oleh gurunya KH Abdullah Faqih untuk memimpin dan mengajar nahwu, sorof, Faraidl, hadist dan tafsir di Pondok pesantren Yapi, Bangil yang ternyata kini menjadi pusat aliran syiah di Indonesia (*Mantan Kyai NU Menggugat..red). Baginya menuntut ilmu tidak ada batasnya, sambil mengajar, beliau terus menggali dan menggali kajian Islam hingga akhirnya melanglang buana ke Mekkah. Selama tujuh tahun belajar di Jamaah Tahfidhil Qur’an, Mekkah Mahrus Ali mendalami hadis yang sanadnya terus bersambung dari guru keguru sampai Rasulullah SAW, ilmu fiqh, tafsir serta ilmu lainnya. Alhamdulillah ..Dari sanalah cahaya kebenaran mulai datang sehingga apa yang didapatkan selama ini sungguh-sungguh jauh melenceng dari yang disyariatkan Rasulullah SAW. Ia sadar, bahwa selama ini telah hanyut kedalam berbagai bentuk kesyirikan, khurafat dan bid’ah. Para ahli hadist yang dulunya ia benci karena dianggap ekstrim, keluar jalur, kini mulai dekat dihatinya, dan menjadikannya guru dan secepatnya Ia bertobat, bertauhid lurus, mau mencontoh perbuatan Nabi beserta sahabatnya.
Jihad di Tanah Air
Setiba di tanah air lembaran baru mulai dibuka, genderang jihad mulai ditabuh, kebenaran sudah saatnya disuarakan. Apa yang didapat dari sana ia syi’arkan lewat dunia tulis-menulis. Puluhan buku yang sudah diterbitkan, diantaran karya-karyanya yang menghebohkan dan menggemparkan adalah “Mantan Kyai NU Menggugat Sholawat Nariyah, Al-Fatih, Munjiyat, Thibbul Qulub. Isi buku ini menerangkan dengan jelas dan gamblang bahwa beberapa amalan yang selama ini diagung-agungkan oleh para ulama, kyai dan di pondok-pondok pesantren selama ini dipercaya mempunyai khasiat luar biasa tersebut, ternyata hampir seluruhnya berlumur dengan kalimat syirik dan kufur kepada Allah !. Beliau mengkaji dan memaparkan seluruhnya berdasar Al-Quran dan Al-Hadits, juga petuah-petuah ulama Saudi Arabia tentang berbagai kesyirikan yang banyak terjadi di tengah masyarakat seperti persembahan, rajah, jimat, “kutang Ontokusumo”, keris dan benda-benda sakti lainnya yang pernah ia koleksi dan dipercaya sebagai sarana keselamatanpun dinyatakan syirik...sesat !. Beliau menilai bahwa kaum muslim sekarang ini banyak yang meninggalkan, mengacuhkan ilmu serta pengetahuan Qur’an dan hadist, sehingga dengan mudahnya mereka terjebak dalam jurang kebid’ahan yang berujung kesyirikan. Harta, kesuksesan dunia digapai sementara pemahaman agama kian terbenam, bahkan setanpun dianggap bisa memberi perantara kepada Rabbnya.
Tantangan dari Para Kyai
Para ulama, kyai dan tokoh-tokoh NU Jawa Timurpun “merah” telinganya setelah membacanya. Mereka mengecam, mengucilkan, mencemooh bahkan menuding sesat, keluar dari ahlussunnah wal jamaah, kafir dan sebagainya. Namun semua itu Beliau tanggapi dengan sesuatu yang biasa, wajar dalam menegakkan kebenaran. Karena dulu Rasulullah SAW pun juga begitu perjuangannya, malah lebih hebat lagi tantangannya, diusir keluar dari Mekkah bahkan sampai mau dibunuh oleh kafir Quraisy.
Selamat berjuang menegakkan kebenaran, semoga muncul Mahrus Ali-Mahrus Ali lainnya yang mengikuti jejakmu...Amin.(mas Imam).
Bio Data :
H Mahrus Ali
Lahir 28 Desember 1957 di desa Sidomukti Giri, Gresik, Jawa Timur.
Pendidikan
- MI-NU Sidomukti (1970-1971), 7 tahun “nyantri” di Ponpes Langitan, Tuban
- Berguru Jamaah Tahfidhil Qur’an, Makkah dan para ulama Saudi Arabia
selama 7 tahun
Minggu, 23 Desember 2007
Ibnu Taimiyah, Ulama Besar, Pemikir dan Peneliti Hadist
….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya.
Meskipun diusia yang terbilang muda, beliau sudah mempunyai kelebihan dalam menguasai ilmu tafsir, Ushulluddin, hadits, fiqh, bahasa arab hafidz-Qur’an dan lainnya dengan sangat sempurna. Disisi lain, goresan tintanya yang indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam menyusun buku-buku, hingga bisa dikatakan kemampuannya melebihi para ulama zamannya. Kelebihan lain yang dimilikinya yaitu mudah menghafal dan sukar lupa, yang membuatnya hafal Al-qur’an serta piawai dalam memberikan fatwa dan ilmu-ilmunya secara jelas dan detail meski usianya masih 17 tahun.
Ulama Rendah Hati
Hal inilah yang membuat para Ulama di Damaskus sangat kaget.dan terkesima dengan kedatangannya dari Haran. Sehingga tidak heran jika beberapa ulama besar dari berbagai penjuru Syiria sengaja datang ke ibukota khusus untuk melihat kemampuan sibocah cerdas yang berhasil membuktikan, mengkaji dan menguraikan musnad-musnad sahih serta beberapa ilmu lainnya.sampai beberapa kali. Meski mendapat sanjungan dari sana-sini karena kepandaiannya sama sekali tidak membuatnya besar kepala. Beliau justru tetap bersikap rendah hati dan tidak pernah berhenti untuk mencari atau berguru berbagai cabang ilmu lainnya pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits dinegeri ini. Dari sinilah Ia memperoleh berbagai macam ilmu seperti ilmu hitung (matematika), khat (ilmu tulis menulis Arab), nahwu, serta ushul fiqih. Hampir tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu 'ushul sambil mengomentari para filusuf dengan memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari'ah. Ibnul Wardi yang mencapai ratusan judul. Karya-karya beliau yang terkenal adalah Majmu' Fatawa yang berisi masalah fatwa-fatwa dalam agama Islam
Ahli Hadist
Ilmu yang tidak dimiliki ulama lainnya pada saat itu adalah penguasaan Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, rijalul hadits (perawi hadits) untuk membedakan Fununul hadits (bermacam-macam hadis) sahih, cacat, dhaif maupun palsu. Disisi lain dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah atau dalil, ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir atau ahli tafsir.
RelaTerbuang Demi Akidah
Dalam mempertahankan akidah dan keyakinannya yang lurus, banyak pihak yang kagum. Namun demikian yang benci juga banyak, terutama ketika menolak keras paham wihdatul wujud yang diusung Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi, sehingga oleh penguasa Mesir, beliau ditangkap agar mau mencabut sikap kontranya terhadap paham akidah. Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah sehingga beliau dijebloskan dalam penjara. Begitu bebas, Ibnu Taimiyah bukannya kembali ke Damaskus tetapi memilih tinggal di Mesir yang banyak dihuni orang-orang yang memusuhinya untuk menegakkan akidah yang lurus dan benar dengan aktif mengajar, ceramah, dan membentuk majelis-majelis diberbagai lembaga. Dari sinilah kalangan ulama Mesir mulai terbuka matanya, bahwa ternyata Ibnu Taimiyah tidak sesat seperti mereka duga. Namun sayang, Raja Mesir Ruknuddin Bibrus Al-Jasynaker termakan fitnah dari penasehatnya yang berlawanan dengan Ibnu Taimiyah, hingga akhirnya ia dibuang ke Iskandariyyah pada bulan Shafar 709 karena alasan politik hingga akhirnya Beliau yang selalu didampingi oleh muridnya Ibnul Qayyim, wafat dalam penjara pada tanggal 20 DzulHijjah th. 728 H karena sakit (Imm)
Spot
Dari Haran Hingga Syiria
Pemikir dan ulama besar Abu al-Abbas Taqi al-Din Ahmad ibn Abd al-Salaam ibn Abdullah ibn Taymiya al-Harrani, lahir di Harran, Turki 22 Januari 1263 (10 Rabiul Awwal 661 H). Ayahnya seorang Syaikh, hakim, khatib Syihabuddin bin Taymiyyah membawanya ke Damaskus karena pada saat itu Dinasti Aabbasiyah jatuh ketangan Mongol..
Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal
Kemiskinan bukan halangan untuk menuntut ilmu, hingga menjadi seorang ulama besar, dan perawi hadist dengan sanadnya yang sahih. Keteguhan hatinya tak pernah luntur dalam membela kebenaran meski harus dibayar mahal dengan cambukan dan jeruji besi.
Ulama besar yang dilahirkan tanggal 20 Rabiul Awal 164 H. (781 M) di Marw atau Mary, Turkmenistan ini dibesarkan dari keluarga miskin yang hidup dalam kondisi pas-pasan. Meskipun demikian, semangatnya dalam menuntut ilmu tak pernah surut. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari, Beliau terpaksa melakukan berbagai pekerjaan seperti tukang jahit, jasa penulisan, menenun kain dan kadangkala mengambil upah mengangkat barang-barang orang.
Justru dari kesederhanannya itulah beliau sangat tekun mempelajari hadits sejak kecil. Ketika masih berumur 14 tahun, Ahmad bin Hambal telah belajar mengarang dan menghafal Al-Quran, bekerja keras dalam menuntut ilmu pengetahuan hingga keberbagai negara seperti Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya yang akhirnya berhasil menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh, dan zuhud serta Imam keempat dari fuqahak Islam. yang memiliki sifat-sifat yang luhur, dan tinggi
Kepandaian Imam hambali dalam ilmu hadis tak diragukan lagi, karena daya ingatnya dalam menghafal sangat luar biasa, hingga 12 buah kitab serta ratusan ribu hadis hafal di luar kepala. Hadis sebanyak itu kemudian diseleksinya secara ketat dan ditulis kembali dalam kitabnya Al Musnad berjumlah 40.000 hadis berdasarkan susunan nama nama sahabat yang meriwayatkan. Dengan kemampuan dan kepandaiannya, telah mengundang banyak tokoh ulama yang datang untuk berguru kepadanya hingga melahirkan banyak ulama, serta pewaris hadis terkenal seperti Imam bukhari, Imam Muslim dan Imam Abu Daud. Meskipun telah melahirkan ahli-ahli hadist, ia masih yang termasuk sebaik-baik peneliti hadist dengan karya besarnya, al-Musnad al-Kabir yang berisi lebih dari 25.000 hadits. Dalam menulis kitabnya, ia tidak pernah memasukkan referensi selain yang dibutuhkan sebagai hujjah.. Karya-karya lainnya yang tidak kalah terkenal, seperti kajian lebih dari 40 ribu hadits, Kitab ash-Shalat, as-Sunnah, at-Tafsir, an-Nasikh wa al-Mansukh, at-Tarikh, Hadits Syu'bah, al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an, al-'Ilal, al-Manasik dan masih banyak lagi.
Ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan hukum dan fatwa dalam mazhab hambali yaitu :
- Al Quran dan Sunnah, jika ada nashnya dalam Al Quran dan hadis maka tidak berpaling pada sumber lainnya
- Fatwa Sahabat yang terkenal dan tak ada yang menentangnya
- Sekiranya para sahabt berbeda pendapat, maka beliau akan memilih pendapat yang dinilainya lebih sesuai dan mendekati Al Quran dan Sunnah, namun jika perbedaan pendapat tersebut tidak ada kesesuaiannya dengan Al Quran maupun Sunnah maka beliau mengambil sikap diam atau meriwayatkan kedua duanya
- Mengambil hadis Mursal (sanadnya tidak disebutkan perawinya) dan hadis Dhaif (lemah), dalam hal ini hadis dhaif lebih didahulukan dari pada Qiyas
- Qiyas, digunakan bila tidak ditemukan dasar hukumnya dari keempat sumber di atas.
Sebagai seorang ulama yang sangat banyak ilmunya, Ibnu Hambal pun seorang yang teguh imannya, berani berbuat di atas kebenaran. Salah satu contohnya ketika pada masa pemerintahan Sultan Al-Makmun. Beliau menentang keras faham muktazilah yang menyatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk meski harus menerima resiko hukuman dan siksaan yang hebat. Ketika Al-Mutawakkil memegang tampuk pemerintahan, dicabutlah faham muktazilah dan membebaskan semua ulama yang ditahan karena menentang. Imam Ahmad bin hambalpun akhirnya iktu dibebaskan, sebagai imbalan ganti rugi diberi hadiah sebanyak l0,000 dirham, namun hadiah tersebut beliau tolak. Kerana dipaksa untuk menerimanya, akhirnya beliau terima dan dibahagi-bahagikan kepada fakir miskin.
Pada hari Jumaat tanggal 12 Rabiul Awal tahun 241 H/855 M beliau meninggal dunia di usia 77 tahun. Mendengar wafatnya Imam Hambali, seluruh kaum muslim di Baghdad kehilangan ulama besar penegak kebenaran dan meninggikan ilmu pengetahuan yang pernah disiksa dan dianiaya.(mas Imm).
Ulama besar yang dilahirkan tanggal 20 Rabiul Awal 164 H. (781 M) di Marw atau Mary, Turkmenistan ini dibesarkan dari keluarga miskin yang hidup dalam kondisi pas-pasan. Meskipun demikian, semangatnya dalam menuntut ilmu tak pernah surut. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari, Beliau terpaksa melakukan berbagai pekerjaan seperti tukang jahit, jasa penulisan, menenun kain dan kadangkala mengambil upah mengangkat barang-barang orang.
Justru dari kesederhanannya itulah beliau sangat tekun mempelajari hadits sejak kecil. Ketika masih berumur 14 tahun, Ahmad bin Hambal telah belajar mengarang dan menghafal Al-Quran, bekerja keras dalam menuntut ilmu pengetahuan hingga keberbagai negara seperti Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya yang akhirnya berhasil menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh, dan zuhud serta Imam keempat dari fuqahak Islam. yang memiliki sifat-sifat yang luhur, dan tinggi
Kepandaian Imam hambali dalam ilmu hadis tak diragukan lagi, karena daya ingatnya dalam menghafal sangat luar biasa, hingga 12 buah kitab serta ratusan ribu hadis hafal di luar kepala. Hadis sebanyak itu kemudian diseleksinya secara ketat dan ditulis kembali dalam kitabnya Al Musnad berjumlah 40.000 hadis berdasarkan susunan nama nama sahabat yang meriwayatkan. Dengan kemampuan dan kepandaiannya, telah mengundang banyak tokoh ulama yang datang untuk berguru kepadanya hingga melahirkan banyak ulama, serta pewaris hadis terkenal seperti Imam bukhari, Imam Muslim dan Imam Abu Daud. Meskipun telah melahirkan ahli-ahli hadist, ia masih yang termasuk sebaik-baik peneliti hadist dengan karya besarnya, al-Musnad al-Kabir yang berisi lebih dari 25.000 hadits. Dalam menulis kitabnya, ia tidak pernah memasukkan referensi selain yang dibutuhkan sebagai hujjah.. Karya-karya lainnya yang tidak kalah terkenal, seperti kajian lebih dari 40 ribu hadits, Kitab ash-Shalat, as-Sunnah, at-Tafsir, an-Nasikh wa al-Mansukh, at-Tarikh, Hadits Syu'bah, al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an, al-'Ilal, al-Manasik dan masih banyak lagi.
Ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan hukum dan fatwa dalam mazhab hambali yaitu :
- Al Quran dan Sunnah, jika ada nashnya dalam Al Quran dan hadis maka tidak berpaling pada sumber lainnya
- Fatwa Sahabat yang terkenal dan tak ada yang menentangnya
- Sekiranya para sahabt berbeda pendapat, maka beliau akan memilih pendapat yang dinilainya lebih sesuai dan mendekati Al Quran dan Sunnah, namun jika perbedaan pendapat tersebut tidak ada kesesuaiannya dengan Al Quran maupun Sunnah maka beliau mengambil sikap diam atau meriwayatkan kedua duanya
- Mengambil hadis Mursal (sanadnya tidak disebutkan perawinya) dan hadis Dhaif (lemah), dalam hal ini hadis dhaif lebih didahulukan dari pada Qiyas
- Qiyas, digunakan bila tidak ditemukan dasar hukumnya dari keempat sumber di atas.
Sebagai seorang ulama yang sangat banyak ilmunya, Ibnu Hambal pun seorang yang teguh imannya, berani berbuat di atas kebenaran. Salah satu contohnya ketika pada masa pemerintahan Sultan Al-Makmun. Beliau menentang keras faham muktazilah yang menyatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk meski harus menerima resiko hukuman dan siksaan yang hebat. Ketika Al-Mutawakkil memegang tampuk pemerintahan, dicabutlah faham muktazilah dan membebaskan semua ulama yang ditahan karena menentang. Imam Ahmad bin hambalpun akhirnya iktu dibebaskan, sebagai imbalan ganti rugi diberi hadiah sebanyak l0,000 dirham, namun hadiah tersebut beliau tolak. Kerana dipaksa untuk menerimanya, akhirnya beliau terima dan dibahagi-bahagikan kepada fakir miskin.
Pada hari Jumaat tanggal 12 Rabiul Awal tahun 241 H/855 M beliau meninggal dunia di usia 77 tahun. Mendengar wafatnya Imam Hambali, seluruh kaum muslim di Baghdad kehilangan ulama besar penegak kebenaran dan meninggikan ilmu pengetahuan yang pernah disiksa dan dianiaya.(mas Imm).
Langganan:
Postingan (Atom)